Penelitian Surat dan Riwayat mengenai Ahlulbait as

Dialog Wahabi dan Syiah

(Penelitian Surat dan Riwayat mengenai Ahlulbait as)

 

Wahabi:

 

Siapakah Ahlul-Bait?

Secara bahasa ahlul-bait artinya penghuni rumah. Jika yang dimaksud adalah rumah Nabi saw, maka tentu yang dimaksud adalah keluarga Nabi saw. Dalam konteks madzhab Ahlul-Bait mereka kemudian membatasi Fathimah, ‘Ali ibn Abi Thalib, Hasan dan Husain beserta keturunan mereka sebagai ahlul-bait yang mendapatkan jaminan ‘ishmah (kesucian) berdasarkan QS. Al-Ahzab [33] : 33.

Pendapat ini jelas ditentang oleh para ‘ulama jumhur yang berpegang pada al-Qur`an dan sunnah. Penentangan mereka didasarkan pada beberapa hujjah sebagai berikut:

Pertama, sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Katsir, ayat di atas tidak bisa dilepaskan dari rangkaian ayat secara keseluruhan demikian juga asbabun-nuzul-nya yang secara menyeluruh juga. Adalah jelas bahwa ayat di atas pada dasarnya ditujukan kepada istri-istri Nabi saw. Lihat misalnya dari mulai ayat 32: Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Kemudian bersambung pada ayat 33: Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

“Kerancuan” dlamir (kata ganti) memang kemudian terlihat pada lafazh ayat li yudzhiba ‘ankum (kata ganti untuk kalian laki-laki dan perempuan). Padahal normalnya, kalau berbicara istri-istri Nabi saw secara khusus dlamirnya li yudzhiba ‘ankunna (kata ganti untuk kalian perempuan). Kalau dlamirnya ‘ankum maka otomatis yang dimaksud ahlul-bait Nabi saw tidak hanya istri-istri Nabi saw, dan di sanalah kemudian hadits menjelaskan bahwa memang ternyata Fathimah, ‘Ali ibn Abi Thalib, Hasan dan Husain juga termasuk dalam cakupan ahlul-bait tersebut. Jadi salah kalau kemudian disimpulkan bahwa ahlul-bait itu adalah Fathimah, ‘Ali ibn Abi Thalib, Hasan dan Husain saja. Yang benar keluarga Fathimah juga istri-istri Nabi saw yang lainnya. Para mufassir generasi pertama, seperti Ibn ‘Abbas dan ‘Ikrimah menyatakan bahwa ayat ini jelas ditujukan pula untuk istri-istri Nabi saw.

Terlebih hadits lain juga menyebutkan dengan jelas bahwa yang dimaksud ahlul-bait itu adalah keluarga Nabi saw secara keseluruhan.

ZEN MENJAWAB:

Asslamualaikum wr.wb,

Dalam hal ini , sebaiknya anda pak syarif tidak mengklaim dengan ulama Jumhur seperti metode Ibn taimiah yang permainannya suka mengklaim dengan kata Jumhur padahal dirinya sendiri yang melakukannya, justru para ulama dan mufassir suni (jumhur) menerima pengkhususan ayat Al-Ahzab 33 itu untuk lima orang tidak lebih (ahli Kisa), yang akan diuraikan setelah ini. Yang kedua ayat tersebut tidaklah rancu, bagaimana Alquran rancu, Alquran memiliki keindahan bahasa yang tak bisa dibandingkan bahkan tak bisa disifati dengan ‘’rancu’’ seperti yang anda anggap, kecuali kalau anda tidak paham jumlah mu’taridhah, yang disisipkan diantara satu tema. Ini bukti keindahan Alquran.

Tulisan anda ini sudah saya tebak dikutip dari buku karangan duktur sulus.

Untuk menjawab hal ini saya bagi dalam beberapa bagian :

1. Mari kita lihat ayat tersebut

وَ قَرْنَ في‏ بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجاهِلِيَّةِ الْأُولى‏ وَ أَقِمْنَ الصَّلاةَ وَ آتينَ الزَّكاةَ وَ أَطِعْنَ اللهَ وَ رَسُولَهُ إِنَّما يُريدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهيراً

(Al Ahzab ayat 33)

Mari kita lihat dari sisi sastra arabnya (kalau memang anda jurusan sastra arab) , balaghah dan ulumul qurannya  dulu (kalau anda pernah baca tafsir quran) sebelum kita lihat ke pembahasan riwayat:

a. Di dalam Alquran tidak musti mukhatab ( yang diajak bicara) itu harus sama dalam satu ayat, bahkan dhamirnya juga bisa berbeda walau dalam satu ayat dan ini bukanlah suatu hal yang asing bagi orang yang menggeluti masalah tafsir quran, contoh kecilnya dalam ayat lain :

Surat Yusuf 28-29

فَلَمَّا رَأى‏ قَميصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظيمٌ

Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang, ia berkata, “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu (kaum wanita), sesungguhnya tipu dayamu adalah besar.

يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هذا وَ اسْتَغْفِري لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخاطِئينَ

Hai Yusuf, berpalinglah dari ini, dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.”

Lihatlah bahwa ayat ke 29 yang diajak bicara (mukhatab) nya berbeda dalam satu ayat, yang pertama” hai Yusuf”,” yang kedua dan’’ kamu hai istriku mohon ampunlah”

Hal inipun terjadi dalam ayat Alahzab 33, dengan sangat jelas baris pertama dengan dhamir “kunna” atau untuk wanita banyak dan yang kedua “kum” untuk jamak laki2, dua kata ganti ini menunjukkan khitab dan tema yang berbeda, yang pertama untuk istri nabi yang kedua untuk Ahlulbait nabi.

2. Di dalam Ulumul Quran, Alquran tidak disusun berdasarkan urutan turun ayat, tertibnya ayat tidak berdasarkan tartib ayat atau surat, bahkan di dalam quran ada ayat yang didahulukan dari ayat lainnya padahal lebih akhir turunnya,  ada juga ayat madaniah yang dimaksukkan kedalam ayat makkiah begitu juga sebaliknya.

Yang kedua masalah albait yang dihubungkan dengan dhamir:

Seperti yang kita ketahui bahwa Istri rasulullah memiliki rumah masing2, jadi kalau diinginkan istri2 nabi juga masuk didalamnya maka sebaiknya dhamir menggunakan kunna. Atau minimal kalimat ‘’bait’’ nya jadi jamak  (buyut) seperti :

اهل البيوت seperti di dalam baris sebelumnya untuk istri2 nabi في بيوتكنّ

Tetapi di dalam alquran mufrad (ahlilbait) , jadi hal ini tidak bisa ditunjukkan kepada istri2 nabi yang jamak.

3. kata انما  merupakan alamat untuk hasr ( pengkhususan) , sehingga sesuai dengan  isi dari redaksi hadits yang mengkhususkan kepada lima orang.

4.  Pada baris pertama

وَ قَرْنَ في‏ بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجاهِلِيَّةِ الْأُولى‏ وَ أَقِمْنَ الصَّلاةَ وَ آتينَ الزَّكاةَ وَ أَطِعْنَ اللهَ وَ رَسُولَهُ

dan hendaklah kamu menetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan rasul-Nya

Yang dimana kata gantinya untuk perempuan banyak yakni untuk para istri2 nabi yang isinya adalah peringatan dan larangan , artinya jangan bersolek seperti solekan jahiliah.

Sedangkan baris kedua adalah untuk pengitsbatan, pujian, bukan peringatan, dan kedua maksud ini tidak bisa secara bahasa untuk mukhatab yang sama.

إِنَّما يُريدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهيرا

Sesungguhnya Allah beriradah hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan menyucikan kamu sesuci-sucinya.

Dari kedua tema dan mukhatabnya juga secara dhahir terlihat beda, tanpa kita melihat riwayat yang ada, sehingga dengan bantuan hal tersebut diatas tidak selalu dalam satu ayat satu tema dan satu mukhatab.

5. الاهل  Al-Ahl, didalam alquran digunakan untuk makna keluarga, istri, kerabat, pemilik, penghuni menurut ahli lughah seperti ibn mandzur  (lisan arab 11/38) al-ahl bukanlah makna aslinya istri, oleh sebab itu perlu adanya qarinah (keterangan penyerta untuk menjadi makna istri).

6. البيت  Al-Bait , alif lam dalam hal ini adalah alif lam ta’rif  ma’hud, artinya sesuatu yang sudah makruf pada saat itu (atau sudah ditunjukkan) bukan sembarang Al-Bait. Jadi bukanlah sesuatu yang samar yang tidak diketahui oleh sahabat pada saat itu. Atau sesuatu yang jelas antara pembicara dan yang diajak bicara pada saat itu.

yang kedua kalau kita memahami ahlulbait maka bisa kita bagi dalam beberapa makna:

a. makna umum yang ada dalam lughat yang artinya penghuni rumah atau keluarga, makna ini secara bahasa saja meliputi seluruh anggota yang ada dirumah. Bait (rumah) disini ditafsirkan dengan sebuah bangunan dari kayu atau batu dll.

b. makna fiqih, artinya ahlulbait ini digunakan untuk kerabat nabi sampai keturunannya, yang tidak terlepas dari kelima orang (ahlul kisa) tetapi meliputi keluarga bani hasyim, bani aqil, abbas, istri-istri nabi  yang dijelaskan dalam beberapa riwayat mengenai zakat, khumus dan lain-lain

b. makna khusus yang  ada di dalam surat al-ahzab 33 dimana ahlulbait ini bermakna anggota-anggota khusus yang disebutkan orang-orangnya secara khusus, dengan bebagai alamat dan qarinah (keterangan penyerta ) yang menyertainya, seperti alamat hasr (pengkhususan), alif lam , dan bentuk kalimat di dalam alquran yang lebih penting lagi dari keterangan riwayat yang menerangkannya. Dalam hal ini bait disini tidak dimaknai dengan makna rumah, tetapi makna ruhi atau maknawi, atau makna dari hasil tarkib (penggabungan) dari ahlulbait, yaitu kepada lima anggota tadi atau ahli kisa.

Makna umum dan khusus ini juga terdapat di dalam alquran seperti kata rasul dengan makna umum atadalah utusan, bisa untuk malaikat , utusan bisa juga untuk Muhammad saw.

Begitu juga makna ummah di dalam alquran , bisa bermakna jamaah masyarakat, bisa bermakna pengikut nabi, agama atau millah, zaman dll, oleh sebab itu untuk menunjukkan istilah terhadap makna masing2 masing diperlukan qarinah (keterangan penyerta), sehingga tidak bisa asal nempel sama kata ditempelkan kepada lainnya.

 

 

 

Di antaranya, ketika muncul fitnah selingkuh (haditsul-ifki) yang menimpa ‘Aisyah ra, Nabi saw dengan tegas menyatakan:

مَنْ يَعْذِرُنَا فِي رَجُلٍ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَوَاللهِ مَا عَلِمْتُ مِنْ أَهْلِي إِلَّا خَيْرًا وَلَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلًا مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا

Siapa yang bisa memberiku alasan kepada kami tentang seseorang yang beritanya telah sampai kepadaku bahwa dia telah melancarkan gangguan pada keluargaku. Demi Allah tidaklah aku ketahui keluargaku melainkan kebaikan semata, dan sungguh orang-orang telah menyebut seseorang laki-laki padahal aku tidak mengenal orang itu melainkan kebaikan“. (Shahih al-Bukhari kitab as-syahadat bab idza ‘addala rajulun ahadan faqala la na’lamu illa khairan no. 2637; Shahih Muslim kitab at-taubah bab fi haditsil-ifki wa qabul taubatil-qadzif no. 7196)

 

 

ZEN MENJAWAB:

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu makna ahlul bait adalah istri atau keluarga dengan makna umum, tetapi hal ini tidak bisa dijadikan dalil untuk surat al-ahzab ayat 33, karena surat alahzab 33 adalah istilah ayat quran yang dikhususkan untuk ahli kisa nabi. Tidak untuk lainnya dengan tanda dari alamat hasr ( innam), dhamir, alif lam, khitab, tema, serta riwayat yang menunjukkan khusus untuk lima.

 

 

 

Dalam sabda yang lain, Rasul saw pernah bersabda:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ r حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ} قَالَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا

Abu Hurairah berkata; Rasulullah saw berdiri ketika diturunkan kepadanya ayat: “Dan peringatkanlah keluargamu yang terdekat.” (QS. As-Syu’ara [26] : 214). Beliau bersabda: “Wahai orang-orang Quraisy, -atau ucapan yang serupa dengannya- belilah diri kalian dari Allah, saya tidak mampu menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Bani Abd Manaf, saya tidak mampu menolong kalian sedikitpun dari Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muththalib, saya tidak mampu menolong kamu sedikit pun dari Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah, saya tidak mampu menolong kamu sedikit pun dari Allah. Wahai Fathimah binti Muhammad mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan dari hartaku, saya tidak mampu menolong kamu sedikitpun dari Allah.” (Shahih al-Bukhari kitab tafsir al-Qur`an bab wa andzir ‘asyiratakal-aqrabin no. 4771)

 

 

ZEN MENJAWAB:

hal ini telah berbeda siyagh kata nya ‘asyirata aqrabin berbeda dengan ahlulbait dengan makna khusus tetapi sama dengan makna umum secara makna fiqih yang telah disebutkan diatas, dan yang dimaksud disini adalah asyirata aqrabin yang menunjukkan makna ‘keluarga’ dengan makna fiqhi.

Dan tidak ada hubungannya dengan pembahasn kita mengenai kata ahlulbait di dalam ayat alahzab 33. Jadi tidak bisa memegang makna umum kalau sudah ada keterangan khusus, seperti tidak bisa makna rasul dengan arti malaikat diterapkan untuk makna umum seluruh rasul, atau makna ummat dengan makna zaman untuk ummat dengan makna umum.

 

 

 

Ketiga, firman Allah swt: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya, juga tidak memproklamasikan kesucian dosa secara otomatis tanpa adanya prasyarat amal. Sebagai pembandingnya, simak firman-firman Allah swt sebagai berikut:

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Ma`idah [5] : 6)

Potongan ayat ini diletakkan Allah swt sesudah firman-Nya yang memerintahkan wudlu dan tayammum. Tentu yang dimaksud firman tersebut bukan berarti semua kaum muslimin otomatis “disucikan” oleh Allah swt, melainkan Allah swt akan menyucikan kaum muslimin yang berwudlu dan tayammum sebagaimana diperintahkannya.

Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan salihin) dan (hendak) menerima tobatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. An-Nisa` [4] : 26).

Ayat ini ditempatkan Allah swt sesudah firman-Nya yang mengatur tatacara pernikahan. Dengan aturan pernikahan yang dibuatkan-Nya itulah Allah swt hendak memberikan hidayah dan taubat kepada kaum muslimin. Jadi tidak otomatis begitu saja kaum muslimin mendapatkan hidayah dan taubat dari Allah swt.

Sekarang simak kembali ayat 33 surat al-Ahzab:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (QS. Al-Ahzab [33] : 33).

Maksudnya sangat jelas, Allah swt tidak otomatis begitu saja menyucikan ahlul-bait, melainkan Allah menyucikan mereka jika mereka tidak tabarruj, jika mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini berarti bahwa kesucian mereka itu terikat dengan syari’at yang mereka lakukan, sesuai sabda Nabi saw setelah turun firman Allah swt: wa andzir ‘asyiratakal-aqrabin; dan peringatkanlah keluargamu yang terdekat, sebagaimana telah ditulis di atas.

 

ZEN MENJAWAB :

1. Tafsir yang antum lakukan adalah tafsir birra’yu, tanpa landasan dan tanpa asas. Atau antum mungkin belum paham mengenai tartib turunnya ayat, seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa urutan ayat tidak selalu menunjukkan urutan tema atau dalam satu tema, tetapi antum harus melihat asbab annuzul dari sebuah ayat, maka dalam runutan ayat bisa berbeda masa dan waktunya jadi tidak dalam satu runutan tema. Jadi runutan ayat tidak melazimkan satu tema, satu zaman, satu pembahasan.

Salah satu dalilnya , yang telah disebutkan diatas, dan dalil khusus mengenai asbab annuzul ayat alahzab 33 untuk 5 orang.

2. Makna thahir disini bukanlah thahir dengan wasilah wudhu, tetapi makna thahir disini adalah maknanya suci dari perbuatan dosa. Dengan dalil.

a. ada hasr (innama)

b. ada kata iradah Tuhan dan iradah disini adalah takwiniah seperti dalam penciptaan alam, seperti di dalam surat annahl 40:

إِنَّما قَوْلُنا لِشَيْ‏ءٍ إِذا أَرَدْناهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

(Tidak sulit Kami membangkitkan kembali orang-orang yang telah mati, karena) apabila Kami menghendaki sesuatu, Kami hanya mengatakan kepadanya, “Kun (jadilah)”, maka jadilah ia.

Atau dalam surat yasin 82;

إِنَّما أَمْرُهُ إِذا أَرادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia.

Lihatlah kedua ayat tersebut menggunakan kata ‘innama’ dan ‘iradah’ menunjukkan iradah takwiniah

hal ini tidak ada hubungannya dengan thahir dengan wudhu , sebab perkara suci dengan wudhu bersebrangan dengan makna ayat yang menunjukkan iradah takwini Allah Swt.

c. الرجس Arrijsa bermakna adzunub (dosa),  alif lam disana untuk jinsi, bermakna segala yang berbau kekotoran jiwa dari dosa dll. Makna ini juga terdapat dalam ayat lain seperti ayat attaubah 125

وَ أَمَّا الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَ ماتُوا وَ هُمْ كافِرُونَ

Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat penyakit, maka surah itu mentambah kekotoran mereka, di samping kekotoran mereka (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.

d. fi’il dari idzhab dan yuthahhirakum, tidak diqaidkan (ditambahkan) dengan keterangan menghilangkan rijsa  karena wudhu, atau membersihkan dari tidak berwudhu, justru disini bersifat multak tidak diqaidkan.

e. Tathhira adalah maf’ul mutlak mashdar, berfungsi sebagai penegas kesuciannya dengan mashdarnya. tak ada faedahnya hal  penegasan dengan bab wudhu. Penegasan ini untuk bab kesucian dari dosa atau pensucian pada hal maknawiah.

f. Iradah kalau diinginkan tasyriiyyah berarti dengan taklif misalnya dengan wudhu maka tak ada gunanya alamat innama (pengkhususan), arrijsa dengan tanpa qaid untuk najis dhahiri, dan fiil tanpa qaid untuk taklifi, sebab kalau bermakna taklifi (tasyri’i), maka arrijsa disini harus diqaidkan dengan permasalahan taklifiah atau najis dhahiri.  Tetapi kenyataannya justru arrijsa disini dikaitkan dengan alamat pengkhususan (innama) dan (iradah) yang dimana menunjukkan takwiniah bukan taklifiah. Dan alamat pengkhususan (innama) dan (iradah) tidak sesuai dengan permasalahan tasyri’iyyah atau taklifiah, sebab taklifiah menunjukkan peran serta mukallaf dalam proses perwujudan sesuatu dan hal ini tidak sesuai dengan innama (hanya) dari iradah Tuhan. Lalu apakah Imam Ali tidak ada ikhtiar untuk maksum, jawabannya adalah ada, sebab perkara takwini tidak menafikan proses ikhtiar. Artinya amalan/ikhtiar ahlulbait selalu ada dalam kesucian dengan takwiniNya.  Contoh misalnya kun fayakun Allah dalam menciptakan manusia tapi , dilain hal ada ikhtiar manusia dalam prosesnya. Begitu pula kemaksuman para nabi.

___________________________________________________________________________

 

Pertama, dalam hadits riwayat Muslim Nabi saw hanya udzakkirukum; mengingatkan kaum muslimin untuk senantiasa memperhatikan keluarganya, yang kemudian dijelaskan oleh Zaid ibn Arqam bahwa mereka adalah istri-istri Nabi saw, keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas. Berbeda dengan ketika Rasul saw menyebutkan al-Qur`an, beliau langsung menjelaskan secara panjang lebar kemutlakan kebenarannya. Sementara ketika menyebut ahlul-bait, Nabi saw hanya sebatas mewanti-wanti untuk diperhatikan saja.

Dalam hadits riwayat Ahmad, Syu’aib al-Arnauth memberikan penilaian bahwa sabda Nabi saw: keduanya tidak akan berpisah sampai bertemu di haudl (telaga surga), itu adalah tambahan dla’if, dan bukan sabda Nabi saw. Sabda Nabi saw yang bisa diterimanya hanya sampai kitab dan ahlul-bait. Tetapi dalam hadits ini juga Rasul saw sudah dengan tegas menyebutkan bahwa al-Qur`an kedudukannya jelas jauh lebih tinggi daripada ahlul-bait. Itu artinya kedudukan ahlul-bait harus diabaikan jika pada faktanya bertentangan dengan al-Qur`an.

 

 

 

ZEN MENJAWAB:

 

Hal ini sudah dijawab diatas, bahwa tidak ada sangkut pautnya dengan istilah ahlulbait dalam ayat al-ahzab 33, karena hadits ini mengandung makna ahlulbait dengan makna umum., dan tidak sah hukumnya mengambil makna umum dengan ada keterangan khusus.

 

 

 

Kedua, Ahlul-Bait sepajang sejarahnya adalah orang-orang yang konsisten menegakkan ajaran al-Qur`an dan sunnah. Mereka sangat mengharamkan bid’ah, syirik, ma’shiyat, dan perbuatan lainnya yang menyimpang dari al-Qur`an dan sunnah. Itu artinya bahwa ahlul-bait juga mengakui kedudukan al-Qur`an dan sunnah sebagai sumber pokok ajaran Islam.

Ketiga, peringatan Nabi saw untuk selalu memperhatikan ahlul-bait penekanannya sama dengan penekanan Nabi saw akan keutamaan para shahabat lainnya, khususnya Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman. Tetapi itu semua tidak berarti bahwa ahlul-bait mempunyai kesucian yang lebih tinggi daripada para shahabat yang juga sudah diistimewakan Rasul saw (bisa dirujuk pada bab “keutamaan shahabat” yang ada dalam kitab-kitab hadits). Penyebutan mereka semua mengindikasikan sebuah pedoman agar perilaku dan sikap dari generasi awal Islam (salafus-shalih) dijadikan rujukan pembantu sesudah al-Qur`an dan Sunnah.……..

 

ZEN MENJAWAB :

Perselisihan atau tidaknya bukanlah parameter benar atau tidaknya, bahkan dikalangan yang tidak meyakini ahlulbait sebagai rujukan dan kalangan suni juga banyak terjadi perselisihan bahkan pembunuhan bahkan pengkafiran di dalam sejarah antara mazhab yang lima terutama wahabi dan lainnya, bahkan khusus untuk wahabi memiliki sejarah yang kelam dalam pembantaian umat sesama islam bahkan sesama pengiktut khalifah pertama (suni).

Yang kedua merupakan suatu fitnah bahwa syiah mengkafirkan golongan lainnya, Syiah punya asas dan fatwa yang tidak mengkafirkan golongan suni bahkan wahabi sekalipun, berbeda halnya permasalahan khawarij dan nashibi yang memiliki fatwa khusus bagi mereka.

Tidak ada dalil baik itu dalam alquran maupun riwayat yang wajib mengikuti seluruh para sahabat dan orang salaf (terdahulu)  ini adalah keyakinan thaifah tanpa dalil alquran dan riwayat.

Masalah klaim mengklaim Ahlulbait , antara golongan habaib dan bukan, ini tidak menjadi ukuran, sebab yang menjadi ukuran adalah nash quran dan riwayat. Justru disini semakim memperlihatkan bahwa kenyataannya adalah dalil kesucian ahlul bait itu telah kukuh dan kuat, dan kesucian ini tidak sesuai dengan para habaib , karena mereka bukanlah ahlulbait yang suci walaupun mereka ahlulbait dengan makna umum atau keturunan yang dibahas dalam bab fiqih, mengenai khumus, zakat dll. Tetapi para habaib bukanlah ahlulbait dengan makna khusus yang suci seperti yang disebutkan didalam Alquran dan riwayat.

Untuk masalah athiullah waathiurrasul waulilamri minkum bukanlah ditujukan untuk sahabat dan generasi selanjutnya tetapi khusus untuk amirulmukminin ali ibn abi Thalib as, insyaallah dibahas selanjutnya dalam bab khusus.

Selanjutnya pembahasan masalah subhat shalat malam…..

 

Wassalam

zen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: