Ibn Taimiah Memfitnah Ayat Tentang Khamar untuk Ali as

Ibn Taimiah Memfitnah Ayat Tentang Khamar untuk Ali as

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِى جَعْفَرٍ الرَّازِىِّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِىِّ عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ صَنَعَ لَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ طَعَامًا فَدَعَانَا وَسَقَانَا مِنَ الْخَمْرِ فَأَخَذَتِ الْخَمْرُ مِنَّا وَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَقَدَّمُونِى فَقَرَأْتُ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَنَحْنُ نَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَقْرَبُوا الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ )

Tirmidzi …

وفي إسناده عطاء بن السائب لا يعرف إلا من حديثه ، وقد قال يحيى بن معين لا يحتج بحديثه

Syaukani menuliskan : dalam isnadnya atha ibn as-saib tidak dikenal kecuali di hadits ini , yahya ibn muin berkata tidak membutukan haditsnya  (Nail alauthar jilid 9 hal 56)

وفي هذا الحديث فائدة كثيرة وهي ان الخوارج تنسب هذا السكر وهذه القراءة إلى أمير المؤمنين علي بن أبي طالب دون غيره وقد برأه الله منها فإنه راوي هذا الحديث

Hakim nisaburi dalam mustdaraknya jilid 2 hal 307 mengatakan :

Dalam hadits tersebut memiliki manfaat yang besar ( kita dapat mengetahui bahwa ) khawarij menisbatkan mabuk tersebut dan qiraat ini kepada amirilmukminin ali ibn abi thalib tanpa yang lainnya, Dan Allah membebaskan (hal tersebut) darinya (fitnah /qiraah tersebut) , sesungguhnya dia sendirilah (yang melakukan tersebut) yakni perawi hadits ini.

Tambahan kecacatan perawinya :

–         Abi Abdirrahman assalmi adalah musuh imam Ali

وأبو عبد الرحمن السلمي واسمه عبد الله بن حبيب … قال رجل لأبي عبد الرحمن أنشدك الله متى أبغضت عليا عليه السلام أليس حين قسم قسما بالكوفة فلم يعطك ولا أهل قال أما إذ نشدتني الله فنعم .

Abu Abdirrahman Assalmi dan namanya adalah Abdullah ibn Habib… berkata seseorang laki kepada abdurrahman , demi Allah , sejak kapan kamu memusuhi ali .apakah ketika pembagian barang di kufah dan (Ali) tidak memberikan kepadamu dan keluargamu apapun, maka berkata (assalmi) , jikalau kamu bersumpah maka aku katakan iya.

           Thabari Dalam kitab muntakhab min dzail madzil hal 407

 

Komentar :

  1. Sayyidina ali kw / as adalah ahlulbait nabi saw sebagai ahli kisa, yang disebutkan dalam alquran sebagai ahlulbait yang thahir = suci  (yang telah makruf di kalangan suni dan syiah)— sehingga hadits ini berlawanan dengan riwayat yang menjelaskan bahwa Ali adalah ahlulbait yang suci dan suci tidak mungkin melakukan perbuatan mabuk. (dijakau dibutuhkan akan dibahas secara detail dari kitab suni)
  2. Sayyidina Ali kw/as adalah maula mukminin yang mutawatir di kalangan suni dan syiah mengenai hadits ghadirnya sebagai wakil nabinya (sudah dibahas sebelumnya) —dan walaupun makna maula ada cinta sekalipun, maka tidak mungkin Nabi cinta pada orang yang suka mabuk…
  3. Hadits ini sangat bertolak belakang dengan hadits keafdhaliatan Imam Ali yang diriwayatkan oleh suni dan syiah semisal : man abghadha aliyyan faabghadhani (barangsiapa yanng memarahi ali maka dia telah memarahi ku) (jikalau dibutuhkan akan dibahas secara detail dalam kitab suni)
  4. Dari sisi perawi  kita dapat melihat kecacatan didalamnya semisal :

–          Abu Ja’far ar-Razi = Isa ibn Mahan

Adzahabi dalam mizan Ali’tidal mengatakan : hua munkar (dia tertolak), qatadahpun tidak memperhatikannya :

وهو منكر، ولم يلق قتادة الاحنف

Walaupun sebagian mengatakan tsiqqat seperti Ibn Mu’id , Abu hatim, akan tetapi hal ini tidak cukup karena:

 An-Nasai mengatakan : laisa bi qawi (tidak kuat),

Yang lainnya mengatakan : Yukhthi — salah

Alfalasa mengatakan : Buruk dalam hapalan

Ibn Hibban mengatakan : yanfaridu anil manakir bil masyahir

Abu zar’ah mengatakan :melakukan kesalahan banyak

Meriwayatkan hadits lainnya selain ini dan dikomentari : sangat tertolak

Sebagian lagi meninggalkannya

Dan Daruquthni : mengeluarkannya

–          Atha ibn as-saib

Di dalam Mizan al’i’tidal 5641

Alfallas mengatakan :

وتغير بأخرة، وساء حفظة

   Ahmad berkata : Dulu terdengar sahih, dan baru-baru laitsa bi syai

  Yahya berkata : la yahtaj bihi

  Ahmad dari yahya berkata : haditsnya dhaif kecuali yang diriwayatkan dari tsu’bah dan sufyan

An-Nasai berkata : haditsnya dulu sahih akan tetapi telah berubah (sekarang)

Abu Hatim mengatakan : dia shaqud sebelum bersalah.

–          Abdullah ibn humaid

Ghayatunnihayah fi thabaqatul qira 1/175

Gheir makruf

 

****dari hal tersebut kita tidak bisa berhujjah dengannya karena hadits tersebut mengandung kecacatan atau minimal keraguan dalam rijalnya…walaupun diklaim oleh tirmidzi gharib hasan sahih.

Yang kedua— jikalau kondisi hadits seperti ini dibandingkan dengan hadits keutamaan Ali yang mu’tabar dan makruf bahkan sebagian mutawatir , seperti hadits kisa maka tidak ada nilainya keberadaan hadits ini dalam at-tirmidzi dibandingkan dengan hadits keutamaah imam ali tersebut, lalu mengapa ibn taimiah suka dengan hadits yang gharib dan melupakan yang mu’tabar dan masyhur bahkan mutawatir lainnya?

  1. Saya hanya menggambarkan betapa ibn Taimiah suka untuk menyudutkan Sayyidina Ali … bukankah ayat itu justru makrufnya turun untuk sahabat lainnya, kenapa Ibn Taimiah tidak menyebutkannya  (saya hanya mengambil contoh saja tidak ada maksud untuk menghina simbol 2 sahabat yang dihormati suni , dan inipun diambil dari pendapat ulama dan hadits suni) …contoh :

أنزل الله تعالى في الخمر ثلاث آيات، أولها يسألونك عن الخمر والميسر، فكان المسلمون بين شارب وتارك ، إلى أن شرب رجل ودخل في الصلاة فهجر ، فنزلت : يا أيها الذين آمنوا لا تقربوا الصلاة وأنتم سكارى ، فشربها من شرب من المسلمين ، حتى شربها عمر فأخذ لحي بعير فشج رأس عبد الرحمن بن عوف ، ثم قعد ينوح على قتلى بدر بشعر الأسود بن عبد يغوث .

وكائن بالقليب قليب بدر … فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فخرج مغضباً يجر رداءه ، فرفع شيئاً كان في يده ليضربه ، فقال : أعوذ بالله من غضب الله ورسوله . فأنزل الله تعالى : إنما يريد الشيطان ، إلى قوله : فهل أنتم منتهون . فقال عمر : انتهينا

Disini dikatakan bahwa ayat tersebut turun untuk Umar bin khatab dengan mengatakan umar : intahaina (ya kami berhenti—dari khamar)

Sebagian lagi turun untuk abu bakar , umar bahkan sebagian lagi turun secara umum dengan lafadz kaum mukminin.

Bisa dilihat dalam : Rabii’ul abrar, zamaksyari jilid 1 hal 398,

عن عبد الرحمن بن القاسم ، أن أسلم مولى عمر بن الخطاب أخبره ، أنه زار عبد الله بن عياش المخزومي فرأى عنده نبيذا وهو بطريق مكة . فقال له أسلم : إن هذا الشراب يحبه عمر بن الخطاب . فحمل عبد الله بن عياش قدحا عظيما . فجاء به إلى عمر بن الخطاب فوضعه في يديه . فقربه عمر إلى فيه ثم رفع رأسه . فقال عمر : إن هذا لشراب طيب . فشرب منه .

Diatas dikatakan bahwa umar ibn khatab menyukai khamr —bisa dilihat dalam almuwatha

Yang lainnya :

عن عبد الله بن عبيد بن عمير أن عمر بن الخطاب لما طعن قال له الناس يا أمير المؤمنين لو شربت شربة فقال أسقوني نبيذا وكان من أحب الشراب إليه قال فخرج النبيذ من جرحه مع صديد الدم

            Disinipun dilihat ketika Umar menjadi khalifah maka beliau tetap meminum khamr

               Bisa dilihat dalam :

                Thabaqat alkubra jilid 3 hal 354, Tarikh Madinah Dimesyk ibn asakir jilid 44 hal 430, As-sunan alkubra albaihaqi jilid 3 hal 113, fathul bari –ibn hajar jilid 7 hal 52, ibn abi syaibah alkufi jilid 5 hal 488, alisti’ab ibn abdil barr jilid 3 hal 1154, dan puluhan kitab mu’tabar lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: