Min Tabidiah dalam Surat Alfath 29

Dialog Zen dan Kang DN

MAKNA “MIN”
Zen membuka:
1. Makna min itu banyak tidak hanya satu, diantara makna yang disinggung oleh saya dan kang DN adalah 3 makna yaitu Tab’idhiyyah, Taukid umum, Bayan Aljins, tetapi perlu kita pahami bahwa masing –masing dari makna tersebut ada syarat dan ciri tertentu, jadi tidak serta merta huruf “min” maknanya bisa ditempelkan ke ayat lain. Mari kita bahas pembahasan dari dalil Kang DN :
2. Pertama Antum mendalilkan “min” dalam surat Alfath (39) adalah mim bayaniah, taukid umum (zaidah)
DN:
a. (فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ
الأوْثَانِ)[الحج: 30] أي من جنس هذه الأوثان،

Maknanya bukan :”Maka jauhilah
olehmu sebagian berhala-berhala yang najis adapun berhala-berhala yang lain
janganlah engkau jauhi. (lihat Fathul Qadir, 3/57).

Atau ‘min’ di sana jadi min
muakkadah.

Hal ini seperti firman-Nya:

b. (وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء
وَرَحْمَةٌ)[الإسراء: 82]

Firman-Nya مِنَ الْقُرْآنِ tidak
mengandung arti sebagian Al Qur’an adalah obat dan rahmat dan sebagiannya tidak
demikian, tapi ‘min’ disana adalah penguat.
__________________________________________________________________________
Zen Menjawab :
Catatan :
1. Perlu kita ketahui bahwa “Min” Bayaniah lebih banyak didahului atau disertai oleh “ma” dan “mahma” maka ayat a, dan b itu bisa dikatakan bayan jinsi, karena :
– Ayat Yang pertama, dikarenakan minal autsan itu muta’allaq ke “hal” dari arrijsa, jadi untuk menjelaskan “ibham” dari arrijsa, sebagai pengganti dari “ma” maushulah. “Apa-apa yang najis yang – dari patung”.Walaupun ada perdebatan didalamnya sebagian berpendapat juga tab’idhiah.
– Ayat Yang kedua dengan : ma hua syifa..
Yakni “minal quran” untuk menjelaskan maushul : “ma hua syifa”
2. Kalau untuk ta’kid kedua ayat diatas ini sebuah kekeliruan, karena ta’kid umum memiliki syarat :
a. Diawali dengan nafi, atau nahi atau istifham
b. Majrurnya adalah tankir (bukan makrifah)
c. Dianya sendiri fa’il atau maf’ul bih atau mubtada.

Sperti : wa ma taskuth min waraqatin illa ya’lamuun ( an’am :59)
Semua syarat terpenuhi

nah kalau kita hubungkan dengan pembahasan yang kita sedang perdebatkan masalah ayat alfath :29, kang DN mencoba menghubungkan ayat ini dengan kedua ayat diatas, tetapi ini suatu kekeliruan yang besar sebab (coba kita lihat):

محَمّدٌ رّسولُ اللّهِ وَ الّذِينَ مَعَهُ أَشِدّاءُ عَلى الْكُفّارِ رُحَمَاءُ بَيْنهُمْ تَرَاهُمْ رُكّعاً سجّداً يَبْتَغُونَ فَضلاً مِّنَ اللّهِ وَ رِضوَناً سِيمَاهُمْ فى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السجُودِ ذَلِك مَثَلُهُمْ فى التّوْرَاةِ وَ مَثَلُهُمْ فى الانجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شطئَهُ فَئَازَرَهُ فَاستَغْلَظ فَاستَوَى عَلى سوقِهِ يُعْجِب الزّرّاعَ لِيَغِيظ بهِمُ الْكُفّارَ وَعَدَ اللّهُ الّذِينَ ءَامَنُوا وَ عَمِلُوا الصلِحَتِ مِنهُم مّغْفِرَةً وَ أَجْراً عَظِيمَا
Dengan syarat ketentuan diatas kata minhum jelas2 untuk tabi’idhiyyah sebab :
1. Tidak bisa untuk bayaniah, sebab , min bayaniah tidak bisa masuk ke dhamir (hum) dalam keadaan apapun, dan tidak didahului oleh ma atau mahma atau disertainya… dan dari makna menunjukkan hal itu adalah (tabi’dhiyyah/sebagian) dari alladzina ma’ahu (orang-orang bersama rasul),
2. Untuk ta’kid sangat jauh jadinya sebab majrur bukanlah nakarih tapi diatas “hum” adalah makrifah dhamir…
3. Kita bisa melihat bahwa minhum disini adalah tab’idhiyyan seperti dalam ayat (albaqarah :253) :
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِّنْهُمْ
“Rasul-rasul itu Kami lebih utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain”
Minhum disini untuk sebagian.
4. sehingga maknanya : min hum maghfirah wa ajran ‘adzim (sebagian diantara mereka ampunan dan pahala yang besar) itu harus memiliki syarat jumlah setelahnya yaitu : bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.
5. Kekeliruan dari akang adalah menempatkan ayat satu dengan ayat lainnya dengan huruf “min” tapi tidak melihat syarat2 dari makna min itu sendiri.
6. Sebagai tambahan kalau “min” seluruhnya asal tempel tanpa melihat syarat makna, maka akang sendiri akan terjerumus pada tafsir senjata makan tuan , maksudnya lihat ayat berikut :
وَ مِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرابِ مُنافِقُونَ وَ مِنْ أَهْلِ الْمَدينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفاقِ
Attaubah ayat 101
Maka menurut metode akang DN, makna minal madinah yang munafik itu berarti min disini adalah bayaniah jisn bisa diartikan seluruh orang madinah munafik…tetapi hal ini kan keliru…yang betul minal madinah adalah sebagian orang madinah itu munafik.

Wassalam
zen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: