Bid’ah I

SEKILAS TENTANG BID’AH DALAM PANDANGAN ISLAM
Sering terdengar kata bid’ah dalam majelis-majelis agama, dan sebagian kelompok melempar kata tersebut ke sebagian kelompok. Memang secara umum kata tersebut dipahami sebagai suatu bentuk kesesatan ajaran agama. Akan tetapi jikalau kita tidak memahami apa itu bid’ah dan dengan semudah itu kita katakan bid’ah kepada pihak lain ini merupakan suatu bentuk kekeliruan dan ketergesa-gesaan. Apalagi di benak kita umumnya memaknai bid’ah dengan sesuatu yang tak dilakukan atau tak diucapkan oleh nabi saww, sehingga konklusi dari itu semua adalah pemikiran kaku serta sikap yang menjurus kepada bentuk eksklusifitas kelompok dan yang lebih parah lagi mengkristal menjadi gerakan ekstrem dalam mengembalikan kepada bentuk yang pada zaman rasul ada harus diadakan dan yang pada zaman rasul tak ada harus ditiadakan. Sedangkan banyak sekali sesuatu yang pada zaman rasul itu ada sekarang tidak ada, ataupun sebaliknya pada zaman rasul tidak ada sekarang ada.Oleh sebab itu kita mencoba menguraikan sekilas mengenai definis bid’ah baik itu dikalangan mazhab Suni ataupun di kalangan mazhab Syiah. Sehingga penjelasan singkat ini dapat menjadi gambaran bagi kita dalam menindak lanjuti hal-hal yang berbau bid’ah dan yang berhubungan dengannya.

Bid’ah menurut kamus bahasa dan kata yang terdapat dalam alquran:
البدعةberasal dari kata بدع yang dalam fi’il madhinya salah satunya bermakna ابتدع الشيء, وبدع الشيء yang artinya : استنبطه ، وأحدثه mencipta (sesuatu yang belum pernah ada) atau pun dari الابداع yang salah satu artinya الجديدالمحدث yang artinya perkara baru. Ataupun dengan bentuk kata
بدع الشيء ، یبدعه ، بدعا ، وابتدعه . memiliki makna أنشأه (mengadakan , menjadikan, menciptakan)بدأه (mulai,memulai). Dan
والبدیع والبدع yakni الشيء الذي یکون أولا (Sesuatu yang pertama kali adanya)1

Seperti halnya dalam Al-Quran:
قُلْ ما كُنْتُ بِدْعاً مِنَ الرُّسُلِ وَما أَدْري ما يُفْعَلُ بي‏ وَلا بِكُمْ
Katakanlah, “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara para rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu…2
والله بدیع السماوات والأرض
“Dan Allah menciptakan langit dan bumi” 3
Bid’ah di berbagai pendapat :
1. Dalam Sumber kitab-kitab Ahlussunnah:
a. Hadits
– “كل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار”
“Seluruh bid’ah adalah sesat, dan seluruh yang sesat dineraka”(Sunan Nasai)4. hal senada pula terdapat di Shahih Muslim walaupun tanpa mendzikirkan وكل ضلالة في النار5
b. Pendapat Para Ulama Ahlussunnah :
Al-Syafei : Al-Rabî` juga meriwayatkan kenyataan yang sama bahwa Imam Al-Shâfi`î berkata kepada kami:
“Perkara baru yang diciptakan itu dua jenis (al-muh dathâtu min al-umûri darbâin):
Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah atau athar Sahabat atau ijmâ’ para ulama’, maka bid‘ah itu adalah sesat.
ما أحدث مما یخالف کتابا ، أو سنة ، أو أثراها ، أو إجماعا ، فهذه البدعة الضلالة
Kedua, ialah perkara baru yang diadakan dari kebaikan (mâ uhditha min al-khayr) yang tidak bertentangan dengan sumber-sumber yang telah disebutkan di atas, dan ini bukan bid‘ah yang dikeji (wa hâdhihi muhdathatun ghayru madhmûmah).
`Umar berkata mengenai sembahyang Terawih berjamaah di bulan Ramadhan:“Alangkah cantiknya bid‘ah ini!”maksudnya ‘perkara baru’ yang diciptakan yang belum ada sebelumnya, tetapi tidak bertentangan dengan perkara diatas (Al-Qur’an, Sunnah, athar Sahabat dan Ijma’).’”6
Nada serupa pula terdapat pada pendapat ulama suni lainnya , yang dimana mereka umumnya membagi dua bid’ah dan mereka mendefinikan dengan makna bertentangan (یخالف) 7 seperti halnya pula pendapat ulama Al-Ghazali Al-Ghazzâlî 8 dan Qadi Abu bakar ibn Al-Arabi Almaliki9 ibnu hazm Al-Zahiri10, Ibnu Aljauzi (Kitab talbis Iblis), atau yang tidak sesuai dengan qaidah Syari’yyah11, dll, dan ada juga yang berpendapat sangat ekstrem dari kaum salafi atau wahabi dengan menafikan seluruh dari bentuk bid’ah dan seluruhnya bid’ah yang telah disebutkan diatas12 dengan mengambil dari hadits An-Nasai dengan Sunannya :Seluruh bid’ah sesat dan setiap yang sesat di neraka, dengan memaknai bahwa bidah adalah segala sesuatu yang tidak dilakukan Nabi saww.

2. a. Hadits dari sumber kitab-kita Syiah : salah satu hadits dari mazhab syiah yang mejelaskan mengenai bid‘ah terdapat dalam Mustadrak Al-Wasail13, bersabda rasulullah saww : Wahai sekalian manusia tidak ada sunnah setelah sunnahku (nabi saww dan imam maksum as merupakan bagian dari sunnah yang diyakini mazhab Syiah dengan bersumber pada Alquran dan hadits rasulullah saww14), dan barangsiapa yang mengklaim (perkara yang bid’ah) serta mengajak orang lain kedalam perkara tersebut, dan hal itu termasuk bid’ah serta orang yang melakukannya masuk neraka. Hal yang serupa juga terdapat dalam kitab lainnya semisal nahjul balaghah : bid’ah itu adalah membuat sesuatu yang baru berdasar hawa nafsunya, dan tidak bersandar kepada sumber-sumber yang haq (yakni quran dan sunnah).15
-3. Ibn Hajar ‘asqalani : Maksud dari bid’ah adalah apa-apa yang baru dan tidak terdapat di dalam syar’i, akan tetapi apa-apa yang padanya terdapat dalam syar’i dan berdalil dengannya maka hal tersebut bukanlah bid’ah.16
b. Pendapat ulama syiah
– Alamah majlisi :Bid’ah dalam syar’i adalah apa-apa yang baru setelah Rasulullah saww dan tak terdapat secara khusus pada nash. Dan tidak terdapat pula di dalam sebagian yang umum, atau terdapat larangan padanya secara khusus atau umum.17
Simpulan Singkat
Pada dasarnya suni dengan syiah berpendapat sama pada sebagian definisi yaitu bahwa bid’ah adalah sesuatu yang tidak ada di zaman nabi dan baru di zaman sekarang tetapi perbedaannya ada pada masalah :
1. Sebagian pendapat suni berpendapat bahwa bid’ah adalah perkara yang tidak ada di zaman nabi saww tetapi pada zaman sekarang dilakukan . Dan bid’ah itu sendiri terbagi dua : tak bertentangan dengan nash (bid’ah hasanah) ataupun yang bertentangan (Dalalah/sayyi’ah). Disini telihat adanya makna yang bertentangan (kontradiktif) dengan hadits dari sumber mereka sendiri seperti yang tertulis dalam sahih muslim ataupun sunan nasai yang mengatakan semua bid’ah adalah sesat.
2. Sebagian lagi pendapat salafi dan wahabi, pada umumnya berpendapat bahwa semua perkara yang tidak ada di zaman nabi dan ada di zaman sekarang secara qaul dan perbuatan rasul saww maka hal tersebut dikatakan bid’ah tanpa membedakan mana yang baik dan yang buruk, akan tetapi ketika berhadapan dengan masalah tarawih yang difatwakan Umar, dan masalah lainnya, mereka menjawab bahwa Dalil dari para sahabat Nabi saww merupakan salah satu nash mereka, jadi hal tersebut tidak dikatakan bid’ah, walaupun di zaman nabi tidak dilakukannya, karena mereka berpendapat semua yang dilakukan sahabat(terutama Khalifah yang empat) merupakan hujjah juga bagi mereka. Sebagian lain menjawab bahwa hal tersebut adalah bid’ah lughawiah bukan Syar’iyyah karena bid’ah syar’iyyah adalah haram.18 Maksudnya mereka berpendapat bahwa terawih secara lughawi adalah bid’ah akan tetapi secara af’al syar’iyyah adalah bukanlah bid’ah karena telah dicontohkan oleh sahabat nabi saww. Dalam kenyataannya mereka akan terjebak terhadap masalah hukum dizaman sekarang yang tak ada di kedua zaman tersebut baik itu dizaman Nabi atau para sahabatnya. Sehingga Ijtihad yang keluar dari pendapat ulama mereka merupakan ijtihad yang bersumber dari pemikiran sendiri keluar dari sumber-sumber nash yang mereka yakini. Atau konsekuensi kedua adalah mereka harus menghapuskan perkara yang tak ada di kedua zaman tersebut yang ada di zaman sekarang, walaupun perkara tersebut banyak manfaatnya untuk ummat di zaman sekarang.
3. Dengan memperhatikan keyakinan dalam mazhab Syiah bahwa seluruh perkara sudah ada hukumnya (dalam kitabullah dan sunnah nabinya)19 baik berupa khusus ataupun hanya hukum yang umum, maka bid’ah disini adalah yang bertentangan dengan sumber hukum tersebut seperti halnya pendapat masyhur ulama bahwa dalam melihat bid’ah kita harus melihat kaidah umum wa khas , karena sebagian ada yang berupa umum belum ada khususnya di zaman nabi saww dan imam maksum as, sebagian lagi ada yang sampai khusus di zaman nabi dan imam maksum as. Baik berupa qaulnya, amalnya, maupun takrirnya. Jikalau bertentangan dengan ushul Syari’ah dan sunnah (nabi saww maupun imam maksum as) maka hal tersebut dikatakan bid’ah artinya jikalau perkara yang tidak bercabang dan bertentangan dengan yang umum maka hal tersebut dikatakan bid’ah, seperti yang telah dijelasan oleh Alamalah Majlisi. tanpa membagi bid’ah hasanah ataupun dalalah, karena di satu sisi Syiah juga meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat20. Oleh sebab itu dalam mencari hukum sesuatu yang seakan-akan baru di zaman sekarang ketika masa ghaibnya imam zaman maka harus merujuk kepada sumber nashnya , dan hal ini memerlukan upaya istibath hukum oleh orang-orang yang paham dibidangnya.
Dafar Pustaka:
1. Lisanul Arab, Kamus Al-Munawir
2. Qs:46:9
3. Qs:2:17, Qs:6:101
4. Sunan nasai jilid 2, hal 188-189
5. Shahih Muslim jilid 2, hal 592
6. dari al-Rabî` oleh al-Bayhaqî dalam Madkhal dan Manâqib al-Shâfi`î beliau (1:469) dengan sanad sahih seperti yang disahkan oleh Ibn Taymiyyah dalam Dâr’ Ta`ârud al-`Aql wa al-Naql (hal. 171).
7. Qawa’idul ahkam fi masailil anam 2/172
8. Ihyâ’ `Ulûm al-Dîn 1:276
9. Ibn al-`Arabî, `A rid at al-Ahwadhî 10:146-147
10. Ibn Hazm, al-Ihkâm fî Usûl al-Ahkâm 1:47
11. Al-‘Itisham 1/37
12. Al-‘Itiqad ‘ala mazahib Al-Salaf , 114, ‘ahd jadid
13. Mustadrak Al-Wasail jilid 11 hal 87
14. Dalil Bahwa Imam maksum as (ahlulbait nabi as) adalah sunnahnya nabi saww yang harus diikuti :
a. Ayat Ath-Thahrir : Qs Al-Ahzab : 33 diamana ahlulbait disini adalah Imam maksum as menurut sumber hadits suni dan syiah dan mereka adalah maksum dan kemaksuman merupakan salah satu dalil untuk diikuti, karena maksum berarti tak ditemukannya kesalahan baik pikiran, keyakinan, ataupu perbuatan dan hal itu berarti sesuai dengan keinginan Allah dan rasulNya saww.
b. Ayat Ulil Amri : Qs Annisa 59 . dimana kita harus mentaati Allah dan rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu, Yang dimaksud ulil amri disini adalah Imam maksum terkhusus kepada Imam Ali as (bersumber dari tafsir Al-Quran Suni dan Syiah). Dan ketaatan disana merupakan ketaan tanpa syarat serupa dengan ketaatan kepad Allah dan rasul-Nya, sehingga keniscayaan bahwa ketaatan tanpa syarat menunjukkan kemaksuman dari imam maksum tersebut.
c. Hadits Tsaqalain : dengan berbagai seumber dari suni dan syiah yang berisi bahwa Rasul meninggalkan dua pusaka yaitu Al-Quran dan Itrahnya, dimana kalau kita berpegang kepada mereka maka tak akan tersesat selama-lamanya. Itrah disini adalah imam Maksum as.
d. dan masih banyak lagi hadits yang lain disini hanya digambarkan beberapa saja.
15. Al-Maktabah Al-Shamilah hal 50 juz 1
16. Fathul bari , jilid 13, halaman 212
17. Biharul Anwar, jilid 71 halaman 202-203
18. Al-bahits ‘ala inkar Al-bid’i wa al hawaditsi halaman 93-95
19. Al-Kafi jilid 1, hal. 62.
اكل شيء في كتاب الله و سنة نبيه او تقولون فيه ؟ فقال : بل كل شيء في كتا ب الله و سنة نبيه
20. Al-Maktabah Al-Shamilah, Tahzibul Ahkam, juz 61 halaman 14.
وإن كل بدعة ضلالة وكل ضلالة سبيلها إلى النار

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: