Sekali lagi “Kitabullah Wa Itrati”

Kitabullah wa itrati ahlulbaiti
Kesimpulan dan Pandangan Umum
Dari Judul Kitabullah wa Sunnati dan Kitabullah Wa Itrati

Hadits Kitabullan wa sunnati merupakan hadits maudhu (palsu) yang dimana haditsnya pun memiliki banyak kecacatan dari sisi sanadnya bahkan rijal perawinya (yang telah kita buktikan). Hadits Tsaqalain yang redaksinya Kitabullah wa itrati ahlulbaiti merupakan hadits mutawatir yang termaktub dalam kitab2 ahlussunnah bahkan dalam maktab syiah yang jumlahnya melebihi dari hadits mengenai perihal fiqih seperti shalat dll. Betapa pentingnya hadits tersebut sehingga memang wajar kemutawatirannya membuktikan kebesaran makna hadits yang terkandung didalamnya.
Perlu kita teliti dan jeli dalam melihat redaksi yang seakan-akan terlihat sama akan tetapi hakikatnya ada yang menggantikan lafadz itrati ahlulbaiti menjadi sunnati. Coba kita lihat dengan seksama :
Yang pertama : aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang dimana jikalau kalian berpegang padanya maka tidak akan tersesat selamanya yaitu kitabullah dan sunnahku dan keduanya tidak akan terpisah sampai menemuiku di alhaudh.
Yang kedua : aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang dimana jikalau kalian berpegang padanya maka tidak akan tersesat selamanya yaitu kitabullah dan itrati ahlulbaiti dan keduanya tidak akan terpisah sampai menemuiku di alhaudh.
Perubahan lafadz tersebut jelas merupakan perubahan yang disengaja ataupun tidak disengaja yang dimana sebagian perawi pada masa lalu tidak menggunakan lafadz Itrati dan ahlulbaiti mungkin disebabkan oleh beberapa hal :
1. Ketakutan terhadap penguasa muawiyah atau abbasiyah yang menindas kaum alawiyin dan pengikut itrah ahlulbait (imam ahlulbait)
2. Sengaja menggantikan karena ketidak sukaan bahkan kebenciannya terhadap ahlulbait seperti yang makruf kita kenal kaum khawarij yang sering masuk dalam periwayatan dan menghina rasul serta ahlulbaitnya.
3. Pengetahuan yang tidak sampai padanya.
4. Pemaksaan dari penguasa yang banyak membuat hadits maudhu. Seperti di zaman penguasa muawiyah (bisa kita lihat dalam sejarah periwayatan hadits), dengan membuat ulama bayaran melawan kaum alawiyin dan imamnya ahlulbait , karena ketakutan mereka terhadap gerakan kaum pengikut itrah ahlulbait.
5. Khabar burung yang tersebar begitu saja yang tanpa diteliti lebih lanjut keotentikannya
6. Dan alasan-alasan lainnya yang menjadi sebab lahirnya hadits maudhu (palsu)
Selain daripada itu jikalau kita lihat Hadits itrah ini salah satunya diucapkan oleh nabi di ghadir khum sebelum mengucapkan mankuntu maula faaliyyun maula. Dan hal ini pun memiliki kandungan sejarah berupa peringatan kepada kaum mukmin akan keberadaan itrah ahlulbaiti.
Makna lain yang bisa kita lihat adalah bahwa itrah ahlulbait ini :
1. Ada sampai akhir zaman , karena dilihat dari lafadz : lan yaftariqa hatta yarida alaiyya alhaudh , kedua-duanya (quran dan itrah ahlulbait) tidak akan terlepas sampai bertemu nabi di akhirat.
2. Itrah ahlulbait memiliki makna khusus sebab itrah nabi disandingkan dengan alquran dan juga diistilahkan dengan dua pusaka besar, bahkan disebagian redaksi dengan khalafatain atau dua pemimpin yang besar. Alamat ini meniscayakan itrah ahlulbait yang selalu bersama alquran yang memahami alquran yang menjadi mishdaq akan sunnah nabinya dan penjelas quran serta sunnahnya , bahkan sebagai jalur perawian yang khusus (istimewa) dari silsilah mereka.
3. Itrah ahlulbait ini sebagai petunjuk satu-satunya setelah alquran , yang dimana tidak ada yang lebih paham alquran selain itrah ahlulbait , dan kita akan terlindungi dari segala kesesatan dibuktikan dengan redaksi : wa in tamassaktum bihima lan tadhillu abadan ( jikalau kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan tersesat selamanya)
4. Itrah ahlulbait ini memiliki sifat yang terjaga dari kesalahan atau maksum , karena quran adalah maksum (terjaga dari segala kesalahan) dan yang ahli 100% tidak menyesatkan harus orang yang maksum pula, walaupun mereka itu bukan nabi. Seperti kita lihat ayat alahzab 33 yang dikenal dengan ayat tathhir (kesucian)
إِنَّما يُريدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهيراً

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan menyucikan kamu sesuci-sucinya.
Pertanyaan : selain nabi adakah yang maksum? Jawabannya ada yaitu ahlulbaitnya seperti yang tertulis di dalam ayat alahzab 33 dengan redaksi menghilangkan dosa dan menyucikan sesuci sucinya, bahkan jikalau kita melihat lebih jauh kandungan ayat alquran lainnya banyak sekali manusia bukan nabi tapi maksum ,seperti sayyidah maryam, ali imran, nabi khidir (yang terkenal istilah nabi walaupun aslinya hamba yang saleh), ibunya nabi musa dll. Perbedaannya mereka yang bukan nabi tidak mendapatkan wahyu risalah.
Dilihat dari ayat alahzab 33 bisa kita lihat fi’il mudhare (yuridu) dan (yuthahhirakum) , karena fiil mudhare berlangsung zaman hal (sekarang) sampai zaman mendatang maka ahlulbait pun yang disucikan tersebut ada sampai zaman mendatang karena tidak mungkin obyek fiil tidak ada sedangkan fiil ada hal ini akan menyebabkan fiil yang tak ada maknanya. (akan dibahas dalam pembahasan khusus ayat tathhir, dari sisi adabiat, asbabunnuzul, siyaq jumlah, ulumulquran dll, insyaallah)
5. Dengan berbagai macam keterangan diatas maka tidak mungkin itrah ahlul bait itu adalah kaum habaib atau kaum sadat yang dimana dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada kaum sayyid (habaib) sebagai keturunan para imam ahlulbait. Akan tetapi jelas mereka kaum habaib tidaklah maksum, dan tidak pula terjaga dari kesalahan dalam memahami quran. Yang walaupun bisa kita katakan mereka adalah ahlulbait dengan makna umum, bukan dengan makna khusus (makna istilah alquran dan ahadits).

6. Menindak lanjuti isu yang berkembang mengenai Wali faqih dan para ulama besar (maraji) . disini bisa dikatakan bahwa mereka para faqih dan para mujtahid besar bisa sayyid ataupun non sayyid , dan yang memiliki kemampuan lebih dalam masalah yang lebih luas seperti siasah , sosial, budaya pertahanan keamanan dll maka mujtahid tersebut bisa menduduki maqam wali faqih . dan mereka bukanlah itrah ahlulbait yang dimaksud akan tetapi mereka hanyalah wakil umum yang mengistinbathkan hukum dari sumber Quran dan itrah ahlulbaitnya (sebagai mishdaq sunnah nabinya) dalam masa kegaiban itrah ahlulbait yang terakhir yang bernama Muhammad ibn hasan (almahdi) ibn ali ibn Muhammad ibn ali ibn musa ibn Ja’far (imam ja’far) ibn muhammad (albaqir) ibn ali zaenal abidin, ibn husein ibn Ali (amirul mukminin ali ibn abi thalib) seperti yang tertulis dalam kitab qundusi alhanafi dalam yanabi almawaddah –ulama suni alhanafiah(bisa dibahas dalam pembahasan khusus dalam masalah ini).

Zen …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: