Menyingkap Tabir Keabsolutan Shahabat

Menyingkap Tabir
Keabsolutan Shahabat
(Rujukan :Kitab-kitab Ahlussunnah)

Mukaddimah
Umat Islam memiliki Pegangan pokok untuk menjalani kehidupannya dengan benar menurut ajaran Allah SWT. Dalam aplikasinya mereka memegang Al-Quran sebagai kalam Tuhan yang terjamin keasliannya. Jaminan tersebut tertulis sendiri di dalam ayat Al-Quran, selain daripada itu umat Islam di sepanjang generasi menjaganya dengan menghafal Al-Quran dengan sempurna, walaupun terjadi perbedaan dalam pembacaan (Qira’ah) dan makna atau penafsirannya. Akan tetapi seluruh mazhab tidak ada yang meragukan mengenai keasliannya. Adapun pedoman kedua adalah itrah Nabi yang menjelaskan seluruh sunnah-sunnah nabi sampai akhir zaman , ada juga yang berpendapat tanpa diiringi dengan itrahnya. Akan tetapi keduanya memiliki kesamaan dalam keyakinan pedoman yang kedua setelah Alquran yaitu perbuatan, perkataan dan taqrirnya nabi saww yang tertulis di dalam kitab-kitab hadits mereka, sehingga dalam menafsirkan dan memahami Alquran umat Islam menggunakan hal tersebut sebagai penjelas atau sumber pengambilan hukum setelah Alquran.
Orang-orang yang hidup di zaman nabi tentunya berperan penting dalam meriwayatkan hadits dari rasulullah saww, sehingga mereka menjadi salah satu muara dalam mendapatkan kebenaran dari rasulullah saww. Akan tetapi disini terjadi perbedaan pendapat mengenai pemaknaan atau pengistilahan dari orang-orang yang hidup sezaman dengan nabi saww. Apakah mereka itu semuanya shahabat nabi dalam makna sebenarnya, atau justru orang-orang tersebut dianggap sebagai umat nabi secara umum seperti di zaman kita dan shahabat nabi memiliki makna khusus dari yang disebutkan diatas. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa shahabat dengan makna umum yakni seluruhnya yang hidup sezaman dengan nabi saww dan juga dikatakan dengan memiliki sifat adil atau benar, artinya mereka tak pernah berbohong, mereka tak pernah berbuat maksiat, mereka seseorang yang seakan-akan bebas dari perbuatan dosa.
Oleh sebab itu kami hendak membahas beberapa dalil yang mendukung pernyataan tersebut ataupun dalil-dalil yang menolak pernyataan tersebut. Tanpa hendak memperkeruh persatuan antara golongan yang memiliki pendapat masing-masing.

1. Sebagian pendapat yang masyhur mengenai definisi Shahabat
1. An-Nawawi berpendapat bahwa yang diakui ulama pada umumnya bahwa seluruh muslim yang melihat nabi walaupun semenit maka dia termasuk sahabatnya.[1]
2. Al-Bukhari di dalam bab fadhail ashhabinnabi saww berpendapat bahwa barang siapa yang berteman dengan nabi dan melihatnya dari golongan Islam maka mereka sahabat nabi (saww).[2]
Dari pendapat tersebut diatas dapat dipahami bahwa orang yang baru mengenali dengan seseorang bisa dikatakan sebagai sahabat orang tersebut tanpa memperhatikan hubungan kepercayaan atau saling kerjasama satu sama lain dalam waktu yang lama. Apalagi kalau kita hubungkan dengan istilah shahabat nabi maka bisa jadi orang bertemu dengan nabi hanya semenit dan memeluk Islam tanpa melihat kualitas keilmuan kejujuran dan kedekatan keterikatan dengan nabi dan keimanannya dengan definisi tersebut bisa dikatakan shahabat nabi saww. Bahkan bisa juga seorang munafik yang menzahirkan islamnya dan menyembunyikan kekafirannya dikatakan sahabat rasul saww, seperti yang tertulis dalam Alquran dan hadits yang akan dibahas selanjutnya.
Dalam Lisanul arab dikatakan bahwa kata As-shahib memiliki kata jama’ shahbun, ashhab, shahab, shahabah[3] yang dimana kata shahib mengandung makna al-Ma’asyir yakni perkumpulan atau kelompok , ar-Rafiq al-mulazim mengandung makna seperti halnya satu yang mengharuskan lainnya dikarenakan keterikatan dan kepengikutannya yang sangat kuat dan tidak dikatakan shahib jikalau keterikatan disini tidak sangat kuat. Bahkan ditambah lagi dengan lamanya tinggal hidup bersama[4].
Dalil nya adalah
1. يا صاحِبَيِ السِّجْنِ أَ أَرْبابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللهُ الْواحِدُ الْقَهَّارُ
Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?[5]
Tidak dikatakan penghuni kalau dia tidak terikat lama dan hidup bersama keadaan penjara dan di penjara.
2.ما ضَلَّ صاحِبُكُمْ وَما غَوى
Shahabatmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru,[6]
Disini meniscayakan bahwa shahabat nabi harus selalu terikat dengan nabi sehingga mereka tak pernah sesat dan tak pernah keliru.
3. لا يَسْتَطيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ وَلا هُمْ مِنَّا يُصْحَبُونَ
Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka mendapat pertolongan dari Kami.[7]
Disini mengandung arti pertolongan jadi shahib mengandung arti penolong
Dan masih banyak lagi dalam Al-Quran mengenai hal tersebut semisal ashabul jannah Al-Baqarah :82 yang dimana penghuni syurga menjadi sesuatu yang melekat dengan syurga sehingga seperti menyatu dengan syurga tersebut, sehingga dikatakan ahli surga.
Begitu kuatnya makna shahabat jikalau kita tinjau dalam qamus dan istilah atau mufradat Al-Quran sehingga jikalau kita nisbatkan kepada nabi saww maka seharusnya makna shahabat disana mengandung arti yang lebih dalam dari kedua pendapat diatas.

2. Makna keadilan yang dinisbatkan kepada shahabat nabi saww
Para ulama ahlussunnah berbeda pendapat dalam hal ini , akan tetapi pada umumnya mereka berpendapat bahwa shahabat yang adil adalah :
a.Shahabat adil yang menerima riwayat saja :
Malik mengatakan : Permasalah keadilan ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahlussunnah yang dimana mengatakan keadilan seluruh shahabat, saya mengatakan Ta’dil bukanlah tidak pernah berbuat salah tetapi tidak pernah berbohong[8] dan Malik mengambil dalil dari Ibnu Hiban yang mengatakan bahwa seluruh shahabat adil tak ada kecacatan dan kelemahan pada mereka[9]
Dari pernyataan tersebut dapat dimungkinkan seseorang tidak berbohong tapi melakukan perbuatan tercela seperti perbuatan maksiat lainnya dan orang yang melakukannya dikenal dengan fasiq. Dan dimungkinkan pula seseorang yang munafiq.
b. Shahabat adil yang tidak cenderung melakukan dosa jikalau mereka melakukan pasti telah bertobat
Alusi seorang ulama besar dari kalangan ahlussunnah mengatakan bahwa tidak mati seorang shahabat nabi yang melakukan perbuatan fasik kecuali mereka bertobat dan padanya sifat keadilan dikarenakan cahaya (nur) shahabat.[10] Setelah itu Alusi mengisyaratkan mengenai kewajiban menerima hadits secara mutlaq dari mereka walaupun sahabat tersebut seorang yang fasiq ketika meriwayatkannya.
c. Yang lebih ekstrim dikatakan bahwa seluruh sahabat nabi yang adil adalah seorang yang suci dijaga oleh Allah SWT seperti yang dikatakan oleh Ibn Atsir[11] dan AlKhathib Al-Baghdadi.[12]
Sehingga dari hal tersebut meniscayakan kesucian atau kemaksuman sahabat, yang justru bertolak belakang dengan keyakinan umumnya ahlussunnah bahwa tidak ada yang maksum kecuali nabi saww.

3. Dalil ahlussunnah dalam meyakini keadilan seluruh shahabat
a. Ijma’
Ibnu Hajar Asqalani mengatakan : telah sepakat ahlussunnah dengan keadilan seluruh sahabat, tidak ada perbedaan pada masalah ini kecuali sedikit dari para pembuat bid’ah.[13]
Ibnu Hazm dalam hal ini mengatakan : Tak ada keraguan dari mereka semua pasti masuk surga.[14]
beberapa pendapat ulama makruf lain mengenai hal ini diantaranya An-Nawawi[15] dan Suyuti[16] yang mengatakan bahwa seluruh sahabat adil dan tak ada kecacatan pada mereka. Begitu juga Ibn abdul bar , ibnu Hibban dan ulama lainnya dengan menisbatkan keadilan sahabat sebagai ijma dikalangan ulama mereka yang mengambil dalil dari alquran dan hadits.
Akan tetapi sebagian ulama lain dari kalangan ahlussunnah pun tidak sepakat dengan pernyataan diatas bahwa seluruh sahabat nabi itu adil, misalnya Suni Muktazilah yang meyakini bahwa seluruhnya adil kecuali yang membunuh Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib as[17]. Dan juga pernyataan dari ulama yang bernama Sa’ad Ad Din At-Taqtazani yang mengatakan bahwa di dalam kitab-kitab hadits dan sejarah banyak tertulis mengenai sebagian sahabat nabi yang melenceng dari ajaran yang haq, berbuatan kefasikan dan kesesatan, tamak serta haus kekuasaan oleh sebab itu Sa’ad menyimpulkan bahwa tidak seluruhnya sahabat nabi itu adil.[18]
Oleh sebab itu Ijma’ disini tidak pada tempatnya sebab jikalau hadits dan sejarah banyak menceritakan mengenai keburukan sebagian shahabat dan sebagian ulama lainnya yang tidak sepakat dengan pernyataan tersebut.
b. Al-Quran
Kebanyakan para ulama yang meyakini keadilan seluruh sahabat berdalil dengan dalil alquran diantaranya :
1. Ayat Pertama :
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ تَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah[19]…
Akan tetapi disini terdapat keganjilan kalau ayat ini dipahami untuk keadilan seluruh sahabat. Mari kita bagi persoalan pokok dalam ayat tersebut :
a. Kata امة” “ disini tidak dikhususkan untuk sahabat nabi saww, makna ummah dengan sahabat jelas berbeda. Dan disini memiliki makna jama’ah baik itu yang bermakna khusus ataupun seluruh ummat secara mutlak diantaranya dituliskan dalam alquran :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.[20]
Disini kita bisa melihat bahwa ummat memiliki makna jamaah yang khusus untuk menyeru kebaikan di setiap zaman.
وَ لِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ
Tiap-tiap umat mempunyai rasul…[21]
Didalam ayat ini kata ummat memiliki makna seluruh ummat. Masih banyak lagi ayat Alquran yang menunjukkan makna tersebut. Oleh sebab itu makna ummat dengan sahabat jelaslah berbeda dan ummat tak bisa ditafsirkan dengan sahabat nabi.
b. Dhamir “كنتم” tidak dikhususkan untuk orang kedua jamak pada masa itu (dengan fi’l madhi) yakni orang-orang yang hidup sezaman dengan nabi akan tetapi bermakna umum, semisal di dalam Alquran yang menunjukkan bahwa dhamir mukhatab tapi bermaksud umum bukan hanya bagi orang kedua jamak pada saat itu (mukhatab pada saat dikeluarkan ayat itu) .
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
Diwajibkan atas kamu berpuasa[22]
Apakah kewajiban berpuasa itu hanya untuk zaman nabi saww?
c. lanjutan ayat :
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ تَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ
“menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”
kalimat tersebut diatas yang diawali dengan “تأمرون” merupakan kalimat yang menunjukkan syarat atau setidaknya illat (sebab) bukan sifat seperti yang disebutkandalam tafsir Qurtubi[23], Tafsir tabari[24], Ad-dur Al-Manstsur[25]. Dari bentuk kalimat bersyarat mengandung makna berlaku bagi siapa saja dan dizaman mana saja yang memenuhi syarat tersebut, Jadi kalau diartikan sebagai berikut.
“Jikalau Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, haruslah menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah
Kesimpulannya Ayat tersebut tidak menunjukkan kekhususan mengenai keadilan sahabat, akan tetapi menunjukkan bagi siapa saja di zaman kapan saja yang memenuhi syarat tersebut. Tafsir Ibnu Katsir pun menunjukkan bahwa ayat tersebut berlaku umum.[26]
2. Ayat ke dua:
وَ كَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan”
Didalam ayat tersebut kita bisa membagi pembahasan menjadi beberapa poin :
1. Kata جَعَلْنَاكُمْ yang artinya kami jadikan kamu , جعل tasyri’iyyah bukan takwiniah , sebab جعل takwiniah menyandung arti bawa Allah SWT menjadikan langsung Ummat sebagai umat pertengahan (adil), tanpa disertai dengan usaha secara syar’i dari ummat tersebut untuk merubahnya, hal ini bertolak belakang dengan ayat Alquran yang mengatakan bahwa Allah tidak akan merubah sebuah kaum kalau kaum tersebut tidak merubahnya sendiri[27]. “Ja’l” takwiniah biasanya untuk penciptaan makhluknya seperti ayat Kemudian Kami jadikan dia air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)[28]. Sehingga bisa dikatakan umat yang adil kalau mereka berusaha menjalankan keadilan.
2. Dhamir Mukhatab pada ayat ini tidak menjelaskan khusus bagi shahabat yang hadir tetapi bersifat umum, seperti yang tertulis dalam ayat pertama, begitu juga kata ummat.
3. Kata Wasatha seperti yang tertulis didalam kitab tafsir yang beraneka ragam[29] dikatakan bahwa Ummat Islam dijadikan sebagai ummat pertengahan (adil) maksudnya memiliki ajaran yang tidak tafrith dan ifrath tidak seperti agama nashrani dan yahudi.
Sehingga ayat tersebut tidak menunjukkan keadilan khusus seluruh shahabat nabi pada zaman itu tetapi ummat disini berlaku umum siapa saja yang memegang keadilan maka bisa dikatakan ummat yang pertengahan seperti yang ditulis pula oleh Al-Bukhari yang mengatakan saat tersebut diperuntukkan untuk Muhammad saww dan ummatnya (secara umum).[30]

3. Ayat ketiga
يَوْمَ لا يُخْزِي اللهُ النَّبِيَّ وَ الَّذينَ آمَنُوا مَعَه نُورُهُمْ يَسْعى‏ بَيْنَ أَيْديهِمْ
pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka [31]
Ayat ini tidak menunjukkan bahwa seluruh sahabat nabi seluruhnya adalah beriman dan akan masuk syurga, akan tetapi justru menunjukkan bahwa orang-orang yang bersama nabi yang beriman bukan seluruhnya maka mereka akan mendapatkan kenikmatan. Keimanan disini memerlukan syarat diantaranya kelanggengan iman sampai akhir hayat, sebab ada juga yang pada awalnya beriman selanjutnya tidak beriman dan merasakan keraguan bahkan kembali ke belakang seperti di dalam ayat alquran :
1. Yang menunjukkan adanya keraguan pada hati para shahabat dan ummat nabi seperti di dalam ayat :
Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, lalu mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.[32]
Disini dapat dikatakan bahwa orang-orang mungkin saja kembali ke belakang dan menjadi murtad, sehingga tidak memastikan seluruh sahabat pada saat itu juga seluruhnya beriman sampai akhir hayatnya, seperti yang ditulis di berbagai kitab hadits yang menunjukkan sebagaian sahabat yang kembali kebelakang (tidak beriman), yang akan dibahas pada pembahasan hadits.
2. Yang menunjukkan kewajiban bertobat di kalangan sahabat nabi.
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسى‏ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئاتِكُمْ وَ يُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْري مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya.[33]
Disini bisa dilihat bahwa perintah bertaubat tidak mungkin dikeluarkan kalau memang tak ada orang yang berbuat dosa pada saat itu, begitu juga ayat ini berlaku umum. Oleh sebab itu ayat tersebut memastikan keberadaan orang yang berbuat dosa dan kesalahan. Sehingga dengan bertaubat tersebut Allah akan memasukkan ke dalam syurga. Ditambah lagi ayat tersebut mengandung عَسى‏ رَبُّكُمْ yang bermakna “pengharapan” supaya Allah dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan dengan taubat tersebut.
3. Ayat yang menunjukkan sebagian dari mereka berbuat kemunafikan
يَوْمَ يَقُولُ الْمُنافِقُونَ وَ الْمُنافِقاتُ لِلَّذينَ آمَنُوا انْظُرُونا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ
(Yaitu) pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.[34]
إِذا جاءَكَ الْمُنافِقُونَ قالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللهِ وَ اللهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَ اللهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنافِقينَ لَكاذِبُونَ
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar rasul-Nya dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.[35]
وَ مِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرابِ مُنافِقُونَ وَ مِنْ أَهْلِ الْمَدينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلى‏ عَذابٍ عَظيمٍ
Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.[36]
Masih banyak ayat-ayat di dalamAl-Quran yang menunjukkan kemunafikan dari sebagian sahabat nabi, yang dimana kami cukupkan dengan tiga ayat diatas.
4. Ayat keempat
لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ ما في‏ قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكينَةَ عَلَيْهِمْ وَ أَثابَهُمْ فَتْحاً قَريباً
Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon. Allah mengetahui keimanan dan kejujuran yang ada dalam hati mereka. Oleh karena itu, Dia menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).[37]
Ayat tersebut tidak bisa dijadikan dalil keadilan seluruh sahabat nabi , dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Ayat tersebut tidak memutlakkan keadilan seluruh sahabat yang hidup di zaman nabi karena
a. Hanya sebagian sahabat yang berbaiat di masa baiatul Aqabah tersebut, logikanya masih banyak sahabat nabi di madinah yang tinggal tidak ikut pergi ke peristiwa Hudaibiyah tersebut.
b. Adapun sahabat yang berbai’at dengan benar dikenai syarat supaya setia kepada rasul dengan bai’at tersebut, seperti yang dikatakan ibnu Katsir[38] dan Zamaksyari dan yang lainna dalam tafsir mereka masing-masing , karena dalam ayat tersebut memuat jumlah syarat seperti yang dijelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa :
Orang-orang yang berbaiat kepadamu, sesungguhnya mereka berbaiat kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barang siapa yang melanggar baiatnya, niscaya akibat ia melanggar baiat itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati baiatnya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.[39]
Sehingga barangsiapa yang melanggar bai’at tersebut maka akan tertimpa bala petaka bagi dirinya sendiri . Sedangkan di dalam hadits banyak sekali dibahas mengenai ketidak setiaan mereka, misalnya didalam kitab ahlussunnah :
1. Larinya sebagian sahabat sampai berjumlah 80 orang dalam perang Hunain.[40]
2. Mundurnya mereka dari perang hunain meninggalkan nabi sendirian.[41]sebagian mengatakan yang tinggal hanya berempat mereka adalah tiga orang dari bani Hasyim dan satu orang Imam Ali as.[42]
3. Ditambah lagi orang-orang yang ikut berbaiat tersebut melakukan pembunuhan yang diluar syariat misalnya :
a. Abdul Ar-Rahman ibn ‘Udais Al-Balawi[43] yang membunuh Utsman , sedangkan kita tahu menurut Ahlussunnah Utsman bin Afan adalah sahabat nabi.
b. Abu Al-Ghadiah yang membunuh Ammar ibn Yasir yang berbai’at di bawah pohon.[44] sedangkan dalam Al-quran dikatakan bahwa orang-orang yang membunuh orang beriman maka azabnya adalah neraka jahannam.[45]
Sedangkan dengan sangat jelas dikatakan bahwa rasulullah bersabda “Barangsiapa yang membunuh Ammar maka akan dikuliti di neraka.[46] Ditulis pula pada shahih bukhari[47] dikatakan bahwa orang yang membunuhnya adalah golongan yang memberontak pada pemerintahan yang syah. Seperti kita ketahui bahwa Ammar bin Yasir syahid di perang Shiffin yang dimana muawiyyah memberontak terhadap pemerintahan Imam Ali as.
4. Hadits yang menceritakan bahwa orang yang berbai’at dengan nabi di bawah pohon tersebut akan melakukan pengkhianatan setelahnya, dari Ala bin Al-Musib dari bapaknya berkata : aku bertemu dengan Al-Bara bin ‘Azib ra dan aku mengatakan : kebaikan untukmu aku telah berteman dengan nabi saww dan berbaiat kepadanya di bawah pohon, dan dia berkata : Wahai putra saudaraku sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang terjadi setelahnya.[48]
Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa ayat tersebut menunjukkan bahwa keridhoan Allah kepada Orang mukmin dimana hal tersebut diambil dari hukum maudhu’iyyah (atau yang sesuai dengan syarat-syaratnya) bukan seluruhnya orang yang berbai’at di bawah pohon jikalau maksudnya seluruhnya maka akan dikatakan
لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ كل الْمُؤْمِنين

5. Ayat kelima
وَ السَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهاجِرينَ وَ الْأَنْصارِ وَ الَّذينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَ رَضُوا عَنْهُ وَ أَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْري تَحْتَهَا الْأَنْهارُ خالِدينَ فيها أَبَداً ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.[49]
Ayat ini tidak menunjukkan bahwa Allah Ridha kepada seluruh sahabat nabi saww dari Muhajirin wal Anshar, dengan argumen seperti berikut:
1. Dalam berbagai macam kitab tafsir terjadi perbedaan pendapat dalam makna assbiquunalawaluun dinisbatkan kepada Almuhajirin dan Al-Anshar seperti dalam Ad-Durul Mantsur tafsir Aljalalain, tafsir Qurthubi mengatakan bahwa mereka assabiqunal awwalun adalah yang mengalami shalat dua kiblat dan ahli perang badar atau yang berbaiat baiatul Ridwan ada juga yang mengatakan sahabat yang sebelum hijrah[50] , Az-Zamaksyari dalam kitabnya Al-kasyaf yang menyebutkan bahwa assbiquual awwaluun untuk seluruh umat nabi. Oleh sebab itu tidak ada kesepakatan dari tafsir-tafsir mereka dan dalil-dalil yang ada serta tidak menunjukkan keadilan sahabat seluruhnya dari lafadh ayat ini, karena tidak ada yang menafsirkan seluruh sahabat adil dengan ayat tersebut, bahkan yang menafsirkan orang-orang yang pertama masuk Islampun berbeda-beda di kalangan ahlussunnah.
2. Banyak para mufassirin mengatakan bahwa assabiquunal awwaluun minal muhajirin wal anshar adalah tidak menunjukkan seluruh shahabat akan tetapi sebagian dari mereka karena memiliki makna tab’idhiah (sebagian). Yakni sebagian dari Muhajirin dan sebagian dari Anshar yang lebih dulu dan utama dalam beriman. Karena secara dhahirpun tidak menunjukkan dalil akan keadilan seluruh shahabat. Dan yang dimaksud dengan assabiquunal awwaluun adalah bukanlah orang yang lebih dulu masuk islam saja secara mutlak tanpa memperhatikan keimanan akan tetapi orang yang khusus dengan imannya yaitu orang-orang yang lebih dulu dengan imannya seperti dalam Al-Quran
وَ الَّذينَ جاؤُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَ لِإِخْوانِنَا الَّذينَ سَبَقُونا بِالْإيمانِ وَلا تَجْعَلْ في‏ قُلُوبِنا غِلاًّ لِلَّذينَ آمَنُوا رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحيمٌ
Dan (begitu juga harta itu untuk) orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), sedang mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”[51]
Assabiquna bil iman maksudnya lebih dulu dalam makna Iman.
Ayat selanjutnya mengatakan bahwa sahabat ada yang munafik yang menyembunyikan kekafirannya
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذينَ نافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوانِهِمُ الَّذينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلا نُطيعُ فيكُمْ أَحَداً أَبَداً وَ إِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَ اللهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكاذِبُونَ
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara kafir mereka dari ahli kitab, “Jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersamamu, dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantumu.” Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.[52]
Sehingga tidak ada dalil yang memutlakkan orang lebih dulu seluruhnya beriman. Karena sebagian menyembunyikan ketidak berimannya (munafik).
3. Ayat Sebelum Hijrah nabi yang menunjukkan sebagian sahabat nabi memiliki penakit hati (munafik)
وَما جَعَلْنا أَصْحابَ النَّارِ إِلاَّ مَلائِكَةً وَما جَعَلْنا عِدَّتَهُمْ إِلاَّ فِتْنَةً لِلَّذينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذينَ أُوتُوا الْكِتابَ وَ يَزْدادَ الَّذينَ آمَنُوا إيماناً وَلا يَرْتابَ الَّذينَ أُوتُوا الْكِتابَ وَ الْمُؤْمِنُونَ وَ لِيَقُولَ الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ……
Kami tidak menjadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan sebagai cobaan bagi orang-orang kafir supaya ahli kitab (Yahudi dan Kristen) menjadi yakin, supaya iman orang yang beriman bertambah, supaya ahli kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit….
4. atba’uhum biihsan (Dan yang mengikuti mereka dengan atau pada kebaikan sampai akhir zaman) huruf “ba” disana bisa dimaknai dengan cara mengikuti dengan kebaikan ada juga dengan makna mengikuti pada kebaikan atau dengan makna” fi” dan disini lebih sesuai dengan kandungan makna ayat tersebut, sebab orang yang mengikuti orang-orang sebelumnya bukanlah pada jalan yang fasik, munafik, maksiat dan lain-lain akan tetapi mengikuti dalam jalan yang baik dan ketaatan dan keimanan kepada Allah SWT. Seperti hal nya dalam Alquran yang menunjukkan sebagian sahabat yang melakukan kemunafikan yang telah disebutkan diatas maka kita tidak boleh mengikuti mereka.
4. radhiallahu anhu waradhu anhu artinya Allah ridha kepada mereka yang utama dan lebih dulu dalam beriman yang menjalankan perbuatan kebaikan. Jadi bukan ridha kepada seluruhnya dari mereka secara muthlaq tanpa melihat baik dan buruknya perbuatan mereka.

6 Ayat ke enam
وَما لَكُمْ أَلاَّ تُنْفِقُوا في‏ سَبيلِ اللهِ وَ لِلَّهِ ميراثُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ لا يَسْتَوي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَ قاتَلَ أُولٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَ قاتَلُوا وَ كُلاًّ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنى‏ وَ اللهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبير
Mengapa kamu tidak menginfakkan (sebagian hartamu) di jalan Allah, padahal Allah-lah yang mewarisi langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sebelum tercapai kemenangan (dengan orang yang menginfakkannya setelah kemenangan tercapai). Mereka memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Tapi Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.[53]
Ayat tersebut justru dengan jelas menunjukkan kenyataannya bahwa sebagian shahabat tidak menginfaqqan hartanya dijalan Allah dengan disertai sebuah keterangan bahwa Infaq dan berperang sebelum lebih baik dari infaq dan jihad sesudah kemenangan. Dan Allah menjanjikan kepada mereka yang menginfaqqan itu balasan kebaikan. Dan yang tidak disifati dengan perbuatan itu Allah tak akan membalas kebaikan kepada mereka.
7. Ayat ketujuh
لَقَدْ تابَ اللهُ عَلَى النَّبِيِّ وَ الْمُهاجِرينَ وَ الْأَنْصارِ الَّذينَ اتَّبَعُوهُ في‏ ساعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ ما كادَ يَزيغُ قُلُوبُ فَريقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُوفٌ رَحيمٌ
Sesungguhnya Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepada nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar, yang mengikuti nabi dalam masa kesulitan (perang Tabuk), setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling (dan melarikan diri dari medan perang), kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.[54]
Tidak ada alamat yang menunjukkan dalam ayat tersebut mengenai seluruh sahabat nabi itu adil justru dengan sangat jelas menunjukkan sebagian dari mereka itu lari dari peperangan.
Adapun permasalahan kedua mengenai kata taaba. Alamah Thabathabai di dalam tafsir mizannya mengatakan bahwa makna taaba (mengampuni) pada tsumma taaba mengandung dua makna pertama adalah taufiq , rahmah dan hidayah, yang kedua adalah penerimaan ampunan dosa.[55] Hal ini bisa dipahami sebab tak mungkin Allah memberikan ampunan begitu saja tanpa adanya usaha meminta ampun dari makhluqnya, seperti yang tertulis di dalam Alquran
لَهَا مَا كَسَبَتْ وَ عَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
Ia mendapatkan pahala (dari kebaikan) yang telah diusahakannya dan mendapatkan siksa (dari kejahatan) yang telah dikerjakannya.[56]
ذلِكَ بِأَنَّ اللهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّراً نِعْمَةً أَنْعَمَها عَلى‏ قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا ما بِأَنْفُسِهِمْ
Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.[57]
Sehingga tak mungkin Allah memberikan taubat jikalau makhluqnya tidak bertaubat, bahkan mereka lari dari peperangan, oleh sebab itu tidak ada sandaran dalil yang menunjukkan mereka itu bertaubat dalam ayat tersebut sehingga makna yang sesuai adalah makna pertama yakni Allah memberikan hidayah dan taufiq kepada mereka untuk bertaubat, baik mereka itu menerima hidayahnya atau tidak menerima.

C. As-Sunnah
Beberapa golongan yang meyakini bahwa seluruh sahabat nabi itu adil mengambil dalil dari hadits untuk membenarkan keyakinan mereka itu diantaranya :
A. Hadits pertama
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
Umat yang terbaik adalah di masaku kemudian masa setelahnya.[58]
Keterangan :
1. Jikalau hadits ini benar adanya tetap tidak menunjukkan kebaikan seluruh sahabat nabi, karena an¬nas (manusia) atau disebagian hadits lain dilafadzkan dengan al-ummat pada hakikatnya tidak menunjukkan setiap orang (satu-satu) dari masanya nabi baik. karena tidak ada qarinah atau penyerta yang menunjukkan dalil kesetiap orang di zamannya itu baik. Semisal kita mengatakan
Masyarakat disini ramah. Apakah seluruh masyarakat disini ramah atau maksudnya sebagian masyarakat disini? An-nas disana menunjukkan pengertian sebagian manusia yang memenuhi syaratnya maka dikatakan yang terbaik, bukan seluruhnya manusia di zaman itu.
2. Walaupun Bukhari dan muslim mengklaim shahih hadits ini akan tetapi tidak menunjukkan kemutawatiran akan kesahihannya dan juga dalam lafadz haditsnya berbeda-beda, hadits yang semisal dengan itu diantaranya :
a. Dari Abi Hurairah rasul bersabda :Kheirun nas qarni tsumma alladzina yaluunahum tsumma alladzi yaluunahum tsumma alladzi yaluunahum tsumma ar-raabi’ ardzala ila yaumil qiyamah.
Umat yang terbaik adalah di masaku kemudian masa setelahnya, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya, kemudian yang keempat yang terburuk sampai hari kiamat.
At-Thabrani di dalam kitab Al-Ausath di dalamnya ada dawud ibn yazid al-adawi dan dia dha’if
b. Dari Abi Barzah Al-Aslami dari nabi saww bersabda : Kheirun nas qarni tsumma alladzina yaluunahum tsumma alladzina yaluunahum
At-Thabrani mengatakan dalam didalamnya ada yang tidak dikenal (perawinya)
c. Dari Anas sesungguhnya nabi saww bersabda : Kheirun nas qarni tsumma alladzina yaluunahum tsumma alladzina yaluunahum
didalamnya ada yusuf ibn ‘Athiah (perawinya) dan dia dikenal matruk atau ditinggalkan ditolak.
d. Dari Ju’dah ibnu Hubairah mengatakan nabi bersabda saww : Kheirun nas qarni tsumma alladzina yaluunahum tsumma alladzina yaluunahum tsumma alladzina yaluunahum tsumma alaakharuun ardzal
Umat yang terbaik adalah di masaku kemudian masa setelahnya, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya, dan yang terakhir yang paling buruk.
At-Thabrani mengatakan idris ibn yazid alaudi tidak pernah didengar
Albani [59]mengatakan dha’if
e. Dari Binti Abi Lahab nabi bersabda : kheirun nasqarani
At-Thabrani mengatakan zauj binti Abi Jahal tidak dikenal

3. Hadis tersebut bertolak belakang dengan hadits lainnya yang shahih semisal
a. Dari Abu Dzar rasul bersabda : Umat yang sangat mencintaiku adalah umat setelahku mereka menginginkan melihatku meskipun harus memberikan keluarga dan hartanya.[60]
hal yang serupa dengan hadits a. Terletak di kitab Majma’ Azawaid dan Ahmad mengatakan bahwa rijal kedua jalan hadits tersebut shahih.
b. Dari Musnad Abi Dawud dari Umar Berkata : Aku sedang duduk, kemudian nabi saww bersabda : apakah kalian mengetahui siapakah makhluk yang paling afdhal imannya? Dan kami menjawab Al-malaikah, beliau bersabda : benar , lalu selainnya, kami berkata : Anbiya, beliau bersabda : benar, lalu , kami menjawab : para syuhada, beliau bersabda : dan itu juga benar, lalu selainnya ?, kemudian rasul melanjutkan sabdanya : Iman yang paling afdhal diantara makhluk adalah kaum dari laki-laki , mereka beriman kepadaku tapi tidak melihatku, mereka dengan kertas dapat mengetahuiku dan beriman padaku merekalah yang paling afdhal imannya.[61]
Hadits yang serupa ditulis pula terletak pada kitab majma Az-Zawaid[62]
Masih banyak hadits lainnya yang justru menyatakan bahwa umat setelah wafatnya nabi adalah umat yang lebih afdhal keimanannya.
2. Diriwayatkan dari Abi Dzar, Bersabda rasulullah saww : Sesungguhnya Umat yang sangat mencintaiku adalah qaum yang akan datang setelahku ….[63]

2. Hadits Kedua
إن الله اختار أصحابي على العالمين ، سوى النبيين و المرسلين، و اختر لي من اصحابي أربعة – يعني أبا بكر، و عمر، و عثمان ، و علياً، رحمهم الله….
Sesungguhnya Allah telah memilih Sahabat-sahabtku dari seluruh alam, kecuali atas para nabi dan mursalin. Dan memilihnya untukku dari para sahabatku empat orang yakni Abu Bakar, dan Umar, dan Utsman dan Ali Rahimallahu…[64]

Kita bisa melihat didalam kitab Rijal (penelitian perawi hadits) ahlussunnah bahwa hadis ini dinyatakan maudhu (palsu) semisal Adz- Dzahabi di dalam kitabnya Sair A’lam An-Nubala’[65] ulama besar ahlussunnah mengatakan bahwa hadits tersebut adalah palsu, begitu juga Syamsuddin Adz-Adzahabi[66] dalam kitabnya Mizan Al-I’tidal, Almazi dalam Tahdzib Al-Kamal[67], dan Ibnu Hajar dalam kitabnya tahdzib at-tahdzib[68].

3. Hadits ketiga

لا تسبوا أصحابي فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مثل مد أحدكم ولا نصيفه
“Jangan mencela sahabatku, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas seperti gunung Uhud maka ia tetap tidak menandingi satu mud bahkan setengahnya yang diinfakkan oleh salah seorang dari mereka.” [69]
Hadits ini tertulis didalam kitab Bukhali dan Muslim, walaupun mereka mengklaim hadit ini shahih akan tetapi tidak sampai kepada kemutawatiran. Hadits yang serupa dengan isi kalimah yang sedikit berbeda dinyatakan Dha’if oleh Al-Bani.[70]
Pendapat mengenai hadits ini :
1. Ibnu Hajar mengatakan bahwa sebab dari riwayat ini adalah dikarenakan diantara Khalid bin Al-Walid dan ‘Abdurrahman bin ‘auf terjadi sesatu (perselisihan) dan(Khalid) menghinanya, kemudian rasul bersabda hadits ini[71].
2. Asqalani[72] ,Al-Mubarak Alfuri[73] dan Al-Abadi[74] , mengatakan bahwa maksud dari Sahabat disini adalah yang khusus (tidak mutlak seluruhnya) dan merekalah yang lebih dulu dalam berislam. Bahkan An-nawawi mengatakan, bahwa Al-Qadi mengatakan dan dari ahli hadits yang mengatakan keutamaan ini dikhususkan kepada yang lama persahabatannya (dengan nabi) dan yang berperang bersamanya (nabi) dan berinfaq dan yang berhijrah , serta yang menolong, dan hal ini bukan untuk orang yang melihatnya (nabi) sekali seperti pendatang orang badui dan shahabat terakhir setelah futuh Mekkah.Dan juga bukan bagi orang setelah Agama itu menang (mulia) dimana tidak ada hijrah baginya dan tak ada pengaruh serta manfaat bagi agama dan umat Islam.[75]
3. Atau maksudna adalah yang berislam sebelum Futuh Mekkah
….Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sebelum tercapai kemenangan (dengan orang yang menginfakkannya setelah kemenangan tercapai). Mereka memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Tapi Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan[76]

Di sebagian tempat di dalam Al-Quran dan Sunnah rasulillah saww mencela bahkan lebih dari itu , walaupun ayat ini bisa pula berlaku umum bagi siapa saja yang memenuhi syarat didalamnya. misalnya :
A. Ayat Al-Quran :
1. Ayat Pertama : Kepada orang Munafik dan orang-orang musyrik
وَ يُعَذِّبَ الْمُنافِقينَ وَ الْمُنافِقاتِ وَ الْمُشْرِكينَ وَ الْمُشْرِكاتِ الظَّانِّينَ بِاللهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ
دائِرَةُ السَّوْءِ وَ غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَ لَعَنَهُمْ وَ أَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَ ساءَتْ مَصيراً
dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.[77]
2. Ayat kedua : Orang-orang munafik dan orang-orang Kafir
وَعَدَ اللهُ الْمُنافِقينَ وَ الْمُنافِقاتِ وَ الْكُفَّارَ نارَ جَهَنَّمَ خالِدينَ فيها هِيَ حَسْبُهُمْ وَ لَعَنَهُمُ اللهُ وَ لَهُمْ عَذابٌ مُقيمٌ
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal.[78]

3. Ayat ketiga: khusus kepada orang-orang yang merusak janji dengan Allah, dan melakukan kerusakan di muka bumi
وَ الَّذينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللهِ مِنْ بَعْدِ ميثاقِهِ وَ يَقْطَعُونَ ما أَمَرَ اللهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَ لَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh, memutuskan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mengadakan kerusakan di muka bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).[79]
4.Ayat keempat : Yang menyakiti Rasulullah saww.
إِنَّ الَّذينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَ رَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذاباً مُهيناً
Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.[80]
5 Ayat Kelima : Orang yang membunuh Mukmin
وَ مَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزاؤُهُ جَهَنَّمُ خالِداً فيها وَ غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَ لَعَنَهُ وَ أَعَدَّ لَهُ عَذاباً عَظيماً
Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.[81]
Lebih dari 40 ayat yang menceritakan tentang celaan dan yang lebih dari itu dari pihak Allah kepada orang Munafik, Dzalim, yang merusak janji Allah, dll.
B. Hadits Nabi saww:
1. Imam Syafei berkata[82] , Rasul bersabda : Laknat Allah bagi para Mukhtafi (munafik) dan Mukftafiah.
2. Tarikh Tabari [83], Ketika rasulullan saww melihat Abu safyan berdiri dekat himar, dan Muawiyah menunggangnya, serta yazid mengendarainya, rasul bersabda :
Laknat Allah kepada yang berdiri (dekat himar) dan yang menungganginya serta yang mengendarainya.
Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang mengisyaratkan pencelaan kepada sebagian dari mereka.

Kesimpulannya : Bahwa hadits tersebut walaupun diklaim oleh Bukhari dan Muslim shahih tidak menunjukkan ketawatirannya dan juga isi dari hadits tersebut tidak menunjukkan keadilan seluruh sahabat secara mutlak, sebab banyak keterangan yang menyertainya bahwa sahabat yang dimaksud adalah sahabat yang khusus. Seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya bahwa ayat dan hadits yang ada tidak menunjukkan kepada seluruh dari sahabat nabi saww akan tetapi sebagian yang memenuhi syarat tentunya. Sebab dari masa sebelum hijrah , sesudah hijrah bahkan setelah futuh mekkah sebagian sahabat adalah munafik atau yang menyembunyikan kekafirannya.

3. Hadis ketiga
أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم
Sahabat Nabi seperti Bintang dengan mereka kalian mengikutinya dan mendapatkan hidayah.

Yang sangat disayangkan banyak yang menggunakan hadits ini dalam kitab-kitab tafsir dan kitab ushul serta kitab fiqih , mereka berargumen dengan hadits ini untuk memutlakkan semua hadits yang ada dari semua sahabat tanpa terkecuali. Akan tetapi banyak sekali para ulama ahlussunnah pun menafikan kesahihan hadits ini diantaranya :
1. Ahmad ibn Hanbal mengatakan : tidak shahih [84]
2. Ibnu Abdil Bar dalam Jamiul Bayan Al-‘ilm mengatakan : tidak shahih[85]
3. Ibnu Hajar dalam thrir alkasyaf mengatakan bahwa daruqutni dalam hadits yang asing[86]
4. Ibnu Hazm dalam risalahnya ibthal al-qiyas mengatakan bahwa khabar ini palsu , bathil tidak sah.[87]
5. Adzdzahabi dalammizan al-I’tidal mengatakan hadits tersebut bathil[88]

Dan masih banyak dari ulama ahlussunnah yang dalam kitab haditsnya membathilkan khabar hadits tersebut.

4. Hadits kelima:
الله الله في أصحابي لا تتخذوهم غرضاً بعدي ، فمن أحبّهم فقد أحبّني ومن أبغضهم فقد أبغضني، ومن آذاهم فقد آذاني، ومن آذاني فقد آذى الله .[89]

Allah Allah bersama sahabatku Janganlah membuat jemu (kesal mereka), Barangsiapa yang mencintai mereka maka mereka mencintaiku, barangsiapa yang membenci mereka maka membenciku, barangsiapa yang menyakiti mereka maka mereka menyakitiku, dan yang menyakitiku maka dia menakiti Allah SWT.

Banyak sekali para ulama ahli hadits ahlussunnah yang mengatakan bahwa hadits ini adalah palsu diantaranya Al-Qaisrani[90], Ahmad ibn Ishaq[91], Albani.[92]

5. Hadits keenam

سيجري بين أصحابي هنيئة القاتل و المقتول في الجنة

Akan terjadi dantara sahabatku (saling membunuh) dan pembunuh serta yang dibunuh di syurga.

Ibnu Qaisrani mengatakan hadits ini dha’if[93]
Dan hadits jelas-jelas bertolak belakang dan tak ssuai dengan Ayat Al-quran dan hadits nabi yang menyatakan bahwa orang yang membunuh orang beriman dengan sengaja maka tempatnya dineraka seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Prilaku Sebagian Sahabat terhadap nabi saww dan sesamanya
Dengan penjelasan tersebut diatas bahwa sebagian sahabat nabi ada yang munafik menafikan pernyataan bahwa semua sahabat nabi itu adil, berikut juga beberapa dalil yang menunjukkan mengenai perilaku sahabat nabi dari mulai menyembunyikan kebenaran, berbohong dan melakukan penghinaan terhadap nabi , serta pembunuhan antar sesama dan perilaku lain yang menjadi bukti ketidak adilan sebagian dari sahabt nabi saww.

A. Ayat Al-Quran
1. Sebagian sahabat Nabi yang membawa berita bohong (peristiwa Al-Ifki)
إِنَّ الَّذينَ جاؤُو بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَ الَّذي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذابٌ عَظيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagimu, bahkan berita itu adalah baik bagimu. Tiap-tiap orang dari mereka memiliki saham dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.[94]
Ayat tersebut menceritakan mengenai sebagian sahabat munafiq yang menyebarkan kebohongan bahkan penghinaan yang pantas menyangkut kehormatan rasulullah saww, untuk lebih lanjutnya bisa dirujuk dalam Muslim[95]
2. Ayat kedua yang turun mengenai Al-Ghulul
وَما كانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَ مَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِما غَلَّ يَوْمَ الْقِيامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ ما كَسَبَتْ وَ هُمْ لا يُظْلَمُونَ
(Kamu menyangka bahwa Nabi berkhianat, sedang) tidak mungkin seorang nabi berkhianat. Barang siapa yang berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang telah dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.[96]
Al-ghulul menurut bahasa yakni perampasan, pencurian dan pengkhianatan dari ghanimah seperti yang dikatakan ibnu katsir dalam nihayah[97] .
Disebutkan bahwa sebagian sahabat nabi memfitnah dan menghina nabi bahwa nabi mencuri barang ghanimah di perang badar seperti yang diriwayatkan oleh ibnu abbas, dia berkata bahwa turunnya ayat ini dalam masalah ghanimah yang hilang di perang badar, dan berkata sebagian dari manusia dengan prasangka buruk bahwa nabi-lah yang mencurinya, lalu turunlah ayat tersebut.[98]Begitu juga Alusi mengatakan hal yang serupa.[99]
Betapa hinanya persangkaan dengan memfitnah rasulullah melakukan perbuatan yang sebebarnya tak pantas dinisbatkan kepada rasulullah saww.

3. Ayat ketiga :
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مالا تَفْعَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?
كَبُرَ مَقْتاً عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مالا تَفْعَلُونَ
Amat besar kebencian di sisi Allah bila kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.[100]
Ayat tersebut turun pada kaum munafik yang tidak melaksanakan apa yang menjadi janjinya[101]

4. Ayat keempat, sebagian sahabat kikir tidak mau menginfaqqan dijalan Allah saww
إِنْ يَسْئَلْكُمُوها فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا وَ يُخْرِجْ أَضْغانَكُمْ
Karena jika Dia meminta harta kepadamu, meskipun Dia mendesak kamu (supaya memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu.
ها أَنْتُمْ هٰؤُلاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا في‏ سَبيلِ اللهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَ مَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّما يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَ اللهُ الْغَنِيُّ وَ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ وَ إِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثالَكُمْ
Ingatlah, kamu ini adalah orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-(Nya); dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).[102]
5.Ayat Kelima, kecemburuan dua oang wanita
إِنْ تَتُوبا إِلَى اللهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُما وَ إِنْ تَظاهَرا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللهَ هُوَ مَوْلاهُ وَ جِبْريلُ وَ صالِحُ الْمُؤْمِنينَ وَ الْمَلائِكَةُ بَعْدَ ذٰلِكَ ظَهيرٌ
Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka (hal itu lebih baik bagimu; karena) hatimu betul-betul telah menyimpang (dari kebenaran). Tetapi jika kamu berdua bantu-membantu untuk menyusahkan nabi, maka sesungguhnya Allah, Jibril, dan orang-orang mukmin yang saleh adalah pelindungnya; dan lebih dari itu para malaikat adalah penolongnya pula.[103]
Ayat ini mengkisahkan tentang dua wanita saling bantu-membantu menyusahkan nabi saww dengan kecemburuan mereka yang berlebihan dan menyebarkan rahasianya.[104], disebutkan pula dalam bukhari muslim yang diriwayatkan dari ibnu abas.[105]
6. Sebagian sahabat ada yang saling mengolok-olok dan menghina
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسى‏ أَنْ يَكُونُوا خَيْراً مِنْهُمْ وَلا نِساءٌ مِنْ نِساءٍ عَسى‏ أَنْ يَكُنَّ خَيْراً مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنابَزُوا بِالْأَلْقابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإيمانِ وَ مَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olok). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri (baca: sesama saudara seiman) dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (berbau kefasikan) sesudah seseorang beriman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.[106]

B. Dari Hadits
1. Hadits pertama : meninggalkan shalat Jumah dengan nabi dikarenakan dagangan makanan
Dari Salim ibn Abi Al-Ju’d berkata : Meriwayatkan kepada kami Jabir Ibn Abdullah berkata : Ketika kami shalat bersama nabi saww datanglah kafilah yang mengumumkan barang dagangannya berupa makanan, kemudian perhatian shabat beralih kepadanya (dan pergi menghampiri pedagang tersebut) sampai dimana bersisa dengan nabi hanya sebelas orang, kemudian turunlah ayat ini [107]
وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً
Apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan meninggalkan kamu sedang berdiri .[108]
Ayat tersebut menunjukkan ketidakpedulian sebagian sahabat dengan berjamaah shalat Jumat dengan Nabi saww, dikarenakan hal itu rasululah saww mengkhabarkan buat mereka lembah api (neraka) [109]
2. Hadits Kedua : Larangan nabi dari pembunuhan
Dari Abdullah ibn umar dari nabi saww bersabda : janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir yang satu membunuh yang lainnya.[110]
3. Hadits ketiga : Sebagian sahabat merubah hukum dan sunnah nabi.
Abu Hazim daripada Sahl bin Sa’d daripada Nabi saww. Nabi saww. bersabda: Aku akan mendahului kalian di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan segera meminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan merasa kehausan selama-lamanya. Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali, dan mereka juga mengenaliku. Kemudian datang penghalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata: Nu’man bin Abi ‘iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah mendengar sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Ya. Aku bersaksi bahwa aku telah mendengar Abu Sa ‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi saww. bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah dari sahabatku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka. Aku akan bersabda: Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah/menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (suhqan suhqan li-man ghayyara ba’di).[111]
4. Hadits keempat : Sebagian sahabat ada yang berbuat zinah seperti yang disebutkan dalam sahih muslim dan bukhari. Diantaranya diriwayatkan dari Jabir bahwa Ma’iz ibn Malik melihat pemuda berbuat zinah[112], dari ‘Abdullah bahwa seorang wanita dimana dia dizaman Jahiliah adalah pelacur dan dia melihat laki-laki laki menghampirinya begitu juga dia menghampiri laki-laki untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh.[113]
4. Sebagian shahabat nabi meminum Khamr (minuman keras)
Diantaranya diriwayatkan dari‘Abdullah ibn Baridah mengatakan : Aku bersama ayahku datang ke rumah muawiyah, dan kami duduk diatar kapet, kemudian dia menghidangi kami dengan makanan , tak lama kemudian kami memakannya, kemudian dia menghidangi kami dengan khamr (minuman keras) dan Muawiyah meminumnya, dan ayahku juga, akan tetapi aku berkata aku tidak meminumnya semenjak rasul saww mengharamkannya.[114]
5. Sebagian Shahabat melakukan kezaliman
Diantaranya : peristiwa pengepungan rumah sayyidah zahra as setelah wafatnya nabi dan pemaksaan kepada mereka untuk membaiat khalifahnya.[115] Perampasan tanah fadak dari tangan putri rasulullah saww.[116]
Dari Abdurrahman bin Abdu rabbil ka’bah ketika berbincang- bincang dengan abdullah ibn amru ibn al’ash di dekat ka’bah mengenai sabda rasulullah saww yang dimana beliau memberikan gambaran mengenai umat yang baik yang saling mengajari kepada kebaikan dan ada juga umat yang mendatangkan bencana dan fitnah. Kemudian dia berkata : demi Allah apakah anda mendengar hal tesebut dari rasulullah kemudian dia memukulkan tangannya kesebelah kiri didekat hatinya dan mengatakan aku mendengar dengan kedua telingaku dan menghafalnya, dan aku berkata : dialah (yang membawa bencana itu) : putra pamanmu Muawiyah yang memerintahkan kita untuk memakan harta diantara kita dengan bathil, dan membunuh diantara kita, dan Allah berfirman :
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْباطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجارَةً عَنْ تَراضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كانَ بِكُمْ رَحيماً
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Kemudian dia berkata : aku terdiam sejenak kemudian berkata aku mentaatinya dalam ketaatan kepada Allah dan melanggarnya dalam maksiat kepada Allah.[117]

6. Sebagian Sahabat Ahli neraka
a. karena mereka bunuh diri dalam peperangan, seperti berita yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah tentang yang diduga syahid di perang khaibar , akan tetapi rasulullah saww mengatakan bahwa dia itu ahli neraka karena bunuh diri.[118]
b. Karena mereka itu Kaum khawarij , yang diriwayatkan oleh Jabir ibn Abdilah mengenai seorang laki-laki meragukan keadilan rasulullah saww.[119]
7. Sebagia sahabat mengaku dirinya bukan orang adil
‘Alaqah dari Abdullah berkata ketika turun ayat :
الَّذينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إيمانَهُمْ بِظُلْمٍ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), [120]
Dan berkata sahabat nabi saww , mana diantara kita yang tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman. [121]
Ini menandakan pengakuan mereka bahwa mereka mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman.

Penyebab Kebutaan Pandangan terhadap kenyataan sahabat
Sebagian dari kita sering mengelak dan bertaujih dengan segala kekurangan mereka dan memperkuat keinginan kita akan keadilan sahabat dengan :
a. Al-quran tanpa diteliti kandungan ayatnya supaya dengan membenarkan keyakinan akan keadilan seluruh sahabat secara mutlak. Sehingga disini quran mengikuti keinginan kita bukan kita mengikuti keinginan Alquran.
b. Banyak hadits tanpa dicek terlebih dahulu kesahihannya atau kemutawatirannya. Dan hubungan antara alquran dan al-hadits. Apakah kalau Quran mengatakan sebagian sahabat adalah munafik, lantas dengan membaca hadits yang masih ambigu bahwa manusia dijamannya adalah yang tebaik dapat menghapus ingatannya dari kajian alquran. Selain daripada itu juga banyak sekali hadits-hadits palsu yang dibuat-buat oleh penguasa di zaman muawiyah sebelum dan sesudahnya, sehingga meniscayakan bagi kita untuk mengecek kesahihan hadits terebut.
c. Anggapan adanya kelaziman mutlak antara guru dan murid tanpa syarat semisal bahwa rasulullah saww adalah murabbi dan pasti seluruh yang dibina beliau dizamannya adalah baik, padahal hal ini merupakan sesuatu yang keliru. Banyak pula sejarah di dalam quran yang menceritakan istri para nabi seperti istri nabi Luth as yang tidak mengindahkan perintahnya, anaknya nabi nuh as yang mengingkarinya, umatnya dan temannya nabi musa as yang kembali menjadi kafir.
d. Anggapan bahwa mereka adalah satu-satuna sumber syariat dan agama dari nabi, sehingga kesalahan mereka melazimkan kekacauan terhadap status keberadaan agama mereka. Padahal kita mengetahui bahwa Ahlulbait as merupakan sumber lain dari sunnah yang hakikatnya dari nabi saww.
e. Kurang melihat sebab-sebab dari kemunafikan, kemaksiatan, kemurtadan keraguan dari sebagian shahabat. Kita hanya melihat lafadh hadits yang keluar dari mereka. Sedangkan kita ketahui bahwa tak mungkin kita yakin akan lafadh seseorang dengan keadaan orang tersebut ragu, ingkar atau pembohong.
d. Anggapan bahwa sahabatlah yang menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Kita hanya melihat Islam hanya kekuasaan kehalifahan tanpa melihat ajaran yang dibawanya baik itu merusak atau tidak.
e. Anggapan bahwa parameter kebenaran adalah kekuasaan dimana yang berkuasa adalah benar baik itu dzalim atau tidak.
f. Kerancuan pemikiran Jabbariah yang dimana kehendak Tuhanlah keadaan yang menjadikan sahabat tersebut demikian , dan kehendak Tuhanlah yang menghapus dosa, kemunafikan sahabat, baik itu mereka bertobat ataupun tidak.
Penutup
Banyak sekali Ayat Al-quran dan hadits rasulullah saww yang mengambarkan ketidakadilan sahabat bahkan pernyataan dari sahabat sendiri kepada diri mereka, dan ini menjadi bukti yang jelas bahwa mereka sendiri melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang pantas bagi seseorang untuk menyandang sifat benar, adil tidak berbohong, taat kepada perintah maulanya. Oleh sebab itu pemikiran yang menutup secara mutlak kenyataan hidup masyarakat di suatu zaman khususnya di zaman nabi saww merupakan pemikiran yang tidak berdasarkan sumber yang jelas. Penggambaran suatu masayarakat di zaman nabi dengan sifat keadilan dan kesempurnaan akhlaq merupakan penggambaran khayalan belaka yang hanya ada di dunia roman atau dongeng cerita.

(Pernah Dimuat Di Jurnal Ma’Arif Vol.3)
Pengusun perangkum
Zen (Thalib Jamiah Ali- Al-bait qum Iran)

Rujukan inti:
1. Al-Quran
2. Al-Hadits
3. Ashabi fil Mizan , muallif Syeikh ‘Abbas Muhammadi
4. Ashshahabah, Muallif as-said Ali Al-husein al-milani
5. Ashabi wa idalatihi, muallif As-said Murtadha ‘Askari
6. Ashawarim almuhriqah fi jawabi ashawaiq almuhriqah, muallif Alqadhi Nurullah Tastari
7. As-syi’ah wa ashahabah , muallif Khalifah ubaidul kulbani amani

________________________________________
[1] Syarah An-Nawawi ‘ala shahih Muslim jilid ke-16 hal. 75.
[2] Shahih Bukhari , jilid ke-3 hadits 1335
[3] Lisanul Arab kata shahiba
[4] Mufradat Al-Quran Raghib Ishfahani kata shahib
[5] Alquran : Yusuf : 39
[6] Alquran : An-Najm :2
[7] Al-Anbiya : 43
[8] Nahwu inqadz At-tarikh al-Islami hal 256
[9] Shahih ibnu Hibban jilid 1 hal 126
[10] Hasyiah tadrib arawi jilid 2 hal 215
[11] Asadul Ghabah jilid 1 hal 3
[12] Alkifayah fi ‘ilmi ar-riwayah jilid 1 hal 47
[13] Al-Ishabah fi ma’rifatissahabah jilid 1 hal. 17-18
[14] Al-Ishabah fi ma’rifatissahabah jilid 1 hal.19
[15] Qawaidu At-Tahdits jilid 1 hal 200
[16] Tadrib Ar-rawi jilid 2 hal 214
[17] Almukhtashar al-Ushul jilid 2 hal 67
[18] Syarah Al-Maqashid jilid 5 hal. 310
[19] Alquran: AliImran :110
[20] Alquran: AliImran :104
[21] Yunus :47
[22] Al-baqarah 183
[23] Tafsir Qurtubi 4 :170
[24] Tafsir Thabari 4:43
[25] Addur AlMantsur 2:293
[26] Tafsir Ibnu Katsir :1:399
[27] Al-Anfal :53
[28] Al-Mukminun :13
[29] Majma’ul bayan 1:244 ; Alkasyaf 1:318 ; Al-Qurthubi 2 :154 ; An-Nisyaburi 1 :421 dan kitab tafsir lainnya
[30] Shahih Bukhari 4:1632, hadits ke 4218
[31] At-Tahrim :8
[32] Albaqarah : 217
[33] Al-Baqarah : 271
[34] Al-Hadid : 13
[35] Al-Munafiqun : 1
[36] At-Taubah 101
[37] Al-Fath : 18
[38] Ibnu Katsir 4:199 ; Alkasyaf 3:543
[39] Al-Fath :10
[40] Al-Mustadrak Ala Shahiain 2:12
[41] Shahih Bukhari 4 : 1572 hadits ke 4082 ; Shahih muslim 2 : 735, hadits :1059
[42] Mushannaf aIbnu Abi Syaibah 7:417 , hadits 36994
[43] Fathul bari 2:189 ; Attamhid liibni ‘abdilbar 10: 293, Ats-tsiqat liibni Hiban 2:256 dan dalil dia berbai’at dibawah pohon adalah Al-isti’ab 2 : 840, Thabaqat Al-Kubra 3 : 71 dan sumber-sumber lainnya.
[44] Siru A’lam An-Nubala 2: 533
[45] An-Nisa 93
[46] Al-Mustadrak ala shahihain 3 : 437 hadits 5661 ; Majma’ Azawaid : 7 244, dan dikatakan rizal hadits tersebut tsiqqah dan shahih
[47] Shahih Bukhari 1 : 172 , hadits 436; Shahih Muslim 4 : 2236, hadits 2916
[48] Shahih Bukhari 4 : 1529, hadits 3937
[49] At-Taubah 100
[50] Ad-Durul Mantsur 3:270, Tafsir Al-Qurthubi 17:119; Tafsir Al-Jalalain 1:258
[51] Al-Hasr : 10
[52] Al-Hasr :11
[53] Al-Hadid :10
[54] At-Taubah 117
[55] Al-Mizan 9:422
[56] Albaqarah 286
[57] Al-Anfal 53
[58] Sahih Al-Bukhari 2: 934 , hadits 2509
[59] Dha’if Al-Jami’ , hadits 2898, Silsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifah 4: 20 hadits 1511 dan juga juz kedelapan darinya hadits 3579,
[60] Shahih muslim 4:2178 hadits ke 2832, hadits serupa diriwayatkan dari Abu Hurairah di dalam kitab Al-Istidzkar 1 : 188
[61] Al-Istidzkar 1:188
[62] Ma[ma’ Az-Zawaid 10:65
[63] Shahih Muslim jilid 4: 2178, hadits : 2832
[64] Majma Az zawaid 10:16, I’tiqad Ahlussunnah 7: 1243
[65] Sair A’lam An-Nubala 10:414
[66] Mizan Al’Itidal 4:122
[67] Tahdzib AlKamal : 15:104
[68] Tahdzib At-Tahdzib : 5:225
[69] Shahih Muslim 4: 1978, Hadits 2540; Shahih Bukhari 3: 1343, hadits 3470.
[70] Dha’if Al-Jami’ 4: 5080
[71] Fathul Bari 8: 34, ‘Aun Al-MA’bud 12: 269
[72] Fathul bari 8: 34
[73] Tuhafah Al-Ahwadzi : 8: 338
[74] ‘Aun Al-Ma’bud 11: 333
[75]Syarah An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim 17: 93
[76] Al-Hadid 10
[77] Al-Fath :6
[78] At-Taubah :68
[79] Al-Baqarah :27
[80] Al-Ahzab : 57
[81] An-Nisa :93
[82] Kitab al-Umm jilid 6 hal 157
[83] Tarikh Thabari jilid 11, hal 357
[84] At-Taisir fi Syarh At-Tahrir 2:243
[85] Jami’ Bayan Al-ilm 2:90
[86] Al-Kaf As-Shaffi tahrirahadits alkashaf :3:638
[87] Al-Bahr Almuhith fi tafsirilquran liibni Hayan 5:538
[88] Mizan Al-Itidal 1: 413
[89] Sunan At-Tirmidzi 5: 696 hadits 3862, Musnat Ahmad 4: hadits 16839
[90] Dzakhirah Al-hifadz 1: 648
[91] Nuskhatunabith 1:17
[92] .Dha’if Al-Jami’ Aljuz’ Al-Awwal hadits 1160
[93] Dzakhiratulhifadz 5:6559
[94] An-Nur :11 dilanjutkan sampai ayat 15
[95] Shahih muslim 4: 2139, hadits 2881
[96] Ali Imran :161
[97] Nihayah fi gharib al-hadits 3:380 tentang ghulul
[98] Sunan At-Tirmidzi 5: 230 hadits 3009, Sunan Abi dawud 4: 31 hadits 3971, Tafsir At-Thabari 4: 154
[99] Tafsir Al-Alusi 4:108
[100] As-Shaf 2-3
[101] Tafsir Al-Qurthubi 28:83
[102] Muhammad 36-38
[103] At-tahrim 3
[104] ‘UmdatulQari 19: 251
[105] Sahih bukhari 4:1868 hadits 3631; sahih Muslim 2:1107
[106] Alhujurat : 11
[107] Sahih Bukhari 1:316 hadits 894, 2:727 hadits 1908, 4:1859 hadits 4616: sahih Muslim 2:590, hadits 863
[108] AlJumuah : 11
[109] Sahih ibnu Hibban 15: 299 hadits 6877
[110] Sahih Muslim 1: 82 hadits 66
[111] Shahih Bukhari no 585
[112] Shahih Muslim 3:1319, hadits 1692, shahih bukhari 6:2502 hadits 6438
[113] Almustadrak ala shahihain 1: 500, hadits 1291.
[114] Musnad Ahmad 5: 347, hadits 22991
[115] Tarikh thabari 443/2, Syarah nahjul balaghah ibnu abil hadid 20:147
[116] Shahih Muslim 3:1381, hadits 1759
[117] Shahih Muslim 3: 1472, hadits 1844
[118] Shahih Bukhari 4:1540
[119] Shahih muslim 1:108, hadits 116
[120] Al-An’am 82
[121] Sahih bukhari 3: 1262, hadits 3245

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: