Dalil Mazhab Syiah Terhadap Ketiadaan Tahrif Quran

Dalil MAzhab Syiah terhadap Ketiadaan Tahrif Quran

KEDUDUKAN ALQURAN DALAM MAZHAB ISLAM SYIAH
Ayatullah Sayyid Milani Mengatakan bahwa Alquran adalah penjelas segala sesuatu dan juga penjelas bagi dirinya (quran). Ayatullah Ja’far Subhani mengatakan Alquran adalah Asas bagi syariat Islam, dan Sunnah nabawiah yang menjadi qarinah baginya, AlQuran adalah cahaya yang jelas untuk dirinya dan menerangi selainnya dan AlQuran seperti Matahari yang menyinari sekelilingnya. Allah SWT berfirman didalam surat Alisra 9 :
إِنَّ هذَا الْقُرْآنَ يَهْدي لِلَّتي‏ هِيَ أَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنينَ الَّذينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبيراً
Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka memiliki pahala yang besar.
Dan secara jelas Allah berfirman didalam surat Annahl: 89
وَ نَزَّلْنا عَلَيْكَ الْكِتابَ تِبْياناً لِكُلِّ شَيْ‏ءٍ وَ هُدىً وَ رَحْمَةً وَ بُشْرى‏ لِلْمُسْلِمينَ
Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur’an) ini untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Dan juga secara jelas Allah menjadikan Quran sebagai pembeda antara Haq dan Bathil surat alfurqan 1:
تَبارَكَ الَّذي نَزَّلَ الْفُرْقانَ عَلى‏ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعالَمينَ نَذيراً
Maha Agung nan Abadi Dzat yang telah menurunkan al-Furqân (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,

MAKNA TAHRIF DAN PEMBAGIANNYA
1. Tahrif secara lughawi : Tafsirulkalam alagheir wajhi /harrafa assyai an wajhi (menyelewengkan sesuatu pada arah tertentu)
Seperti dalam alquran ayat annisa : 46
يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَواضِعِهِ
Mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya
Attabarsi mengatakan : Yufassirunaha ala gheir ma unzilat ( menafsirkan sesuatu selain apa yang diturunkan)

2. Secara Istilah ada beberapa bentuk dalam memahami tahrif :
a. Tahrif maknawi : tahrif madlul kalam atau yufassiru ala wajhin yuwafiqu ra’yu almufassir sawaun awafiqu alwaqi’ am la ( menafsirkan pada bentuk tertentu yang sesuai dengan Ra’yu mufassir baik itu sesuai dengan yang sebenarnya atau tidak) .
Dan bentuk tahrif ini banyak pula dilakukan oleh para mufassir untuk menyelewengkan dari kebenaran. Syiah meyakini bahwa Allah SWT menurunkan ayat tidak sendiri, akan tetapi berikut takwil dan tafsir ayat tersebut, seperti didalam hadits syiah dan qaul para ulama syiah. Sehingga seperti yang dikatakan Syeikh Mufid bahwa tangan2 orang dzalim inilah yang hendak menghapus dan menyembunyikan keterangan yang jelas berupa tafsir dan takwil alquran tersebut. Dan inilah yang sering menjadi fitnahan kaum wahabi terhadap Syiah, menggunakan kalimat tahrif untuk memfitnah Syiah.

b. Tahrif Qiraah :
1. Perubahan Harakat , huruf dengan masih terjaga keutuhan Quran , seperti memaca Yathhuran atau yathhuranna , yang satu menggunakan nun khafifah yang lain menggunakan tsaqilah.
2. Perubahan Lahjah , berbagai daerah , seperti Hijaz berbeda dengan lahjah iraq dan iran bahkan dengan libanon dan di daerah sekitarnya, semisal : Qaf , sebagian mengucapkan dengan Gaf.
Oleh sebab itu Di Zaman Khalifah ke tiga Utsman bin Affan inilah yang menyamakan qiraah menurut lahjah quraish. Jadi di zaman Utsman bukan penyusunan quran secara utuh tapi hanya penyamaan qiraah, karena pengumpulan dan penyusunan quran menurut keterangan yang lebih kuat telah dilakukan di zaman nabi saww… akan dibahas pada pembahasa kemudian.
c. Tahrif Perubahan Kata:
Seperti kata “asra’u” dengan “Amdhu” , dan “Alhakim” dengan “Aladil”
Tahrif sepertri ini tidak terjadi di dalam Alquran. Walaupun sebagian hadits didalam suni menceritakan perubahan itu… akan dibahas kemudian.
d. Tahrif Penambahan , pengurangan kalimat dan ayat:
Tahrif sejenis inipun tidak terjadi didalam Alquran, walaupun ada keterangan hadits dhaif baik itu dalam literatur suni ataupun syiah.
—keterangan tahrif perubahan kata dan penambahan serta pengurangan kalimat atau ayat inilah yang akan dibahas pada pembahasan kita kali ini.

DALIL KETIADAAN TAHRIF AL-QURAN

A.Dalil alquran
1. Ayat Al-Hifdz
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr ayat-9)
“Adzikr” yang dimaksud disini adalah Alquran.
Dan dilam ayat ini terdapat makna janji Allah SWT sendirilah yang menjaga keaslian Alquran itu sendiri.

2. Ayat Nafi Al-bathil
إِنَّ الَّذينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جاءَهُمْ وَ إِنَّهُ لَكِتابٌ عَزيزٌ لا يَأْتيهِ الْباطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزيلٌ مِنْ حَكيمٍ حَميدٍ
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka juga tidak tersembunyi dari Kami), dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.
Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
(Alfushilat : 41-42)
1. Makna Adzikr disini adalah Alquran, dan “Adzikr” dikatakan “Alkitab alaziz”, jadi makna Adzikr disini diitlaq kan dengan kitab Quran yang meliputi sekumpulan Ayat.
2. Albathil berlawanan dengan Alhaq (benar), dan Alquran Adalah benar dalam lafadz dan maknanya atau mafahimnya, serta hukumnya abadi, pengetahuannya serta ushul2nya sesuai dengan fitrah. Seperti yang dikatakan Syeikh Thabarsi dalam Majma albayan mengenai ayat ini ,dikatakan : alquran tidak ada tanaqudh dalam lafadznya tidak ada kebohongan dalam khabarnya, tidak ada ta’arudh, tidak ada penambahan dan pengurangan.
Sehingga Pantas kalau ayat Alquran ini saling menjelaskan yang satu dengan yang lainnya.
3.Ayat Jam’ul Quran dan Qiraatnya
لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
إِنَّ عَلَيْنا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَهُ
فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنا بَيانَهُ
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu karena tergesa-gesa ingin (membaca) Al-Qur’an.
Karena mengumpulkan dan membacanya adalah tanggungan Kami.
Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.
Kemudian, penjelasannya adalah (juga) tanggungan Kami.”

Alqiyamah : 17-19
Allah SWT lah yang menjaga , mengumpulkan, membacanya, dan menjelaskannya juga.
Disinilah yang diyakini Syiah Bahwa Wahyu itu bukan hanya Ayat alquran yang ada di tangan kita tetapi meliputi juga wahyu penjelasan, takwil, dan keterangan2 lainnya kepada nabi saww yang bukan termasuk ayat seperti Alquran yang ada pada tangan kita, sehingga dalam hal ini Imam Ali as menuliskannya secara lengkap dalam Qurannnya.

B. Dalil Riwayat Orang-orang Maksum
1. Hadits Ghadir
Semisal dalam kitab Alihtijaj 1/60 Syeikh Attabarsi:
(معاشر الناس) تدبروا القرآن وافهموا آياته وانظروا إلى محكماته ولا تتبعوا متشابهه، فوالله لن يبين لكم زواجره ولا يوضح لكم تفسيره إلا الذي أنا آخذ بيده ومصعده إلى – وشائل بعضده – ومعلمكم إن من كنت مولاه فهذا علي مولاه، وهو علي بن أبي طالب عليه السلام أخي ووصيي،
Di dalam peristiwa Ghadir Khum yang makruf pada tanggal 18 Julhijjah
Nabi saww bersabda : Wahai ma’asyirannas, pelajarilah Alquran, dan fahamilah ayat-ayatnya, dan lihatlah pada ayat Muhkamah janganlah mengikuti yang mutasyabihah, dan Allah tidak akan menjelaskankan makna bathinnya dan menerangkan tafsirnya kecuali aku yang mengangkat tangannya dan yang mengangkat lengannya, dan yang menunjukkan kamu sesungguhnya barangsiapa yang Aku Maulanya maka ali Maulanya juga dan dia Ali ibn Abi thalib as saudaraku dan washiku.
Hadits Ghadir merupakah hadits fauqu mutawatir di kalangan syiah dan suni. Dan saya ambilkan sebuah contoh hadits ghadir dari syiah yang menunjukkan keterjagaan Quran dari tahrif . Dikatakan disana bahwa perintah mentadabbur quran dan memahaminya dan melihat yang muhkamah bukan mutasyabihah melazimkan bahwa Alquran pada saat itu telah terkumpul tersusun, tidak ada perubahan.

2.Hadits Tsaqalain
Hadits Ini juga merupakan hadits fauqu mutawatir di kalangan suni dan syiah :
إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و عترتي أهل البيتي، ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي أبداً…
Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian semua dua pusaka yang berat yang pertama Kitabullah dan kedua itrati Ahlulbaiti , yang berpegangteguh padanya maka tidak akan tersesatkan selama2nya setelahku…
Keterangan :
– Perintah Tamassuk ( berpegang teguh) adalah far’u (bagian) dari wujud Alquran di tangan almutamassikin ( orang yang berpegang teguh) jadi sesuatu yang mustahil perintah berpegang teguh kepada yang Qurannya tidak wujud atau tidak diyakini keutuhannya dari kurang atau lebihnya ayat atau surat dalam Alquran.
3.Hadits Quran kuat rukunnya
Imam Ali as berkata :
و كتاب الله بين اظهاركم ناطق لا يعيا لسانه، و بيت لا تهدم أركانه، و عزّ لا تهزم أعوانه
Dan kitabullah yang hadir padamu yang Nathiq tidak lelah lidahnya, dan rumah yang tidak roboh rukun (tiangnya), dan mulia tidak terputus pertolongannya. ( khutbah 133 nahjul balaghah)

4.Perintah Ruju’ Kepada Quran
Perintah rujuk kepada quran , dan hadits yang sesuai dengannya dipakai yang tidak sesuai dengan quran ditinggalkan, merupakan bukti yang sangat jelas tentang ketiadaan tahrif dalam alquran. Hal ini melazimkan Alquran sebagai pokok asas rujuk, dan asas melazimkan keaslian dan keutuhannya , bagaimana memerintahkan menyesuaikan sedangkan yang menjadi mashdar atau sumber nya diragukan keasliaannya, hal ini mustahil.
[1]- محمد بن يعقوب: عن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن النوفلي، عن السكوني، عن أبي عبدالله (عليه السلام) قال: «قال رسول الله (صلى الله عليه و آله): إن على كل حق حقيقة، و على كل صواب نورا، فما وافق كتاب الله فخذوه، و ما خالف كتاب الله فدعوه».
[2]- و عنه: عن محمد بن يحيى، عن عبدالله بن محمد، عن علي بن الحكم، عن أبان بن عثمان، عن عبدالله بن أبي يعفور، قال: و حدثني الحسين بن أبي العلاء أنه حضر ابن أبي يعفور في هذا المجلس، قال: سألت أبا عبد الله (عليه السلام) عن اختلاف الحديث يرويه من نثق به، و منهم من لا نثق به. قال: «إذا ورد عليكم حديث فوجدتم له شاهدا من كتاب الله عز و جل أو من قول رسول الله (صلى الله عليه و آله) «1»، و إلا فالذي جاءكم به أولى به».
[3]- و عنه: عن عدة من أصحابنا، عن أحمد بن محمد بن خالد، عن أبيه، عن النضر بن سويد، عن يحيى الحلبي عن أيوب بن الحر، قال: سمعت أبا عبدالله (عليه السلام)، يقول: «كل شي‏ء مردود إلى الكتاب و السنة، و كل حديث لا يوافق كتاب الله فهو زخرف».
[4]- و عنه: عن محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن ابن فضال، عن علي بن عقبة، عن أيوب بن راشد، عن أبي عبدالله (عليه السلام)، قال: «ما لم يوافق من الحديث القرآن فهو زخرف.
و عنه: عن محمد بن إسماعيل، عن الفضل بن شاذان، عن ابن أبي عمير، عن هشام بن الحكم و غيره، عن أبي عبدالله (عليه السلام)، قال: «خطب النبي (صلى الله عليه و آله) بمنى فقال: أيها الناس، ما جاءكم عني يوافق كتاب الله فأنا قلته، و ما جاءكم «1» بخلاف كتاب الله فلم أقله».

1- الكافي 1: 55/ 1.
2- الكافي 1: 255/ 2.
3- الكافي 1: 55/ 3.
4- الكافي 1: 55/ 4
5- الكافي 1: 56/ 5
Isi dari hadits tersebut tidak lain dari perintah merujuk kepada Alquran dan hadits yang tidak sesuai dengan Quran maka tinggalkanlah dan yang seseuai ambillah, bahkan ditegaskan bahwa yang sesuai dengan quran itu dariku (Maksumin) dan yang tidak sesuai itu bukan dariku.
Hadits semodel ini banyak di dalam literatur Syiah saya menuliskannya sebagian sebagai gambaran.

5. Anjuran Imam Maksum dalam membaca dan mengkhatam Quran
من ختم القرآن بمكة من جمعة إلى جمعة و أقل من ذلك ، و خنمه في يوم الجمعة، كتب الله له الأجر و الحسنات من أوّل جمعة كانت إلى آخر جمعة تكون فيها، و إن ختم في سائر الأيام فكذلك.
Imam Baqir as berkata : Barangsiapa yang mengkhatam Alquran di Mekkah dari hari Jumat ke hari Jumat lagi atau lebih sedikit dari itu, dan mengkhatamnya di hari Jumat, Allah SWT menuliskannya pahala (yang banyak) dan kebaikan ( yang berlimpah) dari awal jumah sampai akhir Jumah. Dan yang mengkhatam di hari lainnyapun seperti demikian (pahalanya) juga.

–Khatam Quran menunjukkan Alquran telah ada dan terkumpul seperti yang ada sekarang. Karena Khatam melazimkan membaca dari awalnya sampai akhirnya, karena kalau adanya tahrif berupa kurang ayat maka tidak bisa dikatakan “khatam” kalau ada tambah ayat, tidak ada wujudnya dan yang wujud di tangan syiah dari zaman Imam Ali as ataupun di zaman Imam Baqir as sekalipun sama dengan muslimin lainnya, lalu bagaimana bisa dikatakan adanya tahrif kurang dan tambah di dalam mazhab Syiah?

6. Dali kitab yang ada ditangan muslimin kitab yang lengkap
كتاب ربكم فيكم، مبيناً حلالح و حرامه و فرائضه و فضائله و ناسخه و منسوخه….
Kitab yang ada di tanganmu (kaum Muslim), penjelas halal dan haramnya , fardhu dan fadhailnya, nasikh dan mansukhnya…
Menjelaskan kesempurnaan alquran yang ada di tangan muslimin
Nahjulbalaghah , khutbah 1:23

7. Imam Ridha as menulis sifat Quran yang jami’ dan sempurna di tangan Al-Makmun
Perlu kita ketahui bahwa Imam Ridha as adalah Imam ke delapan di zaman kekhalifahan zalim Abbasiah Al-makmun yang bukan syiahnya.

وأن جميع ما جاء به محمد بن الله هو الحق المبين والتصديق به وبجميع من مضى قبله من رسل الله وأنبيائه وحججه والتصديق بكتابه الصادق العزيز الذي (لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل حكيم حميد) وأنه المهيمن على الكتب كلها، وأنه حق من فاتحته إلى خاتمته نؤمن بمحكمه ومتشابهه وخاصه وعامه ووعده ووعيده وناسخه ومنسوخه وقصصه وأخباره لا يقدر أحد من المخلوقين، أن يأتي بمثله وأن الدليل بعده والحجة على المؤمنين

Imam Ridha as berkata : Sesungguhnya Jami’ (seluruh) apa yang diturunkan Muhammad ibn abdillah adalah Haqqul mubin, dan membenarkan dengannya seluruh (kitab ) sebelumnya dari utusan Allah SWT dan para nabi-Nya, dan yang menjadi hujjah (keasliannya) dan membenarkannya adalah Kitabullah Assadiq alaziz ayat— Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan Hujjah ayat tersebut menjaga seluruh kitab ( quran) seluruhnya (kandungannya), dan Alquran benar dari mulai Fatihahnya sampai akhirnya , kami mengimani Almuhkamah dan mutasyabihah, alkhashah dan ‘amah , janji dan ancamannya, nasikh dan mansukhnya, kisah dan akhbarnya, tidak ada seorangpun dari makhluk yang mampu membuat sepertinya, dan dalil setelahnya serta Hujjah bagi orang Mukmin.

–sangat jelas pernyataan Imam Ridha as membenarkan Quran yang ada di tangan Makmun yang bukan syiahnya.

8. Perintah Jam’ Alquran di Zaman Nabi saw
Perlu diketahui para Ulama syiah dengan analisis yang daqiq berkesimpulan bahwa Alquran telah tersusun di jaman Nabi saww seperti sekarang ini, karena banyak dalil yang menunjukkan hal itu baik itu di syiah ataupun di suni. Dan yang setelahnya adalah ikhtilaf dalam masalah qiraah, seperti yang dilakukan penyatuan qiraah di zaman Utsman bin Affan – jadi Khalifah Utsman bukanlah menyusun alquran tetapi menyatukan qiraahnya dan kesepakatan tulisan dalam huruf seperti titik dan harakat—,walaupun setelahnya masih terjadi perbedaan mencapai qiraah tujuh…(akan dibahas selengkapnya kemudian insyaallah)

علي بن الحسين، عن أحمد بن أبي عبد الله، عن علي بن الحكم عن سيف، عن
أبي بكر الحضرمي، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إن رسول الله صلى الله عليه
وآله قال لعلي: يا علي القرآن خلف فراشي في المصحف والحرير والقراطيس فخذوه واجمعوه
ولا تضيعوه كما ضيعت اليهود التوراة، فانطلق علي فجمعه في ثوب أصفر، ثم ختم عليه في
بيته

….dari Abi Abdillah as, Rasul saww bersabda kepada Ali as : Ya ali alquran yang dibalik tilam/kasur dan mushhaf dan harir serta kertas, ambillah dan kumpulkanlah janganlah kau telantarkannya /menghilangkannya seperti menelantarkan/menghilangkan orang2 yahudi dengan tauratnya, maka bersegeralah Ali untuk mengumpulkannya dan menyusunnya di dalam kain yang kuat (dijilid) yang kuning, kemudian menyelesaikannya di rumahnya. (Alamah majlisi -Buharulanwar 89/48)
Penyususnan dan pengumpulan Quran di zaman rasulullah saww banyak tertulis di dalam kitab syiah dan suni, sebagian dari hadits suni seperti yang dinukil Alkhawarizmi di dalam kitab Almanaqib dari ali ibn ribah sesungguhnya ali ibn Abi thalib as dan ibn Ka’ab mengumpulkan dan mnyususn alquran alkarim di zaman rasulullah saww.

C. PERNYATAAN ULAMA SYIAH
1. Syeikh Shaduq (318)
Kitab Ali’tiqad 59-60
اعتقادنا أن القرآن الذي أنزله الله على نبيه محمد صلى الله عليه و آله هو ما بين الدفتين و هو ما في أيدي الناس ليس بأكثر من ذلك ، ومبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشرة سورة ، وعندنا أن الضحى وألم نشرح سورة واحدة ولإيلاف وألم تر كيف سورة واحدة ، ومن نسب إلينا أنا نقول أكثر من ذلك فهو كاذب ”

Keyakinan Kami bahwa Quran yang diturunkan Allah kepada nabinya Muhammad saww dan quran itu diantara dua sisi, dan dia yang ada di tangan manusia (sekarang) yang tidak ada lebih dari hal itu. , dan sejumlah surat di tangan muslimin 114 , dan di kita , surat dhuha dan alam nasyrah satu surah, dan alilaf dengan alam tara kaifa satu surah, dan yang menuduh kita lebih dari demikian maka hal itu bohong.

2. Syeikh Mufid ( wafat 413)
Kitab Awailul Almaqalat , hal 54 – 56
😦 وقد قال جماعة من اهل الامامة : انه لم ينقص من كلمة ولا من آية ولا من سورة ..) الخ .. لتعلم مدى كذبه ودجله
Dan berkata ulama Jamaah dari Ahli Imamah (Syiah) : bahwa sesungghunya Quran tidak ada kurang dari kalimat dan tidak pula dari ayat dan tidak pula dari surah ….sampai kamu tahu siapa yang membohonginya dan menipunya. (orang yang mengatakan adanya tahrif)

3. Syeikh Murtadha ( wafat 436)
Risalah aljwabiah alula
لأن القرآن معجزة النبوة ومأخذ العلوم الشرعية والاحكام الدينية’ وعلماء المسلمين قد بلغوا في حفظه وحمايته الغاية حتى عرفوا كل شئ اختلف فيه اعرابه وقراءته.. فكيف يجوز ان يكون مغيراً أو
منقوصاً مع العناية الصادقة والضبط الشديد ! وقال : ان القران كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً على ما هو عليه
الآن ..)

Sesungguhnya Quran sebuah mukjizah , yang meliputi ulum Syar’iyyah dan ahkam diniyyah, dan Ulama Muslimin telah banyak menghapalnya dan menjaganya sampai dimana mereka mengetahui segala kekeliruan ( kalau terjadi) didalamnya pada i’rabnya dan bacaannya, dan bagaimna bisa Quran itu bisa ada perubahan atau kekurangan sedangkan banyak yang menjaganya dan menghapalnya dengan sangat. , Maka berkata : sesungguhnya Quran di zaman rasulullah saww telah terkumpul , ditulis seperti sekarang ini.

4. Syeikh Thaifah –Syeikh Thusi ( 460)—syeikh thaifah adalah ulama ijma’ yang penting
Albayan fi tafsir Quran juz 1 hal 3
أما الكلام في زيادته ونقصانه فمّما لايليق به ‘لأن الزيادة فيه
مجمع على بطلانها’
Dan pernyataan dalam ziadah ( lebih ) dan kurang dari quran tidak layak karena kelebihan (ziadah) adalah secara sepakat merupakan sebuah kebathilan.

5. Syeikh Tabarsi (548)
(اما الزيادة فمجمع على بطلانها’ واما القول بالنقيصة فالصحيح من مذهب أصحابنا الامامية خلافه .
Dan ziadah (kelebihan) secara ijma bathil adanya , dan pendapat terhadap kekurangannya ( nuqshan) maka yang betul dalam mazhab ashabina Imamiah ( syiah) adalah tidak sependapat dengannya ( dengan kekurangan)
( Majma albayan juz 1 hal 15)
6. Sayyid Ali ibn Thawus Alhilli ( 663)
إنَ رأي الإمامة هو عدم التحريف
Sesungguhnya pandangan Syiah Imamiah adalah ketiadaan tahrif Quran ( Sa’du assu’ud 144)
7. Alamah Hilli (728)
جعل القول بالتحريف متنافياً مع ضرورة تواتر القرآن بين المسلمين
Anggapan Tahrif berlawanan dengan dharuriyat tawatur Alquran diantara muslimin
( Ajwibah almasail almuhawiah 121)
8. Almaula Muhaqiq Ahmad Ardabili (993)
جعل العلم بنفي التحريف ضرورياً من المذهب .
Pada tinggkatan alilm ( qath’i) terhadap penafian tahrif adalah kedaruriatan Mazhab (syiah)
Majma Alfaidah jilid 2 hal 218
9. Sayyid Nurullah Tastari Almustasyhid (1029)
ما نسب الى الشيعة الامامية من القول بوقوع التغيير في القرآن ليس مما قال به جمهور الامامية’ انما قال به شرذمة قليلة منهم لااعتداد بهم فيما بينهم
Barangsiapa yang menisbatkan kepada syiah mengenai pendapat adanya perubahan dalam Quran bukanlah pendapat Jumhur Imamiah (syiah) ,mereka yang mengatakan perubahan hanyalah segolongan kecil dari mereka dikarenakan keyakinan mereka dengan apa yang ada diantara mereka ( Akhbariun)
Kitab Mashaib annashaib atau Alala’ Arrahman 1/25
10. Almaula Muhaddits Muhammad ibn Hasan Feidz Alkasyani (1090)
: (على هذا لم يبق لنا اعتماد بالنص الموجود’ وقد قال تعالى :{ وَاِنهُ لكتاب عَزيز لا يَأتيهِ الباطل من بين يديه ولا من خَلفه} وقال :{ وإنا نَحنُ نَزلنَا الذِكرَ وإنا لهُ لَحافِظون}. وأيضاً يتنافى مع روايات العرض على القرآن . فما دل على وقوع التحريف مخالف لكتاب الله وتكذيب له فيجب رده والحكم بفساده أو تأويله .
Setelah meriwayatkan sebuah hadits mengenai tahrif…. terhadap hal itu tidak tertinggal bagi kita keyakinan dikarenakan adanya nash Quran, Allah berfirman :
sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia, Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya
dan firman allah Ta’ala :
Sesungguhnya kami yang menurunkan Alquran dan kamilah yang menjaganya.
Dan juga berlawanan dengan riwayat2 mengenai Quran , oleh sebab itu apa2 apa yang mendalilkan terhadap tahrif quran berlawanan dengan Kitabullah dan bohong untuknya dan wajib untuk menolaknya dan menghukuminya dengan kefasidan, atau ta’wilnya.
(tafsir shafi jilid 1 hal 33)

11. Syeikh Muhammad Ibn Hasan Hurrul amili ( 1104)
: إن من تتبع الاخبار وتفحص التواريخ والآثار علم -علماً قطعياً- بأن القرآن قد بلغ أعلى درجات التواتر’ وأن آلآلف الصحابة كانوا يحفظونه ويتلونه’ وأنه كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً
Sesungguhnya barangsiapa yang menelusuri akhbar dan meneliti Tarikh , dan atsar , telah mengetahui — dengan ilmu Qath’i—sesungguhnya Quran telah mencapai yang paling tinggi derajatnya pada tingkatan tawatir dan ribuan dari shahabat menghapal quran dan membacanya dan hal itu pada zaman rasulullah saww telah terkumpul dan tertulis quran tersebut ( Alfushul almuhimmah fi ta’lif alummah hal 166)
12. Syeikh Ja’far kabir Kasyiful Ghitha (1228)
كذلك جعله من ضرورة المذهب بل الدين واجماع المسلمن واخبار النبي والأئمة الطاهرين .
…oleh sebab itu menjadikannya (penolakan tahrif) dari daruriat Mazhab (syiah) bahkan agama (Islam umumnya) dan Ijma Muslimin serta Akhbar dari Nabi saww dan Imam suci as.
( Kasyifulghtha , kitabulquran minashalat hal 298)

13. Syeikh Muhammad ibn Husein Kasyiful ghitha ( 1373)
جعل رفض احتمال التحريف أصلاً من اصول المذهب .اصل الشيعة واصولها
Penolakan terhadap kemungkinan Tahrif adalah bagian dari Ushul Mazhab , asli Syiah dan ushulnya.

Dan masih banyak lagi pernyataan ulama mutaqaddimin ….

Ulama Mutaakkhirin sudah jelas dengan ijma; nya menolak tahrif quran diantaranya :
1. Sayyid Khui
إنَ من يدَعي التحريف يخالف بداهة العقل
(sesungguhnya yang beranggapan adanya tahrif maka berlawanan dengan kebadihiahan aqal ) (albayan fi tafsir alquran : 220
2. Sayyid Muhammad Baqir Shadr
3. Imam Khumaeni
…والآن وبعد أن أصبحت صورته الكتبية في متناولنا بعد أن نزلت بلسان الوحي على مراحل ومراتب من دون زيادة أو نقصان وحتى لو حرف واحد.
Dan sekarang setelah menjadi bentuk secara kitabiah dan kita menerimanya setelah turun dengan lisan wahyu para tahapan dan susunan tanpa adanya lebih (ziadah) dan nuqshan (kurang) walalupun satu huruf pun. Alquran annaql akbar 1/66
4. Sayyid Ali khmaneni
5. Sayyid Husein Fadhullah
6. Ayatullah sayyid Sistani
7. Ayatullah Ja’far subhani
8. Ayatullah Makrim Syirazi
9. Ayatullah Nuri hamadani
10. Ayatullah Sayyid Milani
11. Ayatullah Behjat
12. Ayatullah Madzahiri
13. Ayatullah Mizbah Yazdi
14. … dan puluhan para maraji mutaakhirin dalam kitabnya dan fatwanya masing2
Tidak percaya tanya saja fatwa di webnya masing2
Salah satunya http://www.wilayah.ir ; http://www.leader.ir untuk Ayatullah Aludzma Sayyid Ali Khamanei

Kesimpulan :
1. Alquran merupakan Kitab Tsiql Akbar yang terjamin keasliannya
2. Dengan dalil yang mutawatir dan kuat alquran yang sekarang sama dengan di zaman nabi saww.
3. Allah SWT yang menjaganya dan menjelaskan Alquran, jadi wahyu bukan hanya ayat yang ada di tangan kita akan tetapi penjelasannya juga yang ditulis lengkap di dalam Quran Ali, dan ini yang menjadi fitnah wahabi.
4. Penyusunan alquran sejak zaman nabi ini dalil terkuat, dan pada zaman setelahnya adalah masalah ikhtilaf i’rab atau qiraahnya.
5. Alquran syiah sama dengan alquran muslimin umumnya
6. Mengakui kesalahan , menerima kebenaran adalah salah satu sifat orang bijak.
7. Apalagi Fitnah kaum Najdiah terhadap Islam selain tahrif???

Zen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: