Akhlaq dan Fiqih

Akhlaq dan fiqih
Sering kita mendengar istilah akhlaq dan fiqih dan ini ramai diperbincangkan di beberapa kalangan sebagai moto dari sebagian lembaga. Terjadi perbedaan pandangan di dalamnya, bahkan banyak pemahaman ekstrem baru yang muncul dari pemahaman tersebut, semisal menganggap remeh Fiqih, menganggap remeh ulama Fiqih atau marja, menganggap aqal sebagai penentu secara mustaqil (independent) terhadap amal manusia. Dan bahkan mengeksklusifkan “akhlak” menjadi kepemilikan untuk beberapa golongan saja.
Tetapi dilain hal ada kiranya kita perlu memahami lebih jauh mengani Akhlak dan fiqih tersebut lebih dalam sehingga kita bisa melihat bagaimana memposisikan statement tersebut dalam dimensi yang positif dan negatif. Karena tidak lepas kemungkinan bahwa sebuah statemant kalau dipahami dari kacamata yang lain bisa dikatakan positif.
A.Makna Fiqih
Fiqih dengan bentuk “faqiha” secara bahasa mengandung arti mengerti atau faham sesuatu,
قالوا يا شعيب ما نفقه كثيراً لما تقول
Wahai syu’aib kami tidak mengerti banyak perkataanmu
Fiqih di dalam Alquran Al-karim digunakan dengan kata “Tafaqquh” dengan makna memahami atau ta’ammuq (mendalami) sesuatu misalnya :
وَما كانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَ لِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak ada beberapa orang dari tiap-tiap golongan di antara mereka yang (diam di Madinah) untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepada kaum mereka itu? Semoga mereka itu takut (untuk menentang perintah Allah)
Atau kalau di dalam hadits :
من حفظ على امتي اربعين حديثاً بعثه الله فقيهاً عالماً
Barangsiapa yang menghapal diantara ummatku 40 hadits Allah SWT akan membangkitkannya (diakhirat) sebagai seorang faqih dan Alim.

Sehingga makna Fiqih awalnya digunakan untuk seluruh bidang Ilmu Islam baik itu ilmu kalam, ilmu akhlaq atau ilmu ahkam itu sendiri, sebagian mengatakan bahwa makna umum demikian dikatakan fiqih akbar. Dengan perjalanan sejarah dan masa makna fiqih menyempit menjadi makna ketiga yaitu hanya dalam bidang Ahkam saja, sehingga seorang faqih bisa dikatakan seseorang yang memiliki keahlian dan kemampuan serta menguasa dalam masalah fiqih serta istinbath yang menghasilkan fatwa fiqih, yang sering disebut sekarang sebagai mujtahid fiqih.
Sehingga secara istilah kekinian arti fiqih disini adalah Ahkam Syar’iayyah atau wadzaifh amaliah, dimana yang menentukan Manusia di alam luar (kharij) untuk melaksanakan amal tertentu atau tidak melaksakannya. Sehingga Maudhu dalam ilmu fiqih adalah :
نفس الأحكام الشرعية او الوظائف العملية من حيث التماس من ادلتها
Yakni Ahkam syariyyah dan tugas pada tataran amal dilihat dari sisi pencarian dalilnya
B.Kesempurnaan Fiqih Islam
Perlu kita ketahui bahwa Islam meyakini bahwa seluruh langkah atau tingkah laku atau amalan kita ada penilaiannya dari sisi fiqih, bahkan agama Islam memiliki cirikhas sebagai ajaran yang sempurna meliputi seluruh bidang kehidupan dari masalah halal haramnya. Di dalam Alquran dikatakan bahwa syariat Islam secara lengkap telah disempurnakan sebagai ciri khas agama Islam
اليوم الكملت لكم دينكم…
Aku telah sempurnakan untukmu agamamu …
Yang menjadi sumber syariat Islam adalah quran yang menjelaskan segala sesuatu
نزلنا عليك الكتاب تبياناً لكل شي…
Kami telah menurunkan Alquran sebagai penjelas segala sesuatu
وما فرطنا في الكتاب من شي…
Kami tidak alpakan (lalaikan) di dalam Quran dari sesuatu pun
Imam Ja’far Shadiq as bersabda :
إنّ الله تبارك و تعالى أنزل في القرآن تبيان كل شيء حتى و الله ما ترك شيئاً يحتاج اليه العباد حتى لا يستطيع عبد أن يقول : لو كان هذا أنزل في القرآن ، الا و قد أنزل الله فيه
Sesungguhnya Allah tabarak ta’ala telah menurunkan Quran sebagai penjelas segala sesuatu dan Allah tidak meninggalkan sesuatupun yang hambanya membutuhkannya, sehingga hambanya tidak akan mengatakan : “seandainya hal ini ada di dalam Alquran “, kecuali (sesuatu itu) telah Allah turunkan padanya (Quran)
Di dalamhadits lain bersabda as :
ما من شيء الا و فيه كتاب الله او سنة
Tidak ada sesuatupun (yang dilupakan) kecuali hal itu ada di dalam Kitabullah dan sunnah ( nabiNya)
Imam Musa ibn Jafar as dalam menjawab sebuah pertanyaan :
اكل شيء في كتاب الله و سنة نبيه أو تقولون فيه ؟ فقال : بل كل شيء في كتاب الله و سنة نبيه (ص)
Apakah (kenyataannya) segala sesuatu itu terdapat didalam Kitabullah dan sunnah nabiNya , Atau anda yang mengatakan hal ini? Maka beliau as bersabda : Segala sesuatu terdapat dalam kitabullah dan sunnah nabiNya (saww)
Secara tegas Imam Shadiq as bersabda mengenai khat Ali as:
فيها كل حلال و حرام و كل شيء يحتاج اليه الناس
Didalamnya segala sesuatu (telah dijelaskan mengenai) halal dan haram dan segala sesuatu yang dimana manusia membutuhkannya …

Sehingga bisa disimpulakan bahwa segala sesuatu yang ada, termasuk perbuatan kita sudah dijelaskan hukum syariyyahnya, sampai dalam amalan “kedipan mata” pun- yang pada dasarnya diniali sebagai sesuatu yang mubah- ad hukumnya.
Tetapi dalam perjalanan selanjutnya lazim adanya seseorang yang khusus mendalami sebagai seorang yang specialis didalam masalah fiqih untuk melakukan istinbath hukum didalamnya, untuk memformulasikan riwayat yangg sahih dengan makna dhahir quran, serta menjaga dari kesalahan dalam memahami maknanya dan hubungannya. Yang lebih dikenal seseoang tersebut sebagai seorang Mujtahid.

C.Definisi Akhlaq
“Akhlaq” dengan Wazn Af’al dan sebagai kata jama’ dari “Khulq” , dengan makna Assajiah atau tabiat , karakter, dan lebih lugasnya :
لِصورة الإِنسان الباطنة وهي نفْسه وأَوصافها ومعانيها المختصةُ بِها بمنزة الخَلْق لصورته الظاهرة وأَوصافها ومعانيها، ولهما أَوصاف حسَنة وقبيحة،
Bentuk (keadaan) bathin Manusia yaitu nafsinya dan sifat-sifatnya ( keadaan bathin) dan makna-makna yang menyertainya seperti halnya penciptaan bentuk dhahirnya ( badan) dan segala sifat serta makna yang menyertainya, dan nisbat kepada bentuk bathin serta lahir adalah dengan sifat-sifat kebaikan dan keburukan.
Seperti halnya didalam Riwayah :
اللهم حسّن خُلقي كما حسّنت خَلقي
Ya Allah baikkanlah Bathinku seperti halnya engkau menciptakan kebaikan pada badanku.
Ta’bir Isfahani dalam kitabnya Mufradat alquran mengatakan bahwa Makna “alkhulq” dengan Makna “Alkhalq” memiliki satu makna yaitu makna hai ah atau asykal ( bentuk) , cuman kalau khalq dapat diidrak dengan mata ( albashar) dan khulq dengan bashirah ( penglihatan bathin/akal/ruh)
Sehingga bisa disimpulkan bahwa makna akhlaq disini adalah
الأخلاق هي مجموعة الكمالات المعنويّة و السّجايا الباطنيّة للإنسان
Al-akhlaq adalah sekumpulan kesempurnaan maknawiah dan perangai bathiniah manusia
Atau sebagian ulama mendefinisikan :
إنّ الأخلاق أحياناً تُطلق على العمل و السّلوك، الذي ينشأ من الملكات النفسانية للإنسان أيضاً
Sesungguhnya Al-Akhlaq bisa dihubungkan dengan amal dan As-suluk , yang dimana muncul dari malakah nafasani manusia.
Sebagian lagi mengatakan bahwa Al-Akhlaq dapat dipengaruhi oleh atsar kharijiah ( luar) yang bisa kita lihat berupa amal, sehingga dengan jikalau amal diulang-ulang akan membekas pada akar ruh manusia, dan akar yang menempel pada ruh tersebut itulah akhlaqnya.

D.Hubungan Akhlaq dengan malakah amal serta sifat husn (baik) wa qubh (buruk)
Kita bisa melihat keterkaitan antara Akhlaq dan kemalakahan sifat seseorang serta keterkaitan akhlaq dengan masalah sifat buruk dan baiknya sesuatu.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa sesuatu bisa menjadi malakah dengan perbuatan yang berulang-ulang menjadi kebiasaan sesorang seperti berbohong . dengan mengulangi secara kontinyu “berbohong” maka perbuatan ini akan menjadi kebiasaan padanya dan melekat pada sifat bathinnya menjadi orang yang memiliki sifat pembohong.
Adapun yang berhubungan dengan masalah husn wa qubh kita sebaiknya menelaah makna husn (sifat baik ) itu sendiri . makna kebaikan terbagi menjadi tiga bagian :
1. Kebaikan berarti “almulaimah lit thabi’i” kesesuaian dengan thabiah, dan Qubh memiliki makna kebalikannya, semisal secara thabi’inya wanita tidak baik menyerupai laki-laki.
2. Kebaikan berarti “Al-kamal” (kesempunaan) dan alqubh kebalikannya, seperti halnya ilmu itu adalah baik karena suatu kesempurnaan dan Jahl itu qubh (buruk).
3. Kebaikan berarti idrak bahwa sesuatu itu harus dilakukan , dan qubh adalah idrak bahwa sesuatu itu tidak boleh dilakukan.
Kebaikan dengan makna Al-mulaimah (keseuaian) dengan thabiah dan Alkamal ( kesempurnaan) tidak ada perbedaan pendapat padanya , yang menjadi titik perbedaan pendapat adalah pada masalah ke tiga yaitu “apa yang harus dilakukan”.

Sehingga bisa dipahami dari point ketiga bahwa orang yang berakhlaq adalah orang2 yang memiliki sifat2 baik yang dimana kebaikan tersebut adalah sesuatu yang harus dilakukan. “Sesuatu yang harus dilakukan” bisa berupa amal bathiniah seperti husnu dzan, atau bersabar, dan bisa juga sesuatu yang bisa terlihat dalam amalan lahiriahnya , misalnya perbuatan dari hasil bersabar itu segala amal yang menunjukkan kesabarannya.

E. Cakupan Akhlaq
Akhlaq memiliki cakupan yang luas bukan hanya kondisi nafsani manusia yang hubungannya antara sesama manusia dan masyarakat yang sering kita pahami, tetapi justru akhlaq pun meliputi kondisi nafsani manusia yang ada hubungannya dengan Alam Thabi’i , seperti kita tidak boleh merusak tanaman sembarangan atau dalam menggembala kambing dan berprilaku terhadap hewan dan alam yang ada.
Selain dari pada itu pula cakupan akhlak yang hubungannya dengan Tuhan pencipta Alam, seperti kita tidak menduakannya, atau kita tidak berprasangka buruk terhadap Tuhan, seperti halnya kebudayaan Jahiliah dalam ratapan kematian seseorang yang makruf dalam tarikh, mereka selalu melakukan hal-hal yang tidak ridha kepada taqdirnya, dan berprasangka buruk kepada Tuhannya. Seperti halnya Ucapan Yahudi yang memfitnah Tuhannya dengan mengatakan bahwa Tangan Tuhan terbelenggu.
Adapun cakupan lain di dalam akhlaq adalah prilaku kita terhadap utusannya yaitu nabi dan rasulNya. Seperti bagaimana seseorang sepantasnya berbicara didepan nabi saww, sehingga akhlaq yang buruk kepada nabi diceritakan di sebagian ayat dikatakan bahwa kaum Baduy arab yang tidak memiliki akhlaq memanggil Rasul di balik kamarnya dengan nama langsung “Muhammad”. Dan sebagian sahabat yang berbicara keras di depan nabi, sehingga di dalam alquran dikatakan bahwa akan terhapus amalannya orang yang berbicara keras didepan nabi.
Akhlaq yang ada hubungannya dengan Ahlulbait nabi tercinta, berupa kecintaan dan pembelaan serta ketaatan kepada mereka.
Akhlaq yang ada hubunganya dengan Para Ulama seperti memahami manzilah ( maqam) ulama, karena dengan memahami dan mengetahui maqam ulama salah satunya kita akan jauh dari sifat sombong akan keilmuan yang kita miliki. Dilain hal mereka para ulama adalah Hujjah para Ahlulbait nabi as.
Seperti sabda rasul saww :
الفقهاء أمنا الرسول….
Para Faqih adalah kepercayaan rasul saww
Imam Hasan Askari as bersabda :
اما من كان من الفقهاء صائناً لنفسه حافظاً لدينه مخالف لهواه مطيعاً لأمر مولاه ، فللعوام أن يقلدوه و ذالك لا يكو الا بعض فقهاء الشيعة لا كلهم
Barangsiapa diantara Fuqaha menjaga dirinya dan menjaga agamanya, melawan hawa nafsunya, taat kepada perintah maulanya, maka bagi orang awam diwajibkan bertaqlid kepadanya dan (faqih) tersebut tidak lain adalah para Fuqaha syiah bukan seluruhnya.
Hal ini merupakan nash sarih mengenai kewajiban taqlid kepada para faqih bagi orang awam
Imam shadiq as bersabda :
… ينظر أن من كان منكم ممن قد روى حديثنا و نظر في حلالنا و حرامنا و عرف احكامنا فليرضوا به حكماً فإني قد جعلته عليكم حكيماً
Maka lihatlah diantara kamu orang-orang yang meriwayatkan hadits kami dan memperhatikan dalam masalah halal dan haram dari ahkam kami maka ridhailah dia sebagai seorang hakim , karena sesungguhnya aku telah mejadikannya bagimu seorang hakim.
Masih banyak hadits2 lainnya yang menunjukkan manzilah atau maqam para ulama, maka sewajarnyalah kita memiliki akhlaq yang baik dalam berprilaku terhadap mereka.
Dan pembahasan mengenai manzilah para ulama khususnya ulama yang menduduki wilayatul faqih bisa dibahas dalam pembahasan Khusus.

F.Hubungan Akhlaq dan Fiqih
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Akhlaq merupakan kondisi nafsani manusia, dan fiqih merupakan ahkam syariyyah. Yang satu dilihat dari wujud bathini , dimana kondisi bathin manusia memiliki sifat baik atau buruk, yang kedua (fiqih) dilihat dari i’tibarinya, artinya sesuatu yang dii’tibarikan dari pihak sumber syar’i mengenai kehalalan (kemubahan) dan keharaman sesuatu ataupun sesuatu yang meliputi hukum taklifi manusia. Walaupun secara tidak langsung bisa mewakili hal yang i’tibar tersebut kepada mabda ( sumber) yang waqi’i (sesuai dengan keinginan Tuhannya).
Sifat akhlaq yang baik berefek kepada kebahagiaan fitrah bathin, sedangkan efek dari menjalankan fiqih dengan baik adalah terlaksananya perintah maulanya berdasarkan I’tibar yang disampaikan kepada manusia tersebut yang pada hasilnya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhhirat.
Akhlaq yang baik salah satunya mengatakan harus mengikuti perintah Tuhannya dalam amalannya, yang dimana amalan tersebut ditinjau dari fiqihnya. Dan pelaksanaan amalan yang baik ataupun buruk dinilai dari sisi fiqih akan berakibat malakahnya pada kondisi bathin manusia yaitu akhlaqnya.
Lalu bisakah fiqih menghukumi kondisi bathin? Sebagian dari wilayah fiqih bisa menghukumi pada kondisi bathin seperti rusaknya amalan secara fiqih terhadap manusia yang melaksanakan shalat dengan riya, atau tidak sahnya salat tanpa kondisi niat yang ada dalam bathin manusia.
Bisakah kondisi Akhlaq menghukumi fiqih? Sebagian dari kondisi akhlaq bisa memilih dan memilah pada amalan yang menurut fiqih dikatakan mubah secara makna umum mubah melliputi ( makruh , wajib, mustahab). Jadi kondisi akhlaq bisa melihat dan memilah bukan keluar dari kondisi hukum fiqih tetapi hanya memilih sesuatu yang dianggap baik dari derajat hukum takllifi tersebut, seperti menghindari hal-hal yang berbau makruh , karena kondisi akhlaq yang baik menginginkan untuk mengindari segala keburukan walaupun berupa hal yang berupa makruh.
Kondisi Akhlaq tidak memiliki kemampuan merubah hukum syar’iyyah tetapi hanya bisa memilih hukum syariyyah , karena akhlaq sendiri tidak mampu merubah yang haram menjadi halal ataupun sebaliknya, karena sumber hukum syar’i itu muncul bukan dari kondisi akhlaq tetapi muncul dari perintah Maula ( Tuhan ) . Begitupun pelaksanaan fiqih saja tanpa disertai dengan kondisi bathin manusia tidak bisa merubah sedikitpun akhlaq manusia. Seperti yang sering dilakukan Munafik yang dimana secara dzahir melaksanakan fiqih tetapi kondisi bathin memiliki akhlaq yang buruk seperti melaksanakan hukum shalat dengan kondisi bathin benci kepada yang memerintah shalat (rasul saww) .
Sehingga kondisi akhlaq dalam aplikasinya sehari-hari harus dibarengi dengan pelaksanaan fiqih yang baik, begitupula sebaliknya. Sehingga bisa menghasilkan kondisi bathin yang baik dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

G. Pemahaman dahulukan akhlaq diatas fiqih
Dari berbagai wacana yang ada dan beberapa muqaddimah yang telah disebutkan kita bisa memahami ada beberapa kemungkinan terhadap pemahaman statement “dahulukan Akhlaq diatas fiqih”:
1. Pemahaman pertama (pemahaman liberal) : Mendahulukan akhlaq yang baik dari fiqih, dilakukan jikalau dirasa terjadi taarudh ( bentrok) dari keduanya, dengan memilliki pemahaman bahwa Akhlaq manusia memiliki kemampuan mustaqil (dengan sendirinya) menentukan amalan yang baik dan buruk amalan.
Disini sebenarnya jikalau kita melihat dari pemahaman diatas, bahwa yang menentukan baik dan buruk amalan secara mustaqil adalah Aqal manusia, dengan meminjam kata “Akhlaq” sebagai hakimnya.
Disini terjadi kekeliruan akan potensi aqal dalam melihat objek ahkam syariyyah pada perbuatan manusia. Maksudnya Aqal disini diposisikan sebagai Hakim mutlak untuk memutuskan sesuatu sampai pada tingkatan juziyyah ahkam syariyyah.
Tentunya perlu diketahui bahwa pembahasan dalam pemahaman pertama ini terjadi pada masalah husn wa qubh yang dimaknai dengan“ ma yanbaghi an yuf’al wa la yanbaghi an yuf’al” ( sesuatu yang seharusnya dilaksanakan dan tidak) yaitu pada point makna ketiga pada makna husn wa qubh yang telah disebutkan diatas bukan pada masalah makna baik itu kesesuaian dengan tabiat dan juga bukan dengan makna kesempurnaan.
Aqal manusia dengan makna pertama dan kedua yaitu “kesesuaian tabiah” dan “kesempurnaan” maka aqal bisa memahaminya secara mustaqil. Sedangkan Aqal Manusia dalam memahami makna yang ketiga sesuatu yang “bagaimana yang harus dilakukan” tidak bisa memahami secara mustaqil , bahkan membutuhkan keterangan lain dari pihak yang lebih mengetahui yaitu Tuhan yang menurunkan petunjuk berupa syariat Islam. Oleh sebab itu aqal dalam masalah ini tidak mustaqil membutuhkan keterangan dalam wilayah fiqih Islam.
Seperti halnya : Aqal tidak mampu secara mustaqil memahami bagaimana harus shalat tanpa ada petunjuk dari syar’iyyah, apakah shalat itu harus duduk, berbaring sambil nonton Tv atau jongkok, atau tapa. Disini bentuk kebagaimanaan shalat membutuhkan keterangan dari fiqih. Begitu juga bentuk toleransi, kita paham bahwa toleransi itu sebuah nilai kebaikan tetapi “kebagaimanaannya” kita membutuhkan keterangan lain dari fiqih, bagaimana caranya bertoleransi, apakah harus membenarkan seluruh agama, ataukah tidak?
Imam ahlulbait as bersabda :
إن دين الله لا يصاب بالعقول
Sesungguhnya perkara agama itu tidak bisa dikuasai (secara penuh) oleh akal
Artinya aqal tidak bisa memahami segala sesuatu sampai pada hal2 hal yang juziyyah, seperti permasalahan fiqih atau permasalahn kebagaimanaan beramal, akal hanya bisa memahami hal-hal yang umum ( yaitu makna husn wa qub pada poin ke satu dan kedua)
Oleh sebab itu keniscayaan Adanya petunjuk luar untuk membimbing “kebagaimanaan tersebut”, walaupun secara umum aqal kita paham akan kebaikan sesuatu tersebut, tetapi secar juz i diluar kekuasaan aqal kita.
Oleh sebab itu Allah mengutus rasulnya, yang meniscayakan petunjuk supaya memberikan bimbingan dan lepas dari siksaan api neraka .
مَنِ اهْتَدى‏ فَإِنَّما يَهْتَدي لِنَفْسِهِ وَ مَنْ ضَلَّ فَإِنَّما يَضِلُّ عَلَيْها وَلا تَزِرُ وازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرى‏ وَما كُنَّا مُعَذِّبينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا
Barang siapa yang mendapat petunjuk (Allah), maka sesungguhnya dia telah mendapat petunjuk untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan tak seorang pun yang memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Sehingga fungsi pengutusan rasul itu sendiri sebagai petunjuk untuk membantu aqal yang tidak mampu menentukan kebagaimanaan sesuatu perbuatan, dan konsekwensi dari mengikuti petunjuk tersebut adalah bebas dari adzab Allah SWT. Kalau Akal secara mustaqil dapat menentukan “kebagaimanaan” maka apa fungsinya pengutusan rasul dan ancaman dari azab Allah SWt.
Kesimpulannya Akal yang dipinjam dengan istilah akhlaq tersebut tidak bisa secara mustaqil ( independent ) menentukan kebagaimanaan harus berbuat baik itu, walaupun secara makna pertama dan kedua bisa memahaminya (yakni secara makna umum).

2. Pemahaman kedua (pemahaman bathiniah+ liberal) : Mendahulukan Akhlaq dari fiqih disini memiliki makna rutbah atau urutan mendahulukan dalam dzihn kita maksudnya Dzihn kita memahami bahwa kita harus mendahulukan untuk memahami nilai2 akhlaq yang dianggap baik dan mengumpulkan bentuk2 informasi mengenai sifat2 yang mulia lalu setelah itu dalam pelaksanaannya apa-apa yang menurut bentuk akhlaq mulia kita itulah fiqih Islam dalam pelaksanaannya.
Pemahaman seperti ini hampir sama dengan pemahaman yang pertama, yang pertama meyakini adanya i’tibar fiqih Islam tetapi pada akhirnya Aqal mustaqil lah yang menentukan dan menyingkirkan fiqih Islam, pada point kedua jelas sekali tidak meyakini keberadaan fiqih Islam yang bersumber hakikatnya dari Tuhan SWT, bahkan ekstremnya pada pemahaman ini menjadikan Akhlaq sebagai Illah dan fiqih sebagai ma’lulnya.
Dalil penolakannya :
– Pertama akhlaq bukanlah illat dan fiqih ma’lulnya , sebab Illat dari mensadirkan (mengeluarkan) syariat Islam ada pada mabadi (dasarnya: al-milak dan iradah ) disisi Allah SWT.
Al-Milak : Allah yang mengetahui maslahat dan tidaknya sesuatu untuk manusia
Al-Iradah : Allah menginginkan dengan adanya maslahat untuk diterapkan kepada Hambanya dan yang tidak untuk dihindarkan dari hambanya, oleh sebab itu Allah SWT mengeluarkan i’tibarinya berupa perintah dalam Alquran dan Sunnah nabinya.
– Sehingga disini akhlaq tidak bisa mengeluarkan syariat berupa fiqih yang ada, karena dia bukanlah sumber bagi syariat.

3. Pemahaman ketiga (pemahaman bathiniah) : Memahami bahwa Perintah satu-satunya ( innama – hasr) pengutusan nabi saww adalah untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia,
انما بعثت لأتمم مكارم الاخلاق
oleh sebab itu tujuan utama dari agama sampai kepada pelaksanaan fiqih pun adalah untuk penyempurnaan akhlaq seperti yang disebutkan di dalam hadits, oleh sebab kalaulah tidak melaksanakan fiqih tidak mengapa karena tujuan utama adalah akhlaq yang mulia.
Pemahaman seperti inipun memiliki kecacatan , sebab :
– Penyempurnaan budi pekerti yang mulia memiliki makna yang mutlak meliputi akhlaq kepada Tuhannya, akhlaq kepada makhluknya bahkan akhlaq kepad diri sendiri , karena dengan berbagai ayat atau hadits lain. Termasuk perintah menjalankan ahkam Islam, karena Allah sendiri memerintahkan kita untuk menjalankan perintahNya. Sehingga disini bisa kita pahami bahwa untuk memiliki akhlaq yang mulia berarti harus melaksanakan perintah2 Allah SWT , rasulnya dan Ulil Amrinya serta segala perintah2 dari mereka berupa amaliahnya juga, sehingga dalam hal ini tidak bisa dipisahkan antara kepemilikan akhlaq dengan menjalankan perintah syar’iyyah lainnya.
– Tidak ada hubungannya antara tujuan berakhlaq baik dengan ketidak harusan pelaksanaan fiqih Islam. Bahkan yang menjadi keharusnya justru sebaliknya bahwa untuk mendapatkan akhlaq baik tersebut maka perintah Maula nya juga haruslah dilaksanakan, sehingga minimal akhlaq kita terhadap Allah dan rasulnya tidaklah buruk dengan taat kepada mereka.
– Bukti lainnya nabi diutus dengan mengajarkan Ahkam Islam kepada ummatnya, tanpa menghapus atau menyepelekan ahkam Ilahi tersebut.
– Kembali lagi pada dalil pada point pemahaman pertama bahwa kebagaimanaan pelaksaaan akhlaq juga membutuhkan petunjuk lain berupa keterangan fiqih Islam, artinya akhlaq bima hua akhlaq tidak bisa menentukan secara mustaqil bagaimana pelaknaan amalan yang sesuai dengan akhlaq yang mulia tersebut kalau tidak dengan petunjuk luar.
4. Pemahaman ke Empat (penghilangan hubungan akhlaq dengan fiqih secara mutlak): Mendahulukan Akhlaq diatas fiqih dengan makna mendahulukan seluruh bentuk sifat kebaikan nafsi manusia lalu dalam pelaksanaannya diserahkan kepada fiqih saja walaupun nilai akhlaq tetap menjadi rujukan utama dari pada fiqih dari sisi penilaian. Seperti : ada fiqih Islam yang tidak sesuai dengan pemahamannya tentang sifat baik manusia sehingga menyebabkan ketidak sukaan dalam melaksanakan fiqih tersebut walaupun dia melaksanakan, seperti sebagian mendapatkan hak khumus sebagian lagi tidak memilikinya., efeknya dia tidak suka dengan fiqih islam ini. Karena yang dipikirkannya bahwa menolong tidak harus dibeda bedakan, Kekurangan dalam bentuk ini bahwa walaupun dia itu melaksanakan fiqih islam dengan benar tetapi dia tidak bisa menghubungkan antara fiqih dengan akhlaq. Dan tidak memahami bahwa justru dengan menjalankan fiqih Islam itu berarti kita mengikuti dan taat kepada Allah SWT, dan dengan ketaatan kepada Allah SWT berarti kita telah melaksanakan nilai akhlaq yang sangat agung.

5. Pemahaman ke Lima ( pemilihan) : Mendahulukan Akhlaq diatas fiqih maksudnya adalah :
Seperti yang telah kita ketahui bahwa Akhlaq yang mulia memiliki sifat menyukai kebaikan dan tidak menyukai keburukan, menyukai kesempurnaan dan tidak menyukai ketidaksempurnaan, dan hal inipun bagian dari fitrah manusia, nah ketika dihadapkan pada dimensi “Amal” kita sering menemukan berbagai macam hukum taklif berupa wajib, mustahab, mubah, makruh dan haram. Maka dengan mendahulukan akhlaq diatas fiqih kita pasti akan menjauhi dan membenci hal- hal yang haram, bahkan hal-hal yang berupa makruh pun ditinggalkan, karena melihat bahwa “makruh” merupakan nilai ketidaksempurnaan, bahkan lebih sempurna lagi perkara mubah pun ditinggalkannya dengan cara meniatkan seluruh perkara yang mubah untuk keridhoan dan kecintaan dan kerinduaan Ilahi rabbi, seperti misalnya meniatkan seluruh kenikmatan dunia seperti nafas dan tidur dll untuk taqarrub ilallah.
Point kelima inilah menurut pendapat saya pahami sebagai pemahaman yang benar terhadap statement “ Mendahulukan Akhlaq diatas fiqih”

Wassalam
zen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: