Tawasul Adalaha Bagian dari Ajaran islam

Tawassul Adalah bagian dari Ajaran Islam

Mukaddimah
Tawassul merupakan salah satu bagian dari ajaran Islam yang dianjurkan oleh Rasulullah, ahlulbaitnya dan sahabatnya yang terpilih, serta memiliki dasar yang kuat yang termaktub dalam Quran, hadits. bahkan para ulama suni dan syiah pun dalam masalah ini tak ada perbedaan pendapat. Dan hal inipun sudah menjadi ciri khas dalam ajaran islam di Indonesia yang konon disebarkan oleh para sunan walisanga. Seringkali kita mendengar fatwa yang menghebohkan yang menghukumi orang yang bertawasul dengan syirik, tidak lain tidak hanya fatwa itu keluar dari Ibnu taimiah, Muhammad bin Abdul wahhab, Kerajaan saud dan ulama Saudi. Sedangkan kata syirik di dalam Alquran merupakan kata yang dinisbatkan kepada penyembah patung yang bisa dihukumi najis menurut ijma ulama. Disini kita dapat melihat bentuk dari fatwa tersebut yang terlalu gegabah memutuskan fatwa syirik dan kafir bahkan halal darahnya kepada umat Islam, khususnya kepada empat mazhab (syafei, hanafi, maliki, hanbali)dan mazhab syiah. Serta dalil-dalil penolakannya yang bersumber dari kitab suci dan kitab-kitab hadits ahlussunnah (suni).

Asal Muasal Pengkafiran tawassul
1. Ibnu Taimiah
a. dalam kitab Ziaratul qubur wal istinjad bil qubur hal 156 mengatakan :
“ Barang siapa yang datang ke kuburan nabi dan orang shalih, dan bertawasul dengan hajatnya dan pertolongannya, misalnya bertawasul meminta disembuhkan dari sakit, atau meminta syafaat atau melunaskan hutang-hutangnya atau yang serupa dengannya dimana tak ada yang bisa melaksanakan dan mampu selain Allah, maka orang tersebut harus bertobat jikalau tidak maka harus dibunuh.
b. Dalam kitab yang sama atau dalam kitab Kashful irtiad hal214 mengatakan :
Banyak dari orang sesat yang mengatakan bahwa mereka (rasul dan orang shaleh) lebih dekat dengan Allah (dari sisi maqam) daripada aku, maka tidak mungkin aku berdoa langsung kepada Allah oleh sebab itu aku bertawasul kepada mereka. Pernyataan tersebut dikatakan musyrik.
2. Muhammad bin abdul Wahab
1. Kitab Majmu Muallifaat syeikh muhammad bin wahhab jilid 6 hal 115. Kasyful Syubhah hal 58 cetakan darul kalam Beirut.
و ان قصدهم الملائكة و الانبياء والاولياء يريدون شفاعتهم و التقرب الى الله بذالك هو الذي احلل دماءهم و اموالهم
Dan barang siapa yang bertawasul untuk meminta syafaat kepada malaikat , nabi dan para aulia dan mendekatkan diri kepada Allah dengan tawassul tersebut maka halal darahnya dan hartanya (artinya bisa diambil hartanya).

2. Majmu’ Muallifat syeikh Muhammad bin Abdul Wahab hal 241, jilid 5.
لا يصح دين الاسلام الابالبراءة ممن يتقرب الى الله بالصلحاء و تكفيرهم
Tidak lah sah islamnya kecuali dengan menyatakan kekafiran kepada orang yang bertawasul dengan orang yang shalih dan untuk mendekatkan diri pada Allah.

3. Fatwa dalam sejarah kerajan Su’ud
1. Dikarenakan kebencian kepada orang syiah mereka berfatwa Dalam tarikh ali su’ud jilid 1 hal 31 mengatakan bahwa :
Tidak diperkenankan untuk menikah orang suni dengan orang syiah dan tidak pula dengan pengikutnya. Jikalau terjadi maka nikahnya bathil, dikarenakan makruf dikalangan syiah bertawasul kepada ahlulbait nabi saww dan ini adalah Syirik Akbar.
2. dalam kitab Alfatwa al jannah addaimah, albahuts ilmiah wal ifta hal. 298 jilid 18 disebutkan bahwa haram juga makan dari hewan sembelihan orang syiah.
3. Akan tetapi dilain hal mengizinkan menikah dengan yahudi dan nasrani (kitab yang sama dengan poin 2)

4. Fatwa Ulama Su’udiah sekarang
Mengatakan bahwa dikarenakan Rasul saww sudah meninggal dan tak ada hubungannya dengan alam dunia ini maka dia tak memiliki kekuatan apapun dan tidak pula bisa mendoakan umatnya, oleh sebab itu tawasul kepada orang yang tak punya kekuatan (lemah) secara akal bathil. Dan yang melakukannya syirik.

Dalil penolakan pemikiran wahabiah mengenai tawasul
A. Ayat Al-Quran mengenai tawassul:
1. Surat Annisa ayat 64 :
وَ ما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطاعَ بِإِذْنِ اللهِ وَ لَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جاؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَ اسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَحيماً
Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Dalil : Kata istaghfara artinya rasul meminta kepada allah ampunan bagi mereka maksudnya bukan hanya pada masa hidupnya beliau saww kata tersebut biasa digunakan pula untuk masa setelah wafatnya beliau saw, sebab dalam ilmu bahasa arab jikalau fi’il setelah huruf Syarat mengandung makna umum (artinya tidak ditentukan waktunya, untuk kapan saja, baik waktu hidupnya atau meninggalnya) seperti dijelaskan dalam kitab Irsyad fuhul hal 22. Dan para mufassir di golongan suni dan syiah pun memahaminya demikian. Bahkan dalam kitab tafsir ibnu katsir yang sering digunakan oleh orang wahabi mengisyaratkan demikian dalam menafsirkannya demikian menuliskan : Sepeti halnya para pembesar seperti syeikh Abu nasyir shabbagh peristiwa tersebut masyhur yang dinukil dari atbi, di samping kuburan rasulullah saww mengucapkan : Assalamualaika ya rasulullah…
Malik pendiri mazhab maliki dalam menafsiran ayat tersebut dengan jawaban dari pertanyaan Mansyur salah satu khalifah abbasiah.
Mansyur bertanya : Apakah (dalam berziarah dan bertawasul) aku hadapkan ke kiblat dan berdoa atau aku hadapkan ke kuburan rasul dan berdoa.
Malik menjawab : Mengapa anda menginginkan untuk memalingkan wajah dari kuburan nabi-Nya, dia (rasul) wasilahmu dan wasilah Nenek moyangmu Adam as kepada Allah SWT, oleh sebab itu hadapkanlah wajahmu ke kuburannya dan mintalah syafaat, maka Allah akan memberikan syafaat padamu.
Kemudian Malik membacakan ayat tersebut. Bisa dilihat di kitab As-Syifa’ bita’rif huquq almushthafa, hal 28 jilid 1.
Dan masih banyak lagi ulama yang mengatakan demikian terhadap ayat tersebut, salahsatunya Fakhrurazi dalam kitab tafsirnya.
2. Surat Yusuf Ayat 97 , ketika saudara Yusuf meminta ampun kepada Allah SWT melalui ayahnya sendiri yang nabi Yaqub as.
قالُوا يا أَبانَا اسْتَغْفِرْ لَنا ذُنُوبَنا إِنَّا كُنَّا خاطِئين
Mereka berkata, “Hai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).
قالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحيمُ
Ya‘qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
3. Surat Muhammad (saww) ayat 19
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَ اسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَ لِلْمُؤْمِنينَ وَ الْمُؤْمِناتِ
Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.
Disana justru mengandung kalimat perintah Allah SWT kepada nabinya untuk memintakan ampun bagi mukminin dan mukminat.
4. Surat At-Taubah ayat 103
إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ…………………..
Sesungguhnya doamu itu (menjadi sumber) ketenteraman jiwa bagi mereka
Artina nabi mendoakanmereka
5. Surat Al-Maidah ayat 53
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسيلَةَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya
Yakni perintah mencari wasilah baik itu nabi ahlulbaitnya sahabat terpilih dan orang-orang shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
6. Surat Ali Imran 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَميعاً وَلا تَفَرَّقُو
Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai
Hablillah yaitu tali Allah SWT dan tali Allah SWT itu ada sampai akhir zaman sesuai dengan hadits nabi saww yang mutawatir
اني تارك فيكم الثقلين كتابالله و عترتي ما ان تمسكتم بهما لن تضلوا ابدا
Sesungguhnya aku telah tinggalkan bagimu dua pusaka yang berat kitab Allah (Quran) dan itrah nabi (ahlulbait yangdisebutkan dalam al-ahzab 33) barangsiapa yang memegang teguh keduanya tidak akan tersesat selamanya.
Disini diibaratkan adanya tamassuk artinya berpegang teguh dengan tali Allah yaitu dengan tawassul atau dengan wasilah tali Allah yang dua itu.
B. Ayat Al-Quran menunjukkan bahwa Nabi , orang shaleh dan orang syahid tidak mati di akhirat, sesungguhnya mereka itu hidup . dan ayat ini menyanggah khayalan ulama Saudi.
1. Surat Albaqarah 154
وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذينَ قُتِلُوا في سَبِيلِ اللّهِ أَمْواتاً بَلْ أَحياءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُون
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang telah gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.
2. Surat Ali-Imran 169-171
2. وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذينَ قُتِلُوا في‏ سَبيلِ اللهِ أَمْواتاً بَلْ أَحْياءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki,
فَرِحينَ بِما آتاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ يَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَ فَضْلٍ وَ أَنَّ اللهَ لا يُضيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنينَ
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman
Keterangan : di alam selain dunia ini mereka mendapat keahagiaan menerima karunia Allah yang besar, ini menunjukkan bahwa mereka senantiasa hidup. Maka masuk akal dan sesuai dengan nash bertawassul kepada mereka.

B. Hadits
A. Tawassul sebelum bi’tsat nabi saww (diangkatnya nabi saww)
a. Tawassul di zaman sebelum kelahiran Rasullullah saww
1. Hakim Nisyaburi Ulama besar Ahlussunnah dalam kitabnya Mustadrak ala Sahihain jilid 2 hal.672, hadits 4227 dan jilid 2 hal.615. hadits dari umar bin Khatab dari rasulullah saww
“Zaman dimana nabi Adam as menyesali atas perbuatannya (yang mengakibatkan turun dari syurga) , dia as bersabda: Ya Allah bi haqqi Muhammad saww ampunilah dosaku.
Tuhan berfirman : bagaimana engkau mengetahui Muhammad saww sedangkan dia belum aku ciptakan.
Adam as menjawab : ketika engkau sudah cinpakan aku dan meniup ruhku dan mengangkat kepalaku, kulihat di arsy bertuliskan Laailaahaillaah Muhammadarrasuulullah, dan aku mengetahui bahwa Engkau tidak menambah pada namaMu kecuali seseorang yang engkau cintai.
Allah SWT berfirman : Anda benar yaa Adam as sesungguhnya dia (Muhammad saww ) adalah makhluk ang paling dicintai (olehKu) , Oleh sebab itu angkau meminta ampun dengan haq nya Muhammad saww maka aku mengampunimu. Jikalau tidak karena Muhammad saww maka aku tak akan menciptakan Mu.
Hakim Nisyaburi mengatakan : Hadits Shahih
Hal serupa yang membenarkan hadits tersebut adalah
– Baihaqi (ulama suni) dalam Dalail An-Nubuwah , jilid 5 hal 489
– Dzahabi (Ulama besar suni) dalam kitab Almu’jam As-Shaghir jilid 2 hal 82.
– dan masih anyak lagi ulama ahlussunnah yang memberikan pernyataan serupa
b. Tawassul Abdul Muthallib di zaman Rasulullah saww masih bayi
1. Syahrastani (uama besar ahlussunnah) dalam kitab almilal wan nihal (kitab makruf) jilid 2 hal 249 , dimana pada masa itu penduduk Mekkah dilanda paceklik dan gersang yang sangat, dan dalam keadaan tertekan, AbdulMuthallib (kakeknya rasul saww) meletakkan tangannya diatas kain si bayi dan menghadap kiblat serta berdoa :
Ya Rabbi Bihaqqi bayi ini (sambil berkali2 menta’kidkan) dengan rahmatmu turunkanlah hujan yang lebat dan terus menerus dan tanaman yang lebat . Tak lama kemudian awal menggumpal hitam dan turun hujan sampai dimana masyarakat mengkhawatirkan ka’bah kebanjiri.
2. Ibnu Hajar menuliskan dalam kitabnya syi’ir Abu Thalib mengenai peristiwa tersebut dalam kitab Fathul Bari jilid 2 hal.412.
c. Tawassul Abu Thalib (Pamannya rasul saww) kepada Muhammad saww di masa kecilnya
tertulis oleh Ibnu Asakir dan ulama lainnya dalam kitab Shahih bukhari hal 15 jilid 2 bab sual an-nass al-imam alistiqa idza qahti.
d. Tawassulnya orang-orang Yahudi sebelum bi’tsat nabi (kepada rasulullahsaww)
Tafsir ahlussunnah dalam berbagai tafsirnya menafsirkan ayat 89 surat albaqarah, dari ibnu Abbas mengatakan : (Ketika zaman sebelum bi’stat nabi) Orang-orang Yahudi Khaibar dalam perang dengan suku Ghatfan , dalam keadaan merasakan kekalahan dengan suku tersebut, kemudian mereka bertawasul kepada nabi Allah Muhammad saww, mereka dengan jelas mengatakan :
Kami meminta kepadaMu Ya Allah bi Haqqi Nabi yang ummi (disini maksudnya kepada rasulullah saww) dimana telah kau janjikan kepada kami akan muncul di akhir zaman supaya dalam perang ini kami menang.
Dan ketika mereka menang dalam perang tersebut mereka menentang nabi-Nya (Muhammad saww) setelah bi’tsatnya.
Tertulis dalam kitab Tafsir ahlussunnah semisal Thabari jilid 1 hal 324; tafsir qurthubi jilid 2 hal.27; Ad-Durul Mantsur Suyuty jilid 1 hal 88; Albidayah wan nihayah jilid 2 hal. 378; Mustadrak As-Sahihain jilid 2 hal 263.
B. Tawassul kepada nabi ketika setelah bi’tsatnya
1. Tirmidzi dari utsman ibn Hanifah mengatakan : Seseorang buta datang kepada nabi dan berkata : doakanlah aku kepada Allah (ya rasululah) supaya Allah menyembuhkan kebutaan aku.
Rasul bersabda : jikalau kamu mau saya akan doakan jikalau kamu bersabar itu lebih bak, kemudian orang buta tersebut berkata : saya meminta doa darimu, lalu rasul saww menjawab : berwudulah dengan baik dan berdoalah doa ini :
اللهم اني اسالك و اتوجه اليك بنيك محمد نبي الرحمة . يا محمد ! اني توجهت بك الى ربي هذه لتقضي لي اللهم فشفعه في
Ya Allah aku meminta dan menghadap kepadamu dengan haq nabi Muhammad saw nabi arrahmah. Ya Muhammad sesungguhnya aku menghadapmu kepada tuhanku mengenai ini untuk meyembuhkan kebutaanku. Ya Allah jadikanlah dia (Muhammad) menjadi penyembuh ku.
Attirmidzi dan ibn majah penyusun hadits suni menyatakan kesahihan hadits ini, dan juga Hakin Nisyaburi mensahihkan pula dengan syarat bukhari dan muslim . dalam mustadrak ala sahihain jilid 1 hal 313, 519, 526.
Dan juga Thabari serta Haistami membenarkan kesahihannya dalam ad du’a 320, al- mu’jam al-kabir jilid 9 hal 31, majma az zawaid jilid 2 hal 297
2. dalam kitab bukhari pun disebutkan tawasulnya penduduk madinah kepada rasulullah untuk mendatangkan kesuburan di tanahnya
3. Tawassul Umar bin Khatab kepada nabi saww
Yang tertulis dalam kitab sahih bukhari jilid 2 hal 16, hadits 1010, setiap saat paceklik tiba umar bertawasul kepada rasul saww

C. Tawassul kepada rasul saww setelah beliau meninggal dunia
1.Tawassul Abu bakar setelah meninggalnya rasul saww.
Abu bakar mengatakan :
اذكرنا يا محمد !عند ربك و لكن علي بالك
Kitab darus- sunniah fi radd ala wahhabiah hal34 , zaini dahlan mufti makkah mengatakan mengenai hal tersebut bahwa abu bakar dengan kalimat tersebut bertawassull kepada rasulullah saww.
2. Tawassul Amiril Mukminin Ali kW
Ketika beliau memandikan mayat suci rasulullah saww bertawassul :
Demi ibu dan ayahku ya rasulullah dengan meninggalnya engkau maka terputuslah wahyu (nubuwwah, anbiya dan khabar langit)dari ilahi ke bumi ingatkanlah aku dihadapan tuhan dan janganlah lupakan aku
(nahjul balaghah, khutbah 235)
3. tawassulnya abu ayyub al anshari di depan quburan rasulullah saww, diceritakan oleh Hakim Nisyaburi dan ahmad ibn Hanbal dari dawud ibn abi shalih dalam kitab dafa’a subhah anirrasul hal 143.
4. Tawassul Bilal ibn Harits di depan quburan rasulullah saww dalam kitab tarikh dmisk jilid 7 hal 42, istiiab jilid 3 hal 1149, albidayah an-nihayah, jilid 7 105, dll
5. Tawassul bilal muadzin rasulullah saww di depan kuburannya, dalam kitab asadul ghabah jilid 1 hal 28
6. Tawassul para ulama hambaliah (suni) di depan makam imam Kadzim (imam syiah ke -7) tahdzib alkamal jilid 6 hal 263, tarikh baghdad jilid 1 hal 133
7. Imam syiah ke 8 (Imam Ridha as /ra) merupakan tempat ziarah bukan hanya masyarakt syiah akan tetapi para ulama ahlussunnah pun diceritakan oleh Muhammad ibn Muammal bersama ibn Khuzaimah para ulama besar ahli hadits suni dan banyak lagi ulama lainnya sering berziarah ke Imam Rida tersebut bisa dilihat di kiab Tahdzib at tahdzib jilid 7 hal 339. Begitu pula Ibn Hibban masyhur termasuk penulis ilmu rijal ulama ahlussunnah dalam kitab atstsiqat 8 hal 457
8. Tawassul Umar bin khatab kepada rasul saww dan kepada pamannya rasul abas ibn abdulmuthallib setelah mereka meninggal dunia, sahih bukhari jilid 2 hal 27

Penutup
Masih banyak pembahasan mengenai dalil-dalil kebenaran tawasul dan ziarah dari para ulama dan kitab-kitab yang ditulis untuk menyanggah pemikiran wahabi yang hanya karena tawassul menghukumi umat islam dengan kafir syirik dan halal darahnya. Semoga dengan tulisan singkat ini bisa bermanfaat bagi para pembaca
Penyusun: Zen S.Si
Intisari dari :
1. Naqd kamil wahabiat
2. Al-Barahin Aljaliyyah fi raf’i tasykikati alwahabiah, Sayyid Muhammad hasan al-qazwini al hairi, di dalam software pasukh ghu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: