Tangisan Karbala Adalah Sunnah Rasul Saww

Tangisan Karbala adalah Sunnah Rasul saww
(Dalam Pandangan Ahlussunah Wal Jamaah)

Pendahuluan
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang besar bagi manusia, nikmat yang tak terbatas dan tak bisa dihitung dalam batas pengetahuan manusia. Kenikmatan itu meliputi berbagai macam dimensi di dalam kehidupan manusia baik itu yang berupa materi maupun ruhani. luapan perasaan, baik itu sedih dan senang serta cinta merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari kenikmatan tersebut. Betapa indahnya kita bisa merasakan kesenangan ketika kita mendapatkan berita yang memberikan bunga di taman hati , begitu juga betapa indahnya ketika hati hanyut dalam kesedihan dikarenakan telah datang berita yang menyayat hati dan sanubari. Tak bisa kita bayangkan apabila kita sedikitpun tidak bisa merasakan kesedihan. Mungkin hati kita seperti batu yang tak bisa merasakan kesedihan dan mata kita seperti padang tandus yang tak bisa mencucurkan air mata. Sungguh Tuhan telah memberikan kenikmatan ini untuk sekalian manusia, bukanlah maksud tuhan memberikan kenikmatan tersebut untuk sesuatu yang tidak berfaedah, tetapi tentunya kenikmatan diciptakan untuk faedah bagi manusia, baik itu faedah psikologi manusia maupun faedah yang lainnya misalnya tumbuhnya rasa simpatik dan kebersamaan diantara manusia yang bisa merasakan bagaimana sedih dan pedih, apalagi kita bersedih meratapi manusia yang mulia. Sehingga dengan merasakan sifat kemanusiaan yang sama di setiap zaman dan masa kita bisa menemukan titik persamaan yang tidak terbatas atau dibatasi dengan sekat keyakinan atau mazhab tertentu.
Pembantaian Karbala bukanlah khabar yang baru kita dengar. Peristiwa tersebut selalu menyayat hati seluruh manusia yang memiliki kepedulian akan kemuliaan, penghormatan akan kesucian, dan kecintaan akan kerasulan. Kesedihan terhadap peristiwa di padang Karbala bukan hanya musibah bagi kaum syiah – dimana memiliki perhatian yang khusus dan serius terhadap Karbala sebagai salah satu corong pembuka kebenaran dan menerangi keyakinan akidah, serta ajarannya- akan tetapi sebenarnya ini juga merupakan musibah bagi seluruh manusia di dunia khususnya kaum muslim. Tak ada seorangpun-yang memiliki akal sehat- membenarkan pembantaian yang tak berprikemanusiaan kepada orang lain yang tak berdosa. Kita bisa ambil contoh tak ada seorangpun yang tega menelantarkan bahkan membiarkan cucu kita terbunuh dan dihinakan oleh orang lain, apalagi kita sebagai umat Islam tak mungkin kita rela dan acuh-tak acuh melihat dan mendengar peristiwa pembantai cucu dari rasulllah saww. Tak ada satupun dalil akliah, naqliah yang membenarkan pembantaian tersebut bahkan perasaan kitapun bisa menyalahkan perlakuan keji tersebut.
Dalil-dalil mengenai tangisan dan anjuran padanya untuk Al-Husein sebagai bukti kesedihan kita terdapat dalam berbagai sumber kitab hadits dan tarikh yang ada, baik di kalangan suni ataupun di syiah. Dan disini saya mencoba menguraikan bagaimana rasulullah saww melaksanakan majelis karbala tersebut khusus dalam kitab-kitab ahlussunnah. Sehingga diharapkan majelis Karbala menjadi pengingat akan peristiwa kesedihan umat Islam pada umumnya dan menjadi pemersatu bagi umat Islam dalam membela kebenaran –seperti yang dilakukan oleh Imam Husein- dan melawan segala kezaliman. Serta majelis karbala bisa menjadi momen bersama dalam mempelajari sejarah dan menegakkan kebenaran sebagai bagian dari tugas bersama umat Islam tanpa dibatasi oleh sekat-sekat kemazhaban.

Tangisan Adalah Sunnah Rasul saww
Sedih dan bersedih serta meratapi orang-orang dekat dan mulia merupakan perbuatan yang dicontohkan oleh Rasulullah saww, seperti yang ditulis di berbagai kitab hadits (suni maupun syiah). Seperti halnya Rasulullah saww menangisi dan meratapi putranya Ibrahim, seperti yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf , dia berkata : “Dan Anda Ya.. Rasulullah ?” dan bersabda : “Wahai Ibn ‘Auf sesungguhnya (tangisan itu) adalah rahmah” dalam sabda lainnya beliau menjelaskan :
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا ، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
“Sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata, dan hati bersedih, dan kita tidak mengatakan (memerintahkan/meyakini) kecuali apa-apa yang menjadi keridhoan Allah, dan sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih dikarenakan perpisahanku dengan Ibrahim (putraku).”1
Di dalam hadits tersebut bisa kita pahami bahwa bahwa tangisan untuk orang yang dikasihinya adalah sebuah kebaikan dan rahmah.
Dan juga ketika meninggalnya salah satu dari putri kesayangan beliau, rasul saww meluapkan isi hatinya dengan menangis seperti yang ditulis dalam Bukhari dan muslim2 . Ketika itu rasulullah saww mencucurkan air matanya dan berkatalah Sa’ad padanya : Apakah itu Ya.. Rasulullah?
هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِى قُلُوبِ عِبَادِهِ ، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
“Air mata ini adalah rahmah, Allah telah menjadikan di dalam hati hambanya (kesedihan), dan sesungguhnya Allah merahmati kasih sayang pada hambanya”.
Meratapi kesedihan orang-orang mulia bukan hanya fitrah manusia akan tetapi anjuran juga dari pihak rasulullah saww bagi mukminin dan mukminat seperti yang tertulis dalam musnad Ahmad bin Hanbal3 , bahwa ketika kembalinya rasulullah saww dari perang uhud dan beliau melihat para wanita Anshar menangisi suaminya yang terbunuh di perang Uhud, lalu bersabdalah Rasulullah saww : وَلَكِنْ حَمْزَةُ لَا بَوَاكِيَ لَهُ [Akan tetapi tak ada (seorangpun) tangisan bagi hamzah(paman rasul saww yang setia dalam setiap perjuangan)] setelah itu mereka terdiam kemudian mereka menangis lagi, dan tangisan itu adalah untuk meratapi hamzah (bukan yang lainnya). Kalimat وَلَكِنْ حَمْزَةُ لَا بَوَاكِيَ لَهُ mengandung arti lain “jangan lupa juga menangisi Hamzah” dan disini mengandung makna anjuran untuk menangisi pahlawan Islam serta celaan bagi yang meninggalkannya. Seperti halnya tangisan Sayyidah Zahra as atas kematian Ja’far (manusia mulia) , sehingga nabi saww bersabda4 :
على مثل جعفر فلتبك البواكي
Disini kita bisa melihat kemuliaan Ja’far sehingga Sayyidah Zahra as putri rasulpun menangisinya.
Bisa kita lihat juga pada Musnad Ahmad , dimana pada saat itu para wanita menangisi kematian putri rasulullah saww Raqiah , kemudian datanglah Umar dan memukul mereka dengan cemeti lalu rasul melarangnya dan mengusirnya setelah itu rasul saww bersabda :
مَهْمَا يَكُنْ مِنَ الْقَلْبِ وَالْعَيْنِ فَمِنَ اللَّهِ وَالرَّحْمَةِ
“Dan Apa-apa yang terjadi (gejolak) pada hati dan mata hal itu adalah rahmat dari Allah SWT (maka janganlah dilarang kesedihan mereka)” setelah itu Nabi saww pun mengusap air mata Fatimah as (dengan baju sucinya) sebagai rahmah baginya.5
Seperti yang kita tahu bahwa tangisan bukanlah hanya terjadi pada manusia biasa, akan tetapi terjadi pula pada rasul saww, dan keluarganya, bahkan para nabi-nabi sebelumnya. Bisa kita lihat pada kisah tangisan Nabi Ya’qub ketika hilangnya putra kesayangannya Nabi yusuf as6 bahkan dalam tafsir Al-Kasysyaaf disebutkan bahwa menangisnya nabi Ya’qub as selama 80 tahun lamanya, dan air matanya sampai kering7, sampai menjadi buta.

Dalil Penolakan atas Pelarangan Ratapan
Sebagian dalil kitab-kitab hadits ahlussunnah pun menyebutkan akan pelarangan tangisan untuk orang mati atau ratapan padanya seperti di dalam shahih bukhari dan muslim yaitu :
إِنَّ الْمَيِّت لَيُعَذِّب بِبُكَاءِ أَهْله عَلَيْهِ sebagian mengatakan بِبَعْضِ بُكَاء أَهْله عَلَيْهِ , بِبُكَاءِ الْحَيّ ,
يُعَذَّب فِي قَبْره بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ, مَنْ يَبْكِ عَلَيْهِ يُعَذَّب , yang artinya Sesungguhna Mayyit akan disiksa dengan tangisan keluarganya.
, akan tetapi hal ini tertolak dengan berbagai macam dalil Akli maupun naqli :
1. Al-Fadhil Annawawi dalam syarah Shahih Muslim8 mengatakan bahwa semua riwayat atas pelarangan tangisan terhadap orang mati adalah bersumber dari Umar bin Khatab dan putranya Abdullah (bukan bersumber dari rasul). Begitu juga beliau mengatakan bahwa ‘Aisyah istri nabipun menolak terhadap mereka berdua (Umar dan putranya) mengenai pelarangan tangisan terhadap orang mati dan menisbatkan kepada mereka dengan kekeliruan dan kesalahan dalam menyebutkan hadits. ‘Aisyah juga mengatakan bahwa tak ada hubungannya antara tangisan dan dosa sang mayyit, dan dia berdalil dengan ayat Al-Quran Al-An’am ayat 164 :
ا وَلا تَزِرُ وازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرى , artinya “dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” 9
2. Di dalam Tarikh Tabhari disanadkan dari Sa’id dikatakan bahwa 10: Ketika wafatnyaAbu Bakar, ‘Aisyah meratapi dan menangisi kepergian ayahnya itu, setelah itu datanglah Umar dan melarang mereka (para wanita) yang ikut menangisi kewafatan Abu Bakar. Mereka tidak mempedulikannya lalu mereka berhenti, lalu berkatala Umar kepada Hisyam Ibnu Al-Walid :” Masuklah (Ibnu Hisyam) dan keluarlah (mengadapku) Putri Abi Qahafah”. Dan ‘Aisyah Berkata terhadap Hisyam setelah mendengar ucapan Umar :”Sesugguhnya saya melarang kamu memasuki rumahku”, Lalu berkata Umar kepada Hisyam “ Masuklah saya mengizinkanmu (untuk masuk)”, lalu masuklah Hisyam dan keluarlah Ummu Farwah saudara Abu Bakar menuju Umar, dan memukulnya, berkali-kali, dan tercerai-berailah orang-orang yang menangisinya itu. Dan hal ini bertolakbelakang dengan taqrir nabi saww ketika wanita Anshar menangisi para suaminya yang syahid di perang Uhud dan rasul saww bersabda : وَلَكِنْ حَمْزَةُ لَا بَوَاكِيَ لَهُ dan ketika meninggalnya Ja’far serta menangisnya para wanita termasuk sayyidah Zahra as dengan sabdanya :
على مثل جعفر فلتبك البواكي disertai dengan ، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ ketika meninggalnya salah satu putri kesayangannya.
3. Jikalau ratapan terhadap mayit dikatakan haram, maka kenapa Umar membolehkan wanita-wanita bani Makhzum untuk meratapi dan menangisi Khalid ibnu Al-Walid?11 Dan juga ketika wafatnya Nu’man , Umar meletakkan tangannya tiatas kepalanya dan menangisinya.12

Karbala di Zaman Rasulullah saww
Rasulullah bukan hanya menangisi putra, putri atau orang-orang yang mulia akan tetapi rasul saww juga menangisi cucu kesayangannya Al-Husein as. Dan tangisan ini merupakan perkara yang khusus, dikarenakan khabar kesyahidan Al-Husein as -belum terjadi pada zaman rasul saww hidup- disampaikan langsung oleh Jibrail as, dan pada saat itu rasul, keluarganya serta sabahat-sahabatnya ikut menangis meratapi kesyahidan cucu nabi yang belum terjadi. Dan hal ini bisa kita katakan sebagai tangisan yang mengandung makna yang khusus bagi umat setelahnya. Karena tangisan itu dilakukan sendiri oleh nabi saww, keluarga dan sahabatnya. Bisa kita lihat dalam kitab-kita ahlussunnah, misalnya Ahmad bin Hambal13 dari hadits Imam Ali as yang disanadkan sampai ke Abdullah Ibnu Nujayin dari ayahnya, dan dia bersama Imam Ali as, ketika itu dihadapan Imam Ali as adalah nainawa (Karbala) dan Imam as sedang menuju ke tepi sungai furat , Imam bersabda :
اصْبِرْ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ اصْبِرْ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ بِشَطِّ الْفُرَاتِ , “Bersabarlah Aba Abdillah -Al-Husein as- bersabarlah Aba Abdillah di tepi sungai Furat”, berkata perawi : aku berkata : Apakah itu ? bersabda Imam as : “Di suatu hari aku menemui rasulullah saww dan rasul saww mencucurkan air matanya, aku -Imam Ali as- bertanya, Wahai Nabi Allah, Apa yang menyebabkan cucuran air matamu ? bersabda nabi saww : bersabda Jibrail as kepadaku, bahwa putraku Al-Husein akan terbunuh di tepi sungai Furat, lalu bertanya Rasul saww : Apakah engkau mencium tanahnya(karbala)? Menjawab Imam Ali as : betul, lalu tangannya memenggam tanah(karbala) dan memberikannya kepadaku lalu aku tak pernah menangis seperti pada waktu itu.13
Dengan hadits yang serupa ditulis pada kitab Shawa’iq Al-Muhriqah liibni Hajar, fashl ke-3 bab ke-12. Dan ketika Imam Ali as melewati kuburan Al-Husein as, bersabda :
“Disinilah tempat berhentinya pengendara (rombongan Al-Husein dan keluarga serta sahabatnya), dan disinipulalah tempat meningggalnya (syahidnya mereka), dan disinipulalah tempat memancar dan mengalirnya darah-darah mereka, dan para pemuda dari keluarga Muhammad saww, terbunuh di padang ini , dan menangislah seluruh langit dan bumi”14
Meriwayatkan pula As-Syafi’i di dalam bab indzar An-nabi saww dan selanjutnya di dalam kitabnya a’laamu an-nubuwwah dari ‘urwah dari ‘aisyah berkata : ketika itu Al-Husein menemui kakeknya rasul saww dan datang Jibrail menyampaikan khabar kepada rasul saww : “sesungguhnya ummatmu akan tercerai berai setelahmu dan mereka akan membunuh putramu yang ini (Al-Husein as) peristiwa tersebut akan terjadi setelah engkau meninggal dunia, kemudian Jibrail as menjulurkan tangannya dan memberikan tanah putih, dan malaikat bersabda : di tanah ini lah akan terbunuh putramu (Al-Husein as).15 Dan nama tanah itu adalah tanah “الطف “(Karbala yakni di tepi sungai).
Setelah itu ‘Aisyah melanjutkan : setelah Jibrail as pergi lalu keluarlah rasul saww menuju sahabat-sahabatnya dengan membawa tanah di tangannya, pada saat itu yang hadir Abu Bakar, Umar, Ali, Hudzaifah, Utsman, Abu Dzar, dan rasulullan saww dalam keadaan menangis, dan bertanyalah para sahabat : Apa yang kau tangisi wahai rasulullah saww? , dan bersabda Rasul :
“Jibrail telah mengkhabarkan kepadaku bahwa putraku Al-Husein akan terbunuh setelah kewafatanku dengan tanah yang bernama” الطف “(Karbala-yakni di tepi sungai), dan Jibrail datang memberiku tanah ini dan mengkhabarkanku bahwa pada tanah itulah tempat syahidnya.
Bahkan di halaman setelahnya diceritakan bahwa Rasul mengisyaratkan kepada ‘Aisyah ketika terbunuhnya Al-Husein di karbala maka tanah itu akan memerah16
At-Tirmidzi juga menuliskan hadits tersebut dalam sunannya17 bahwa pada saat itu Ummu Salamah ra melihat Nabi saww menangis dimana pada kepala dan jenggotnya terdapat tanah dan bersabda : “Al-Husein akan terbunuh mengenaskan secara keji yang tak bisa dibayangkan sebelumnya”
Tidak hanya disitu di dalam kitab ahlussunnahpun diceritakan waktu kejadian yang lebih detail seperti yang ditulis dalam kitab As-Sawaiq dari Ibnu Abbas.18
Oleh sebab itu hadits mengenai kejadian Karbala dan ratapan ataupun tangisan rasulullah saww merupakan hadits mutawatir dalam berbagai macam kitab hadits, baik itu tangisan rasulullah ketika hari kelahiran Al-Husein, hari ke-7 dari kelahirannya, setelahnya di rumah Fatimah Az-Zahra as, di kamarnya, di minbar, di sebagian safarnya, kadang-kadang menagis dalam kesendirian, kadang kala pula bersertanya Jibrail, Imam Ali as dan Fatimah as, dan juga sahabat nabi. Sering nabi mencium Al-Husein di dada atasnya lalu menangis, dan menciumnya di kedua bibirnya lalu menangis, ketika melihat Al-Husein bergembira rasul saww menangis, dan ketika melihat Al-Husein bersedih rasulpun menangis. Begitu bersedihnya rasululullah pada masa itu seakan-akan hari Asyura dan peristiwa karbala telah terjadi. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa menangisi Al-Husein as di hari-hari Asyura merupakan sunnah Nabi yang dianjurkan.19

Mengapa Harus Menangisi Al-Husein?
Kita sudah melihat sekilas bahwa Nabi saww pun untuk yang pertama kalinya mengadakan upacara kesedihan atas kesyahidan cucunya Al-Husein as. Tentunya tangisan nabi bukanlah sembarang tangisan, bukan pula tangisan rasul saww disebabkan hanya hubungan nasab dan darah dengan Al-Husein sebagai cucu tersayangnya akan tetapi mengandung makna yang lebih tinggi dari sekedar tangisan tersebut. Sebab seperti yang telah kita ketahui bahwa Nabi tidaklah pernah melaksanakan sesuatu baik itu ucapan, apa yang dilihat dan dilakukannya serta yang didengarnya salahsatunya tangisan ataupun kegembiraan selain dari pada izin dan keridhoan Allah SWT, seperti yang difirmankan Allah SWT :
وَما يَنْطِقُ عَنِ الْهَوى “dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya”20
إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحى “Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”21
ما كَذَبَ الْفُؤادُ ما رَأى “Hatinya (yang bersih) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”22
لَقَدْ كانَ لَكُمْ في‏ رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ “Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu”23
Oleh sebab itu tangisan rasul saww terhadap Al-Husein memiliki nilai lain yang lebih tinggi dari hanya sekedar hubungan keluarga kakek dan cucu, tetapi tangisan yang mengandung nilai risalah untuk agama Islam untuk masa yang akan datang. Risalah tersebut bisa kita sandingkan kepada tangisan rasulullas saww terhadap Al-Husein disebabkan posisi Al-Husein as yang memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah, rasul-Nya dan umatnya. Hal ini bisa kita kaji dalam beberapa sumber kitab ahlussunnah :

A. Tafsir Qur’an Ulama Ahlusunnah
1. Al-Husein merupakan salah satu ahlul bait nabi yang disucikan sehingga jauh daripadanya kenistaan, kekotoran dan dosa:
Ayat Al-Tathir, Qs 33:33, “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu, hai ahlulbait, dan mensucikan kamu sebersih-bersihnya”, Ketika ayat itu turun rasul memasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Huhsein ke dalam jubahnya, terkenal pula dengan hadits Kisa yaitu doa nabi kapada ahlul bait. Jadi yang dimaksud ahlulbait itu adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husein.24
2. Al-Husein adalah salah satu Al-Qurba (Keluarga dekat) yang dimana Allah dan rasul saww sendiri yang mewajibkan kecintaan terhadap mereka seperti yang tertulis pada firman Tuhan.
Ayat al-Muwaddah: Qs:26:23:” “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu suatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kerabat(ku)(Qurba).” Yang dimaksud Qurba disini adalah Ali, Fatimah, Hasan Husein. al-Zamakhshari menyatakan; Telah diriwayatkan bahwa selepas turun ayat di atas ada seseorang berkata; “Wahai Rasulullah saww siapakah qarabat kamu yang diwajibkan ke atas kami untuk mengasihi mereka, “Rasulullah s.’aw menjawab: “Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak mereka (yakni Al-Hasan dan Al-Husein).”25
3. Al-Husein disebut sebagi putra-putranya rasulullah saww, sebagai orang-orang yan terdepan dalam mewakili ummat nabi, dalam bermubahalah dengan para pendeta kaum Najran yang tidak menerima kenabian Muhammad saww.
Ayat Mubahilah : Qs:3:61 “Barang siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu) maka katakanlah (kepadanya) marilah kita memanggil anak-anak kami(Abna’ana) dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami(nisa’ana) dan isteri-isteri kamu, diri kami (anfusna) dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahilah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali Imran: 61)
Imam Kazhim a.s. bersabda: “Pada peristiwa mubahalah dengan para Uskup Kristen Najran, Rasulullah saww hanya membawa Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan dan Husein a.s. Ini berarti, diri (anfusana) berarti Ali bin Abi Thalib, wanita (nisa`ana) berarti Fathimah, dan anak-anak (abna’ana) berarti Hasan dan Husein yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai putra-putra Rasulullah SAWW sendiri”.26
4. Al-Husein merupakan salah satu Ahlul Bait Nabi yang memiliki akhlaq yang mulia sebagai pemimpin ummat yang mendahulukan kepentingan umatnya diatas kepentingan pribadinya.
Surat Al Insan : 5-23 Mengenai pengorbanan Ahlulbait dalam menolong faqir miskin dan yang membutuhkan termasuk didalamnya Al-Husein as . bahwa “ketika al-Hasan dan al-Husein sakit, Lalu Imam Ali as dan Sayyidah Zahra as bernazar diikutipula oleh seorang hamba bernama Fiddah, bernazar jika keduanya (al-Hasan dan al-Husein sembuh mereka akan berpuasa tiga hari. Kemudian keduanya sembuh, tetapi mereka tidak mempunyai apa-apa pun, lalu ‘Ali meminjam dari Syam’aun seorang Yahudi Khaibar sebanyak tiga aswa’ gandum (sya’ir). Fatimah menggiling satu sau ‘an dibuat 5 roti sebanyak bilangan mereka (‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husein dan jariah). Kesemua roti itu diletakkan di hadapan mereka untuk berbuka puasa, tiba-tiba muncul di hadapan mereka seseorang pengemis dan berkata: “As-salamu-‘alaikum Ahlul Bait: berilah aku makan nescaya Allah akan memberi kamu makan daripada hidangan syurga. Maka mereka mengutamakan pengemis tersebut lalu mereka tidur dan tidak makan kecuali air dan besoknya mereka berpuasa lagi, ketika sampai waktu petang dan tangan mereka sedang memegang makanan tiba-tiba muncul seorang yatim berdiri di hadapan mereka, mereka pun memberikan makanan tersebut, dan pada hari yang ketiga datang seorang tawanan meminta-minta makanan, mereka pun memberikan kepadanya seperti hari-hari sebelumnya. Maka pada keesokan harinya, ‘Ali dengan memegang tangan al-Hasan dan al-Husein untuk menemui Rasulullah saww dan ketika Rasul saww melihat mereka dalam keadaan gemetaran dan menggigil kelaparan, Rasul saww bersabda bersabda: apakah yang telah terjadi yang menyebabkanku sedih melihat kalian, lalu rasul saww pun bangun dan pergi bersama-sama mereka dan melihat Fatimah di mihrabnya duduk kelaparan berbongkok sampai bertemu bagian atasnya dengan perutnya dan mencurahkan air matanya, maka keadaaan ini membuat sedih rasulullah saww, kemudian Malaikat Jibrail turun dan berkata: Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah), Allah memberikan tahniah pada Ahlul Bait kamu lalu Jibrail pun membacakan Surah (al-Insaan)” 27
5. dan lain-lainnya di sini hanya beberapa saja yang disebutkan
B. Di dalam kitab Hadits Ahlussunnah diantaranya adalah
1.Di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir, Rasulullah saww telah bersabda:
حسين مني و أنا من حسين أحب الله من أحب حسينا حسين سبط من الأسباط
Husein dariku dan aku pula dari Husein, Allah mencintai siapa saja yang mencintai al-Husein as adapun al-Husein adalah keturunanku putera puteriku (az-Zahra).28
2. Dan Al-Husein as merupakan salah satu imam (pemimpin dunia akhirat) dan wasyi (Wakil) nabi setelahnya bisa dilihat di dalam salah satu kitab aqidah ahlusunnah wal jamaah29
Betapa tingginya Kedudukan Al-Husein as, sehingga tangisan rasul saww sebanding dengan kemuliaannya. Seperti halnya Nabi-nabi sebelumnya yang menangisi putra penerus kenabiannya yang menangisinya ketika kehilangan putra-putra mereka seperti kisah nabi Ya’kub as. Dimana posisi nabi Yusuf as pada saat itu adalah sebagai putra dan penerus risalah ayahnya. Begitu juga Al-Husein as dimana dia sebagai cucu kesayangannya dan sebagai penerus risalahnya, sehingga apabila datang khabar bencana yang akan menimpanya maka sudah sepantasnyalah menangisi Al-Husein sebagaimana Nabi kita saww menangisinya pula.

Penutup
Peristiwa memilukan Karbala dan menangisi serta meratapi Al-Husein adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Rasul saww sendiri. Tangisan ini membawa pengaruh yang besar bagi ajaran nabi saww, dan hari-hari Asyura merupakan hari-hari duka bagi seluruh manusia khususnya kaum muslim tanpa sekat mazhab. Sebab rasul saww sendirilah yang melakukannya. Dengan menjadikan Asyura sebagai duka bersama kaum Muslim disini kita akan menemukan titik persamaan ajaran nabi saww dan juga nilai-nilai kemanusiaan yang bisa diambil daripadanya. Bersama-sama merenungi hikmah dibalik karbala merupakan tugas bersama bagi kaum muslimin, sebab bagaimana mungkin Al-Husein as sebagai junjungan dan pemimpin umat yang harusnya dimuliakan dan dilindungi terbunuh secara keji di padang karbala.Mudah-mudahan Majelis Asyura menjadi subur di sepanjang zaman tanpa sekat-sekat mazhab dan keyakinan.

Daftar Pustaka
1. Shahih Bukhari Bab Janaiz no 1303 (Shamilah), atau Shahih Bukhari jilid II, hal 85 Darul Fikr, Beirut.
2. Shahih Bukhari Bab Janaiz no. 1284 (Shamila), Bab Baka’ ‘alal mait no. 11 Shahih Muslim, atau shahih bukhari hal.147 juz I dan Shahih Muslim jilid 3, hal ke-39 Darul Fikr.
3. Musnad Ahmad no. 4984 (Shamila), Atau Musnad Ahmad jilid ke-2 hal ke-40, Darul Fikri, Beirut.
4. Istii’ab fi Ma’rifat Al-Ashhab jilid ke-1, hal. 243.
5. Musnad Ahmad bin Hanbal no. 3158 (Shamila)
6. Qs : Yusuf : 84
7. Tafsir Al-Kasysyaf jilid II, hal. 339
8. Syarah Shahih Muslim An-Nawawi Juz III, hal. 339 (Shamila) , juz VI hal. 228. Dar Al-Kitab Al-‘Arabi.
9. Qs: Al-An’am :164
10. Tarikh Tabhari, hal 348-349, juz 2 (Shamila), atau juz2, hal 614 (Zikr Wafat Abu Bakar), beirut Al-A’lami.
11. Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid II, hal. 431
12. Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid IV, hal. 1507
13. Musnad Ahmad Juz II, hal 119 (Shamila) hadits ke-613, atau Musnad Ahmad, jilid I, hal.85, Dar Shadr; Majma Az-Zawaid Lilhaitami, jilid IX hal 187, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiah, tahun 1408; Musnad Abi Ya’li Al-Maushuli jilid I, hal.298, Al-Mu’jam Al-Kabir Lithabarani jilid 3, hal.105, hadits ke-2811, Kanz Al-‘Umal jilid 13, hal. 655 hadits 37663.
14. As-Sawa’iq Al-Muhriqah hal 193
15. A’lam An-Nubuwwah,bab ke-12, hal. 23.
16. Mu’jam Al-Kabir jilid III, hal. 107, hadits ke-2814 dan 2815 (Shamila), Al-Haisyami di dalam Majma’ Az-Zawaid jilid 9, hal. 188.
17. Al-Bukhari dalam Tarikh Al-Kabir jilid III hal. 324 hadits 1098, Sunan At-Tirmidzi, Jilid 13, hal. 391 , hadits ke-4140 (Shamila); Al-Mustadrak Al-Hakim jilid IV, hal. 19
18. Musnad Ahmad juz I , hal. 283
19. Al-Khashaish Al-Huseiniyyah, hal. 105-232
20. Qs: An-Najm:3
21. Qs: An-Najm:4
22. Qs: An-Najm:11
23. Qs: Al-Ahzab :21
24. lihat kitab sumber riwayat Ummu salamah : al-Dur- al-Manthur karangan al-Suyuti, hadis dikeluarkan oleh al-Tabrãni daripada Umm Salamah, jilid 5 hlm 198-199; Sahih tirmidzi, jilid 13, hlm 246; Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 306, Sahih Muslim, jilid 7, hlm. 120, dan lain-lain
25. Zamaksyari dalam tafsir al-kasysyaf
26. Imam Fakhruddin Ar-Razi di dalam At-Tafsirul Kabirnya
27. Al-Zamakhshari dari Ibn Abbas rd
28. Al-Mu’jam Al-Kabir juz 22, hal 274, hadits ke-702
29. Yanabi’ Al-Mawaddatah lidzawil Qurba juz III hal. 353.

Disarikan dari :
1. Al-Quran
2. Al-Hadits
3. Kitab Muqaddimah “Al-Majalis Al-Fakhirah fi ma’tam al-itrati an-nabi”, muallif As-sayyid ‘abdul Al-husein syarafi ad-din, penerbit al-haqaiq
4. Kitab “liyali baisyawar munadharah wal hiwar” muallif As-sayyid Muhammad Al-Musawi As-Syirazi, penerbit Dar al-Qari
5. Maktabah Shamila

(Pernah Dimuat Di http://www.islamalternatif.net)
Penyusun :Zen S.Si Mahasiswa Internasional University of Ali Al-Bait Qom Iran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: